
216 Hektare Tanaman Padi di Polman Puso

Polman, Sulbar (ANTARA News) - Sekitar 216 hertare tanaman padi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mengalami kekeringan akibat musim kemarau dan dipastikan puso.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Polman, Syaharuddin Haruna di Polman, Senin mengatakan, dari 216 hektare lahan yang kekeringan dan dipastikan puso adalah milik sembilan kelompok tani di Kecamatan Binuang dan beberapa hektare lainnya di kecamatan Mata Kali sementara diidentifikasi.
"Sembilan kelompomk tani di Binuang yakni kelompok tani Pelita di desa Mammi seluas 23 hektare, Kelompok tani Botto Desa Kuajang seluas 32 hektare, kelompok tani Sippajo Desa Paku 16 hektare, kelompok tani Passubbe Desa Paku 24 hektare, dan kelompok tani Ingin Bahagia Desa Mirring seluas 27 Hektare," sebutnya.
Selain itu, kelompok tani Garoggo Indah di Desa Mirring seluas 28 hektare, kelompok tani Lamassapa di Desa Kuajang seluas 32 hektare, kelompok tani Amola di Desa Tonyaman seluas tujuh hektar, dan kelompok tani Batutu Supatuo di Desa Mirring seluas 27 hektare.
Syahruddin mengatakan, Distanak masih sementara melakukan identifikasi pada beberapa lahan persawahan di Polman yang terindikasi kekeringan dan puso, di antaranya Kecamatan Matakali yang selama ini sempat diterima adanya laporan tentang bencana tersebut.
"Namun ada beberapa hektare lahan persawahan lainnya yang dianggap terkena kekeringan dan puso yang dilaporkan warga tidak sesuai kenyataan di lapangan dan hal tersebut tidak benar sesuai pantauan tim teknis lapangan Distanak yang mengidentifikasi lahan dimaksud," ungkapnya.
Lahan tersebut dinyatakan bukan merupakan puso, sebab sejak lama tidak ditanami oleh pemiliknya yang memang termasuk dalam kategori lahan tadah hujan dan biasanya hanya ditanami sekali dalam satu tahun saat memasuki musim penghujan.
Itupun kata dia, beberapa hektare lahan persawahan di sejumlah kecamatan yang lahan irigasinya sementara direnofasi masih bisa tetap berfungsi maksimal dengan masa tanam dua hingga tiga kali dalam satu tahun.
"Bencana kekeringan dan puso di Polman baru terjadi tahun ini dan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab, di antaranya siklus cuaca yang tidak mendukung, sehingga debet air di beberapa kecamatan mengalami penurunan," terangnya.
Berbeda dengan tahun lalu, Syahruddin mengaku debet air sangat besar, bahkan menyebabkan banjir di beberapa kecamatan dan salah satunya akibat belum maksimalnya fungsi irigasi yang saat ini sementara direnovasi.
(T.PSO-284/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
