
DPRD : Program Gernas Kakao Perlu Dievaluasi

"Tidak ada yang nampak dari hasil kakao melalui program gernas. Bahkan nilai ekspor cenderung menurun dari tahun ke tahun," kata anggata Komisi B DPRD Sulsel, Jumadi Haruna di Makassar, Kamis.
Menurutnya, anggaran yang digelontorkan cukup besar mulai pada 2009 sekitar Rp347 miliar hingga kemudian ditambah pada 2012 sebesar Rp 240 miliar.
"Harusnya produksi kakao meningkat, ini malah sebaliknya tidak menghasilkan apa-apa padahal programnya sudah tiga tahun. Jelas kita akan bicarakan dengan pimpinan untuk dilakukan evaluasi," ungkapnya.
Dengan program gernas kakao di Sulsel, tambah dia, dikatakan program tersebut gagal, hal itu disebabkan nilai ekspor terus merosot dan tidak menghasilkan Pendapat Asli Daerah (PAD) seperti yang diharapkan.
"Petani kakao sudah mulai jenuh dengan persoalan tanaman ini. Gernas yang seharusnya menjadi solusi malah tidak memberikan hasil maksimal," keluhnya.
Berdasarkan data, sebut dia, jumlah petani kakao Sulsel mencapai 297.370 Kepala Keluarga (KK) per akhir Desember 2011 diperkirakan terus menurun di tahun ini.
"Beberapa petani mulai mengeluh dan berlalih ke komuditas lain yang lebih menjamin. Padahal Sulsel merupakan daerah penghasil kakao. Data yang disebutkan tadi itu dipastikan berkurang tahun ini," sebutnya.
Daerah penghasil kakao, menurut dia, ada sekitar 13 daerah di Sulsel seperti Luwu, Luwu Timur, Enrekang, Toraja serta beberapa daerah lainnya. Rata-rata produktifitas kakao di daerah-daerah itu mencapai 866,75 kilogram (kg) per hektar atau mencapai 196.695 ton per tahun.
Data Asosiasi Pengusaha Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel disebutkan, ekspor kakao Sulsel mencapai 165.108 ton selama tahun 2010 turun hingga 72.790 ton pada tahun 2011. Pada Mei 2012, ekspor kakao Sulsel hanya sebesar 3.889 ton, dan terus menurun drastis dari periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 11.279 ton.
"Ekspor tahun ini untuk Sulsel karena kualitas produksi yang semakin menurun, akibatnya ekspor kakao yang berasal dari pintu keluar Sulsel didominasi dari produksi kakao Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara," katanya.
(T.KR-DF/A023)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
