Logo Header Antaranews Makassar

Perguruan Tinggi Perlu Kembangkan Pendidikan Karakter

Sabtu, 24 April 2010 19:23 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Koordinator Kopertis IX Sulawesi, HM Basri Wello meminta perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan lainnya mengembangkan pendidikan karakter, agar budaya asli ketimuran yang mulai memudar bisa dikembalikan lagi.

Budaya kekerasan di lingkungan kampus maupun sekolah-sekolah mendominasi sistem kurikulum pendidikan negeri ini, masyarakat kini begitu mudah marah dan meluapkan kemarahannya dengan cara kekerasan.

"Sopan santun tidak lagi mewarnai tata pergaulan kita sehari-hari. Pendidikan karakter penting dikembangkan dengan nilai-nilai etika, seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, serta rasa hormat kepada diri sendiri dan kepada orang lain," kata Basri Wello di Makassar, Sabtu.

Nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya diharapkan mampu diterjemahkan dalam bentuk perilaku yang terjadi dalam kehidupan sekolah dan lembaga pendidikan sehari-hari, dengan melakukan kajian serta diskusi.

"Karakter yang baik mencakup pengertian, kepedulian, dan tindakan berdasarkan nilai-nilai etika inti. Pendekatan holistik dalam pendidikan karakter sebaiknya diupayakan berkembang di seluruh aspek kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral," ujarnya.

Dia mengharapkan, lembaga pendidikan dan perguruan tinggi mampu mengembalikan budaya asli ketimuran, yang penuh dengan sopan santun, saling menghormati, saling menghargai, saling membantu, dan sebagainya.

"Sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan harus berkomitmen mengembangkan karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai etika dan nilai kinerja pendukungya," ungkapnya.

Humas Kopertis IX Sulawesi, Asnawin mengatakan sehubungan dengan itulah, Ditjen Dikti Depdiknas menyelenggarakan sarasehan nasional pendidikan karakter di berbagai kota se-Indonesia, termasuk di Makassar.

"Sarasehan di Makassar sudah dilaksanakan Kopertis IX pada pekan pertama April ini. Pelaksanaan kedua tengah dilaksanakan di Menado, Sulawesi Utara, pada Sabtu (24/4)," kata dia.

Sarasehan itu menghadirkan Mendiknas Muhammad Nuh sekaligus menjadi pembicara utama, dan pembicara lain yaitu Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi HM Basri Wello, Gubernur Sulut Drs SH Sarundajang, serta dua tokoh pendidikan di Manado, Prof Dr HT Usup dan DR Max Ruindungan.

Hasil dari sarasehan di Makassar dan Manado akan dirumuskan oleh tim yang dibentuk Kopertis IX Sulawesi dan kemudian disampaikan kepada Ditjen Dikti Depdiknas sebagai bahan masukan untuk penyusunan kurikulum pendidikan karakter, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi.
(T.KR-HK/S016)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026