
Pengemis Menuai Rezeki Berlimpah di Hari Idul Kurban

Seiring dengan datangnya para jemaah berbondong-bondong menuju masjid, situasi itu dimanfaatkan sejumlah pengemis baik yang cacat permanen seperti tidak mempunyai kaki dan ada pula tangan serta anak jalanan bergegas menuju Lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan tempat pelaksanaan shalat Idul Adha untuk mengais rezeki.
Bersama anaknya Irmayanti kini beranjak usia 14 tahun namun tidak bersekolah karena dihimpit kondisi ekonomi dan ia harus membantu ibunya dari rumah di jalan Rajawali menuju Karebosi tepatnya jalan Jenderal Sudirman untuk bersama-sama mengemis mengharapkan sedekah dari orang-orang dermawan.
"Dari subuh kami sudah disini pak, tadi jalan kaki ke sini," kata Irmayanti di sela mengemis, Jumat.
Dia menyebutkan, di setiap hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, tidak hanya diri dan ibunya mengemis, tetapi hampir seluruh pengemis memadati tempat itu. Hal ini dikarenakan peluang mendapatkan uang lebih banyak dibanding tempat lain.
"Rata-rata teman-teman ibu dan teman-teman saya memilih di sini mengemis, lumayan kalau banyak orang yang kasih bisa buat makan dan buat beli obat untuk ibu," ucap gadis kecil ini.
Senada, pengemis lainnya, Ramli berusia 35 tahun menuturkan, mengemis di sekitar wilayah Karebosi saat lebaran hasilnya berlimpah dibanding hari-hari lainnya.
"Lebaran Idul Fitri lalu pendapatan cukup banyak bisa beli baju, obat dan lainnya termasuk kebutuhan sehari-hari. Kalau lebaran datang kami sangat senang," ujar pria baya ini dengan cacat kaki kanan dan tangan kiri akibat penyakit kusta.
Tidak hanya di lapangan Karebosi, dua mesjid besar di Makassar sebagai ikon Kota Makassar seperti Masjid AlMarkaz Al islami dan Mesjid Raya Makassar juga di padati ratusan pengemis yang datang dari berbagai tempat dan daerah.
Secara bergelombang mereka kemudian mencari tempat layak dan duduk berjejer baik di depan pintu gerbang Masjid Al Markas Al Islami hingga di bawah anak tangga masjid.
Begitu pula terjadi di Masjid Raya Makassar, secara berjibaku mereka juga memilih-milih tempat startegis.
"Saya dari Daya pak, dari tadi malam di sini, kami berempat bermalam di sekitar mesjid, saya, suami, anak dan kemenakan sudah mengkapling tempat ini. Kalau lebaran bisa dapat banyak itu pasti pak," tutur Ratna cacat kaki karena terkena kusta.
Ia mengaku, anak-anaknya sudah tidak lagi sekolah karena masalah biaya dan status sosial, meskipun pemerintah memberikan pendidikan gratis namun dirinya tidak ingin anaknya terus mendapat celaan dari rekan-rekannya.
"Anak saya katanya malu punya keluarga seperti ini terkena kusta, ada memang pendidikan gratis tapi mereka tidak mau, katanya sering di ejek temannya bahkan ada biaya tambahan seperti baju dan buku, belum biaya angkot, "akunya.
Salah satu pengemis asal Kabupaten Pangkep, Sulsel, Zulkifli saat ditanyai mengapa jauh-jauh datang ke Makassar untuk mengemis, kata dia, selain bisa mendapatkan banyak uang, sekaligus bertemu rekan-rekannya sesama pengemis.
Sejumlah pengemis bahkan mendapat rezeki tambahan berupa daging kurban yang dibagikan panitia masjid kepada mereka. Para pengemis ini didata sehari sebelum pelaksanaan shalat Id kemudian dibagikan secara merata.
Berdasarkan data hampir 60 persen pengemis yang beroperasi di Kota Makassar mengidap penyakit kusta dan belum sembuh secara total.
Pusat rehabilitasi Kusta di Makassar mengakui kekurangan anggaran sehingga pihaknya tidak bisa memberikan pengobatan secara penuh.
Akibatnya, sejumlah pasien menjadi pengemis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk obat. Kusta biasa disebut penyakit keturunan dengan berdasar pada gen individu, namun penyebaran penyakit ini tidak berdampak signifikan di masyarakat.
Fenonema
Beberapa masyarakat menganggap fenomena ratusan pengemis menyerbu Makassar sebagai hal biasa ketika lebaran tiba. Antusias masyarakat memberikan uang tidak menjadi hal yang baru.
"Kalau lebaran begini saya beserta keluarga sudah menyiapkan uang kecil untuk dibagi-bagi. Sebelumnya, kita tukar dulu di bank uang kecil, nanti setelah pulang lebaran baru kita bagi-bagi kepada mereka," ucap Damayanti berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Makassar ini.
Tidak jauh berbeda, Kontrakrtor asal Kalimantan Hendra Sucipto menyatakan, dirinya telah menyiapkan uang kecil hingga jutaan Rupiah khusus dibagikan kepada pengemis. Namun ia beranggapan bahwa pemberian sedekah ini bagian dari pengeluaran zakat harta.
"Dua kali setahun kan tidak apa-apa, lagi pula semakin banyak dikeluarkan maka semakin banyak pula masuk," katanya sembari tersenyum.
Sementara Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Burhanuddin di sela pemotongan hewan kurban di Balai Kota Makassar mengatakan, banyaknya pengemis masuk di Kota Makassar hingga mencapai ratusan dianggap hal biasa.
Dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar No.2 Tahun 2008 tentang Pembinaan Anak Jalanan (Anjal), Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) sudah diterapkan.
Namun pada kenyataannya, meskipun diberikan sanksi dan denda hingga jutaan rupiah bagi masyarakat yang memberi kepada pengemis di tempat-tempat umum, terkesan tidak ditaati.
Berdasarkan Data Dinsos Kota Makassar, jumlah pengemis mencapai 800 lebih orang tersebar di 14 Kecamatan. Burhanuddin menambahkan, para pengemis sengaja datang saat Bulan Ramadhan, Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, jumlah tersebut, kata dia sambil menambahkan jumlah pengemis akan turun bila hari biasa. (T.KR-DF/Z003)
Pewarta : Darwin Fatir
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
