
Gerindra Target 1.800 Kursi di Pemilu 2014

Makassar (ANTARA News) - Partai Gerakan Indonesia Raya menargetkan dapat menguasai sekitar 1800 kursi legislatif se Indonesia pada pemilihan umum 2014, dengan berfusinya tujuh partai lain ke partai yang didirikan Prabowo Subianto tersebut.
"Saat ini Gerindra hanya menduduki 600 kursi mulai dari tingkat DPR pusat hingga DPRD kabupaten dan kota. Bergabungnya tujuh partai lain akan menambah kekuatan legislatif kami menjadi tiga kali lipat," kata Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Gerindra Suhardi di Makassar, Senin.
Ia menyebutkan, tujuh partai yang telah menyatakan bergabung yakni PNI Marhaen, Partai Buruh, Partai Merdeka, Partai Kedaulatan, Partai Bintang Reformasi, Partai Peratuan Nahdlatul Ummah Indonesia, dan Partai Sarikat Indonesia.
Namun, kendati proses fusi sudah dimulai, untuk saat ini belum ada rotasi dan penyesuaian jabatan secara penuh di struktur Gerindra. Sebab, masih banyak kader partai yang bergabung itu, sementara menjalankan tugasnya sebagai anggota DPRD mewakili partai mereka.
Namun ia meyakinkan, pada pemilu 2014 nanti, mereka akan melebur secara total kedalam tubuh Gerindra.
"Kader partai lain yang tidak menjabat sebagai pengurus inti dipartainya atau tidak menjabat sebagai anggota DPRD mewakili dirinya, sudah bisa bergabung dari sekarang. Diluar itu, harus menunggu pemilu nanti," ujarnya.
Suhardi menambahkan, telah terjadi kecendrungan positif pada perkembangan Gerindra, disaat partai-partai lain mengalami penurunan dan perpecahan.
Hal tersebut terjadi sebab kader-kader baik di pusat maupun di daerah tidak pernah berhenti bekerja menjalankan roda organisasi dengan baik dan efektif.
Kinerja positif itu juga terlihat dari hampir rampungnya proses verifikasi struktur yang saat ini sudah mencapai 60 persen.
"Mudah-mudahan kami bisa tuntaskan sebelum batas waktu verifikasi yang berakhir Agustus mendatang," katanya. (T.KR-AAT/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
