Logo Header Antaranews Makassar

KRI Sebatik Halau 59 Imigran Gelap

Senin, 4 Juni 2012 15:40 WIB
Image Print
Kupang (ANTARA News) - KRI Sebatik yang sedang melakukan patroli di wilayah perairan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (3/6), berhasil menghalau sebuah kapal motor yang mengangkut 59 imigran gelap asal Timur Tengah yang hendak menyeberang ke Australia.

Kepala Imigrasi Kupang Silvester Sili Laba ketika dikonfirmasi di Kupang, Senin, membenarkan hal itu dan mengatakan para imigran tersebut sudah diserahkan TNI-AL kepada aparat Kepolisian Resor (Polres) Sumba Timur di Waingapu, Pulau Sumba untuk tindakan pengamanan.

"Kami akan segera mengirim petugas imigrasi ke Waingapu untuk melakukan pemeriksaan," katanya seraya menambahkan 51 dari 59 imigran gelap tersebut berasal dari Irak, enam dari Iran serta dua orang lainnya masing-masing dari Suriah dan Kuwait.

"Mereka ingin mencari ketenangan hidup di negara lain, karena situasi keamaman dan politik di negaranya masing-masing tidak kondusif. Salah satu negara tujuan para imigran tersebut adalah Australia. Indonesia hanya sebagai tempat persinggahan," katanya, menjelaskan.

Silvester mengatakan posisi pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Australia, seperti Pulau Rote yang letaknya di bagian selatan Indonesia, menjadi incaran para imigran.

"Para imigran kemudian menyewa perahu milik nelayan setempat untuk kemudian memenyeberang ke Australia dengan terlebih dahulu mendarat di Pulau Pasir (ashmore reef) yang hanya ditempuh enam jam pelayaran dari Pulau Rote," paparnya.

Namun, pulau-pulau kecil di sekitar Rote Ndao tidak lagi dijadikan sebagai "jembatan penyeberangan" menuju Australia, karena ada peningkatan patroli terhadap para imigran yang hendak menyeberang ke Australia secara ilegal.

"Sekarang, para imigran langsung menyewa perahu atau kapal motor dari daerah lain di Indonesia untuk menyeberang ke Australia, seperti yang dilakukan 52 orang (satu di antaranya meninggal dunia) imigran asal Timur Tengah dari Manado, Sulawesi Utara, pekan lalu," tuturnya.

Para imigran tersebut masih diamankan di Weetebula, Sumba Barat Daya di Pulau Sumba dan akan dievakuasi ke Kupang pada Rabu (6/6) untuk ditampung di rumah detensi imigrasi (rudenim) Kupang.


Kelebihan kapasitas


Silvester mengakui rudenim Kupang saat ini sudah "over" (kelebihan) kapasitas untuk menampung para imigran gelap dari Timur Tengah, karena kapasitas yang tersedia hanya untuk menampung 66 orang.


"Saat ini, para imigran gelap yang tertampung di rudenim Kupang sebanyak 137 orang, sehingga tidak mungkin lagi untuk menampung 51 orang imigran yang saat ini di Sumba Barat Daya," ucapnya.

Ia menambahkan pihaknya akan mencari rudenim lain di Indonesia untuk menampung para imigran tersebut, karena tidak ada satu pun imigran mau dideportasi ke negara asalnya.

"Mereka menolak untuk dideportasi, dan terus menuntut untuk mendapat suaka ke Australia," katanya seraya menambahkan untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya bekerja sama dengan organisasi imigrasi internasional (IOM) untuk memfasilitasinya.

Silvester mengatakan pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan pihak kedutaan masing-masing imigran, namun mereka tetap menuntut minta suaka ke Australia, karena tidak ada jaminan keamanan dan kehidupan yang lebih baik di negara asalnya.

"Karena kondisi keamanan di negara asalnya, membuat para imigran itu tetap ngotot minta suaka ke Australia. Namun, hal itu bukan menjadi kewenangan kita, melainkan IOM dan Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR)," demikian Silvester Sili Laba. (T.L003/C004)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026