
Objek Wisata Makassar Semakin Memprihatinkan

Makassar (ANTARA News) - Sejumlah objek wisata Makassar semakin memprihatinkan menyusul banyaknya tempat bersejarah yang berpotensi menjadi objek daya tarik wisata Makassar tidak terawat.
Kepala Badan Pengurus Cabang (BPC) PHRI Makassar, Kwandi Salim saat ditemui di Makassar, Rabu, menyayangkan banyaknya tempat bersejarah yang tidak terurus seperti Monumen Mandala, Tugu Peringatan korban 40.000 jiwa dan beberapa objek-objek sejarah lainnya.
"Seharusnya pemerintah bisa merawat objek peninggalan sejarah itu, karena tempatnya menarik dijadikan paket 'city tour' bersejarah. Jangan dibiarkan objek-objek itu seperti tugu korban 40.000 ribu jiwa menjadi sarang kambing," kata dia.
Sebaiknya daerah-daerah yang menggambarkan sejarah Makassar di masa lalu itu dijadikan sebagai icon wisata untuk menarik minat wisatawan asing datang berkunjung di daerah ini.
Sejarah kekejaman Westerling di masa penjajahan belanda yang telah menghabisi 40.000 korban jiwa di masa itu, lanjut dia bisa dijadikan sebagai objek wisata yang bisa mengundang minat wisatawan asal negeri Belanda untuk berkunjung dan mengetahui bagaimana kondisi Makassar di saat penjajahan pemerintahan mereka.
"Mengapa pemerintah kita tidak seperti di Vietnam yang mengabadikan tempat sejarah pembantaian tentara Amerika di sana. Mengangkat nilai sejarah di masa lalu menarik dijadikan sebagai objek daya tarik wisata," ungkap dia.
Demikian pula dengan Monumen Mandala yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Makassar yang mengingatkan bagaimana perjuangan dalam pembebasan Irian Barat di masa penjajahan dulu.
"Jangan hanya menarik retribusi pengunjung di Gedung Monumen Mandala, sementara kondisi bangunan dan lingkungan sekitarnya tidak terawat," ucap dia.
Selain itu, kata dia potensi wisata budaya seperti benteng Rotterdam, Makam Sultan Hasanuddin hingga pelabuhan tradisional "paotere" seharusnya menjadi perhatian pemerintah setempat dengan melibatkan partisipasi masyarakat untuk menjaga simbol-simbol budaya di kota ini. (T.KR-HK/S006)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
