
Mimpi Makassar Masih Terganjal Anak Jalanan

Makassar (ANTARA News) - Kota Makassar yang merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan pada usianya yang ke-403 mencoba meraih mimpi menjadi kota dunia.
"Kami bertekad Makassar dapat menjadi kota dunia dengan segala fasilitas yang didukung sumber daya manusia yang handal," kata Wali Kota Makassar H Ilham Arief Sirajuddin pada saat peringatan Hari Jadi Kota Makassar, 9 November 2010.
Tekad dari seorang wali kota yang telah menjabat dua periode itu, sebagian kalangan menilai sebagai hal yang muluk-muluk. Namun Ilham tetap ingin menunjukkan bahwa apa yang didambakan itu akan terwujud.
Promosi dalam bentuk pertukaran informasi ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke luar negeri pun dilakukan bersama duta wisatanya.
Nakhoda Pemerintah Kota Makassar patut berbangga ketika mendapatkan berbagai penghargaan seperti Satyalencana Pembangunan dan menjadi perwakilan Indonesia dalam memperebutkan Penghargaan Kota Bersih Berwawasan Lingkungan atau Environment Sustainable City (ESC) tingkat ASEAN periode 2010.
Bahkan Ilham yang mengawaki 1,4 juta penduduk Kota Makassar ini, juga sempat mendapatkan undangan khusus dari Pemerintah Jepang untuk mempresentasikan konsep mitigasi dan adaptasi daerah pesisir dengan mengambil sampel revitalisasi Pantai Losari.
Segudang penghargaan yang menunjukkan kemampuan Pemkot Makassar mampu "unjuk gigi" di tingkat nasional hingga internasional, untuk menjadi kota yang mendunia, ternyata masih banyak tantangan yang mengahadang.
Staf ahli Bidang Perekonomian Pemerintah Kota Makassar, Dr Abdul Madjid Sallatu mengatakan, untuk menjadi kota dunia, Makassar harus merevitalisasi perencanaan pembangunannya dengan mengambil referensi dari India dan China.
Menurut dia, revitalisasi tersebut harus memperhatikan empat indikator penting, yakni arus manusia, bagaimana fungsi kota bekerja, geliat bisnis, serta organisasi yang terakomodasi dalam kehidupan perkotaan.
Apabila keempat komponen itu terpenuhi, barulah kota yang berjulukan "anging mammiri" ini dapat melangkah menjadi kota dunia.
Perhatikan Aspek Sosial
Salma Ruslan dari Lembaga Studi Kebijakan Publik di Makassar mengatakan, selain memperhatikan aspek infrastruktur, juga harus memperhatikan aspek sosial.
Dalam hal ini, katanya, persoalan kemiskinan dan anak jalanan harus menjadi agenda pokok yang wajib dibenahi.
Berdasarkan data BPS Sulsel diketahui, di Makassar masih terdapat 8.539 Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemkot Makassar.
Sementara jumlah anak jalanan di Makassar menjelang akhir 2010, sempat meningkat menjadi 1.000 orang, padahal pada akhir 2009 hingga awal 2010 sempat dibawah 500 orang ketika Perda nomor 2 Tahun 2008 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis dan pengamen mulai diterapkan.
Menurut Kepala Dinas Sosial Kota Makassar H Ibrahim Saleh, dari hasil pendataan di lapangan diketahui, anak jalanan dan gepeng umumnya berasal dari luar Kota Makassar.
"Anak jalanan dan gepeng yang terjaring di jalan, sebelum dikembalikan ke orang tuanya, terlebih dahulu dimasukkan di panti rehabilitasi," katanya.
Bagi orang tua anak jalanan yang berstatus pengangguran, ujarnya, juga diberi bekal keterampilan dan modal untuk dapat mandiri, kemudian memberi kesempatan pada anak-anaknya bersekolah dan tidak turun ke jalan lagi.
Hanya saja, fenomena di lapangan tidak dapat dipungkiri, sebagian diantara yang sudah dibina Dinas Sosial itu, akan kembali ke jalan pada musim tertentu, misalnya menjelang hari raya.
Bahkan biasanya muncul lagi anak jalanan baru baik yang berasal dari Makassar ataupun yang berstatus urban.
Semua persoalan sosial itu tidak dapat ditawar-tawar lagi untuk segera dicarikan solusi, sehingga tidak akan menjadi "momok" di tengah kemegahan Kota Makassar ketika sudah berubah wujud menjadi kota dunia.(.S036/H-KWR)
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
