
MAHASISWA UNHAS TUNTUT HARGA BBM TURUN 50 PERSEN

Makassar, 10/11 (ANTARA) - Puluhan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam Front Perjuangan Mahasiswa Unhas (FPMU) di Makassar, Senin, berunjukrasa menuntut penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 50 persen.
Mereka mendesak hal itu, karena alasan pemerintah menaikkan harga BBM bulan Mei 2008 lalu adalah untuk mengikuti harga minyak dunia.
Sementara saat ini, krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat telah berdampak pada turunnya harga minyak dunia yang sampai hari Senin ini, mencapai 63,7 dollar US per barel atau turun berkisar 49 persen.
Artinya, menurut pengunjukrasa, jika mengikuti alasan pemerintah menaikkan harga beberapa bulan lampau, maka hari ini pun BBM harus turun sebesar 50 persen.
Dengan kata lain, pemerintah harus menurunkan harga bensin dari Rp6.000 menjadi Rp3.000/liter dan menurunkan harga minyak tanah dari Rp2.500 menjadi Rp1.250/liter, serta solar dari Rp5.500 menjadi Rp2.750/liter.
Dalam orasinya, para pengunjukrasa menyatakan ketidaksetujuannya pada rencana pemerintah menurunkan harga bensin yang hanya Rp500 atau hanya berkisar 9 persen.
Itupun tidak mengikutsertakan penurunan harga bahan bakar lainnnya seperti solar dan minyak tanah.
Penurunan harga itu, kata mereka, tidak rasional dan tidak obyektif, karena penurunan harga bensin Rp500 tidak akan pernah bisa menurunkan harga-harga barang lainnya.
Mereka mengingatkan, pada saat pemerintah menaikkan harga BBM 28 Mei 2008 lalu, membuat puluhan mahasiswa dan rakyat Indonesia mendapat tindakan represif karena mengkritik kebijakan tersebut.
Padahal Kebijakan itu telah mengakibatkan melonjaknya harga bahan pangan, biaya transportasi dan mendongkrak tingkat kemiskinan rakyat Indonesia.
Menurut data Bank Dunia, 109.000 jiwa penduduk Indonesia berada di garis kemiskinan pasca kebijakan tidak populer tersebut.
Dalam unjukrasa yang berlangsung sekitar satu jam itu, para mahasiswa menuntut sejumlah hal seperti turunkan harga BBM sebesar 50 persen, nasionalisasikan aset tambang, hentikan bayar utang luar negeri dan peruntukkan bagi subsidi rakyat, pajak progresif bagi barang mewah serta sita harta koruptor.
Unjukrasa yang dilakukan di badan jalan itu sempat memacetkan arus lalulintas di dalam kampus merah tersebut.
Sebab, sejumlah mahasiswa lainnya yang bermaksud mengikuti perkuliahan menyaksikan aksi mereka, sekaligus memberi simpati. ***8***
(T.PK-AAT/B/F003/F003) 10-11-2008 17:09:19
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
