
Labiota Farm Kembangkan Budidaya Stroberi di Malino

Gowa, Sulsel (ANTARA News) - Yayasan Labiota Farm mengembangkan perkebunan stroberi di kawasan agrowisata Malino, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Pendiri Labiota Farm dari Universitas Hasanuddin (Unhas), DR. Ir. Baharuddin, Dipl.Ing.Agr saat melakukan kunjungan di kawasan Malino, Minggu, menjelaskan pihaknya tengah melakukan budidaya tanaman stroberi dengan memanfaatkan paket teknologi kultur dan sistem budidaya "Hidroponik".
"Pengembangan tanaman stroberi ini memang khusus kami perkenalkan bagi kelompok wanita tani. Komoditas tanaman seperti kentang yang selama ini dikembangkan laki-laki tani, kemungkinan teknologi ini coba kami perkenalkan bagi kelompok ibu tani," ucap dia.
Pengembangan buah stroberi, menurut dia, cukup memberikan prospek yang menjanjikan bagi pendapatan masyarakat di daerah itu, karena tanaman ini memiliki nilai jual yang tinggi dan mampu menjadi objek menarik di daerah Malino sebagai kawasan agrowisata.
"Buahnya yang manis, warnanya yang menarik dan buahnya berbentuk hati memiliki prospek yang menjanjikan," ucap dia.
Apalagi, menurut dia kawasan agrowisata Malino telah menjadi salah satu tujuan destinasi wisata andalan Sulsel sehingga hamparan perkebunan stroberi milik masyarakat setempat memiliki estetika yang menarik untuk dikembangkan sebagai objek wisata baru.
Tanaman yang hanya bisa hidup di dataran dengan ketinggian minimal 1.000 meter dari permukaan laut (mdpl) itu, katanya, cukup menarik dikembangkan di kawasan Malino yang ketinggiannya mencapai 1.500 mdpl dengan kelembaban udara yang cocok untuk tanaman subtropik ini.
Peneliti Pertanian asal Unhas ini sudah mulai memperkenalkan teknologi pembudidayaan stroberi yang dikembangkan di daerah itu untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap bibit hasil kultur jaringan yang banyak didatangkan dari Amerika Serikat dan New Zealand.
Dia mengaku, tidak gampang mengembangkan tanaman stroberi apalagi di saat musim hujan karena kondisi udara yang sangat lembab bisa menyebabkan buah gampang busuk.
Demikian juga di saat musim kemarau, penyiraman dengan menggunakan air yang tidak higienis bisa menyebabkan tanaman terserang hama seperti penyakit layu dan cendawan lainnya. "Jika budidaya dilakukan secara benar dan baik, petani bisa memperoleh hasil yang lebih memuaskan," ucap dia.
Kepala Pusat Kegiatan Penelitian Bioteknologi Pertanian Unhas ini telah mengembangkan paket pemanfaatan teknologi lokal berupa penggunaan bibit kultur jaringan bebas hama yang telah memperoleh dukungan pembiayaan dan rekomendasi dari Iptekda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Selain itu, Labiota Farm juga telah mengembangkan penggunaan rumah pembibitan modern atau "green house" plastik yang dapat menjamin keberlangsungan produksi tanaman stroberi itu di saat musim hujan.
Dia mengaku, pihaknya juga tengah melakukan pengembangan tanaman stroberi dengan menggunakan sistem "hidroponik" yang dapat lebih mengoptimalkan efisiensi kebutuhan air dan hara untuk mendukung peningkatan produktivitas tanaman subtropik tersebut.(T.KR-HK/H-KWR)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
