
DPP Askindo : Hentikan Pengadaan Bibit Gernas Kakao

Makassar (ANTARA News) - Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Kakao Indonesia (DPP Askindo) meminta kementerian pertanian menghentikan sementara pengadaan bibit dalam program Gerakan Nasional Peningkatan Mutu dan Produksi Kakao di Sulawesi Selatan.
Ketua Umum DPP Askindo, Zulkifli Sihombing di Makassar, Jumat, mengatakan, bibit pohon kakao jenis Somatic Embryogenesis (SE) dianggap tidak cocok dikembangkan di Indonesia, karena bibit itu masih dalam tahap ujicoba.
"Bibit ini masih dalam tahap ujicoba, tetapi kenapa dipaksakan digunakan kepada petani. Masih banyak bibit yang bagus, kenapa harus gunakan bibit yang belum kita tahu hasilnya," kata dia.
Bibit yang diproduksi Pusat Penelitian Kakao dan Kopi di Jember ini, belum ada jaminan cocok dengan kondisi perkebunan di Indonesia. "Seharusnya pihak kementerian melakukan penelitian di daerah-daerah. Jangan petani dijadikan objek proyek," ucap dia.
Menurut Ketua DPD Askindo Sulawesi Selatan, Yusa Rasyid Ali pengadaan bibit pohon SE sudah berjalan sejak tahun 2009, tetapi tingkat produktifitasnya masih sangat rendah.
"Kelemahan bibit ini banyak sekali. SE tidak tahan hama, produksi bijinya kecil, tidak memiliki akar tunggang, tanamannya naik keatas tidak melebar seperti kualitas bibit lainnya," keluh dia.
Pengadaan bibit kultur jaringan yang biasa disebut "SE" ini dikhawatirkan akan mempengaruhi tanaman perkebunan petani, karena hasilnya tidak terlalu bagus. Padahal, banyak penangkar bibit sambung pucuk di Sulsel yang memiliki kualitas lebih bagus tetapi tidak pernah diberdayakan pemerintah.
"Saat ini saja ada sekitar 1 juta bibit pohon yang siap pakai. Bibit sambung pucuk yang dikembangkan penangkar lokal ini sudah banyak yang dipakai petani dan hasilnya jauh lebih bagus," ucap dia.
Harga bibit ini jauh lebih murah hanya sekitar Rp6.500 per pohon, berbeda dengan bibit SE yang mencapai Rp8.000 per pohon. "Data Disperindag Sulsel menyebutkan, total anggaran pengadaan bibit SE yang digelontorkan di Sulsel selama Rp112 miliar. Anggaran itu turun sejak tahun 2009 hingga 2011," ujarnya.
Dia menambahkan, program peremajaan tanaman kakao melalui Gernas Kakao tidak akan berhasil jika pemerintah masih memaksakan petani melakukan pengadaan massal bibit pohon SE itu. (T.PSO-282/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
