
Perusahaan Sawit Desa Bojo Picu Konflik Horizontal
Kamis, 12 Januari 2012 19:48 WIB

"Sebagian besar masyarakat di Desa Bojo Kecamatan Budong Budong menolak hadirnya perusahaan sawit PT Wahana Karya Sejahtera Mandiri (WKSM), untuk membuka areal perkebunan sawit, namun perusahaan itu tetap memaksakan kehendak," kata Edi Sumarlin salah seorang warga Desa Bojo di Mamuju, Kamis.
Ia mengatakan, warga tiga dusun di Desa Bojo diantaranya dusun Benteng Situru, Benteng Sejati dan dusun Buntu Marannu Desa Bojo Kecamatan Budong Budong yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari Kota Mamuju, telah menyatakan penolakannya.
"Penolakan tersebut telah disampaikan ratusan masyarakat Bojo ke DPRD Kabupaten Mamuju pada saat warga melakukan unjuk rasa pada tahun lalu, namun sepertinya PT WKSM, tetap ngotot membuka areal perkebunan sawit di Desa Bojo, tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat," katanya.
Ia mengatakan, tindakan PT WKSM yang memaksakan kehendak itu, bisa memicu terjadinya konflik horizontal dimasyarakat, karena hanya sebagian masyarakat yang bisa menerima kehadiran perusahaan perkebunan sawit yang asalnya juga tidak diketahui masyarakat.
"Perusahaan sawit itu telah beberapa kali hendak membawa alat beratnya memasuki desa bojo dengan berbagai alasan diantaranya membangun jalan dan membuka lahan sawit, tetapi selalu dihadang warga sehingga niat perusahaan itu batal,"katanya.
"Pemerintah jangan membiarkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti yang terjadi di daerah lainnya di Indonesia, masyarakat jadi korban perusahaan sawit, apabila perusahaan tersebut tetap nekad membuka areal perkebunan sawit karena warga juga tidak rela lahannya dijadikan perkebunan sawit," katanya.
Menurut dia, warga Desa Bojo lebih memilih daerahnya dibuka untuk areal pertanian padi daripada sawit karena pemerintah di Kabupaten Mamuju juga berjanji akan membuka lahan pertanian padi di Desa Bojo, karena potensi lahan yang bisa dikembangkan menjadi areal persawahan baru cukup luas mencapai 760 hektare.
"Kami memilih daerah kami dibuka melalui program percetakan sawah untuk membuka areal pertanian padi daripada sawit karena tanaman padi kami anggap lebih menjanjikan kesejahteraan kami dari pada perkebunan sawit," katanya. (T.KR-MFH/M027)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
