
BRI Tingkatkan Plafon KUR

Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Bank Rakyat Indonesia (BRI) mulai Oktober ini meningkatkan plafon pinjaman untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp5 juta/orang menjadi Rp20 juta/orang.
Pemimpin Cabang BRI Bantaeng Widayat di Bantaeng, Jumat, mengatakan hal itu saat melakukan silaturahmi, sekaligus perkenalan dengan Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah di ruang kerja Bupati.
Widayat merupakan Pemimpin Cabang BRI Bantaeng yang baru menggantikan Rudy Andimono yang mendapat tugas baru sebagai Pimcab BRI Bondowoso, Jawa Timur. Sebelum ke Bantaeng, Widayat menjabat Pimcab BRI Tidore di Maluku Utara (Malut).
Dia mengatakan, peningkatan plafon kredit untuk KUR tersebut bertujuan untuk membantu pengusaha mikro kecil. Karena itu, dia berharap, pengusaha di daerah ini memanfaatkan kesempatan tersebut.
Data BRI Cabang Bantaeng menunjukkan, penyaluran KUR (hingga Juli 2010) di kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar mencapai Rp6,6 miliar. Dana KUR tersebut dinikmati 1.577 nasabah yang merupakan pelaku Usaha Kecil Menengah dan Mikro (UKM).
Sedang jumlah kredit komersial yang sudah disalurkan hingga posisi Juli 2010 sebesar Rp25,7 miliar. Untuk penyaluran Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) pada posisi yang sama, BRI mencatat Rp35,4 miliar.
Pimcab BRI Bantaeng yang baru itu berharap, perbankan di daerah ini bisa lebih hidup melalui pemberian kredit, terutama kepada pengelola kegiatan di daerah ini.
Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah menyambut baik kesiapan BRI mendukung pembangunan di daerah ini dalam bentuk penyediaan kredit termasuk KUR yang sudah banyak dinikmati. Bantuan dana tersebut akan sangat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di daerah ini.
Kabupaten Bantaeng, terang Bupati kini memiliki industri pengolahan ikan milik PT Global Seafood International Indonesia (GSII), perusahaan kemitraan Indonesia ? Jepang.
Produksi dari industri tersebut dalam bentuk surimi beku (frozen surimi) diekspor ke Negeri Matahari Terbit tersebut. Selain mengelola ikan, perusahaan mitra Indonesia itu juga mengekspor talas safira, juga ke Jepang.
Untuk memenuhi kebutuhan industri yang berpangkalan di Kecamatan Pajukukang itu, dibutuhkan rekayasa teknologi, sebab lahan di Bantaeng sangat terbatas. "Karena keterbatasan lahan, tidak ada jalan lain, hanya teknologi yang bisa meningkatkan produksi," ucap Bupati.
(T.pso-102/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
