Logo Header Antaranews Makassar

Jurnalis Indonesia aktif di dunia maya

Kamis, 23 Mei 2013 15:56 WIB
Image Print
Diskusi di Universitas Paramadina (FOTO : DYAH SULISTYORINI) (1)
Hasil penelitian ini juga menyebutkan bahwa perilaku pengguna internet di kalangan jurnalis Indonesia tergolong tinggi yakni 90,6 persen rata-rata mengakses lebih dari tiga jam sehari, dimana sebagian digunakan untuk mengunjungi akun media sosial.

Perkembangan teknologi informasi memungkinkan seluruh jaringan komunikasi saling terhubung sehingga mempercepat kematian model komunikasi Harold Lasswell, yang memandang khalayak hanya pasif mengkonsumsi media.

Tidak bisa dipungkiri khalayak adalah makhluk aktif, sesuai dengan teori kegunaan dan kepuasan.

Dunia digital khususnya media sosial yang memungkinkan terjadinya interaktivitas, memungkinkan memunculnya respon partisipasi, menciptakan keterbukaan, mewujudkan komunitas dan keterhubungan makin mempercepat kematian teori Lasswell.

Teori Lasswell menjelaskan tentang proses komunikasi dan fungsinya terhadap masyarakat.

Sebenarnya apakah yang disebut media sosial? Menurut A. Mayfield dalam e-book berjudul "What is Social media?" (dari iCossing) disebutkan bahwa media sosial sangat tepat diartikan sebagai sekelompok bentuk-bentuk media online dengan serangkaian karakteristik yang memungkinkan terjadinya partisipasi, terciptanya keterbukaan, memungkinkan percakapan yang interaktif, mampu membentuk komunitas dan membuka keterhubungan.

Lebih jauh, keberadaan sosial media makin membuat dunia gegap gempita dan makin berwarna karena semua orang bisa menjadi penyampai kabar kepada khalayak atau yang dikenal dengan istilah jurnalisme masyarakat.

Lalu apa yang membedakan jurnalisme khalayak dengan jurnalis sejati? Rupanya Eko Maryadi, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen, Yosep Adi Prasteyo anggota Dewan Pers dan Totok Amien Soefijanto, Wakil Rektor Bidang Akademis, Riset dan Kemahasiswaan, Universitas Paramadina menyepakati empat hal.

Mereka yang berdiskusi di Paramadina Jakarta Mei ini menyetujui bahwa faktor pembeda antara jurnalis khalayak dengan jurnalis sejati adalah empat hal yakni kode etik jurnalistik, profesionalisme, kompetensi dan pengakuan publik lewat kartu anggota.

Bisa dipastikan jurnalis sejati juga menggunakan media sosial, lalu bagaimana pola penggunaannya dan kebutuhan apa saja yang dipenuhi jurnalis dari media sosial?

Serta yang tak kalah penting adalah: apa saja bentuk pemanfaatan media sosial?

Semua itu telah dijawab oleh penelitian berjudul "Indonesian Journalists Technographics Report 2012/2013", hasil kerja konsultan komunikasi Maverick dengan Universistas Paramadina yang baru dipublikasikan.

Technographics disini merujuk pada social technographic ladder yang dibuat oleh Forrester Research Inc (http://empowered.forrester.com/ladder2010/) yang mengklasifikasikan tipe pengguna internet di dunia maya.


Tergolong aktif
Temuan itu menyebutkan bahwa jurnalis Indonesia tergolong aktif (47 persen) berpartisipasi di dunia maya sebagai pengunggah karya ke blog atau situs pribadi, mengupdate status di akun sosial media dan memberi komentar pada blog orang lain/forum online.

Sementara 53 persen sisanya berpartisipasi secara pasif melalui kegiatan mengkonsumsi dan mengoleksi informasi, artinya tidak ada jurnalis yang tergolong tidak aktif.

Bisa dikatakan bahwa tipe jurnalis Indonesia berdasar partisipasinya di dunia internet berada pada dua titik ekstreem yaitu pada peran aktif sebagai creators dan di sisi lain sebagai jurnalis yang hanya membaca blog, forum, status teman di jejaring sosial.

Sementara di tengah-tengahnya adalah jurnalis yang termasuk kategori mengupdate status di akun sosial media, mengoleksi informasi dan membuka akun sosial media untuk mengunjungi akun sosial media orang lain.

Penelitian terhadap 363 responden dengan metode kuota sampling di tujuh area yakni Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Ambon serta Papua ini menyebutkan bahwa perilaku pengguna internet di kalangan jurnalis Indonesia tergolong tinggi.

Menurut Wahyutama M.Si, Ketua Jurusan Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina, keaktifan jurnalis Indonesia relatif tinggi di jagat maya (47 persen).

Wahyutama membandingkan partisipasi jurnalis negara lain di jagat maya. Dia menyebutkan bahwa jurnalis dari Amerika Serikat dan Perancis yang aktif berkontribusi di dunia maya jumlahnya diatas 40 persen.

Sementara jurnalis dari Kanada, Inggris, Swedia, Australia, Finlandia dan Jerman rata-rata yang berpartisipasi aktif mengkontribusikan materi informasi di dunia maya jumlahnya dibawah 40 persen (data dari Cision dan Canterbury Christ Church University tahun
2012).

Hasil penelitian ini juga menyebutkan bahwa perilaku pengguna internet di kalangan jurnalis Indonesia tergolong tinggi yakni 90,6 persen rata-rata mengakses lebih dari tiga jam sehari, dimana sebagian digunakan untuk mengunjungi akun media sosial.

Ternyata jenis media sosial yang paling banyak digunakan oleh jurnalis untuk mencari ide, informasi, data dan narsumber adalah Twitter (67,8 persen), disusul Facebook (55,9 persen), Blog sebanyak 46,8 persen, Online Forum 27 persen, Youtube sebanyak 24,8 persen, Professional Social Network 17,4 persen, kemudian Instagram 9,1 persen dan Path sebanyak 2,2 persen.

Lalu apa saja yang dicari para jurnalis Indonesia dari sosial media?
Ternyata jurnalis memanfaatkan media baru itu untuk membangun relasi 91,7 persen. Kemudian untuk berdiskusi dan bertukar informasi dengan sesama jurnalis lain (91,5 Persen).

Dua hal tersebut menunjukkan keuanggulan media sosial sebagai media interaktif, yakni memungkinkan partisipasi langsung, memungkinan percakapan dua arah, membangun keterhubungan dan
keterbukaan serta membangun komunitas.

Selanjutnya penelitian ini menemukan bahwa 90,3 persen responden jurnalis mengaku menggunakan media sosial untuk meng-update diri mereka dengan informasi dan berita.

Fakta lain yang patut digaris bawahi adalah delapan dari 10 responden memakai media sosial untuk memperoleh pengetahuan terkait pengembangan diri.

Menurut Hanny Kusumawati, Creative Director, Maverick, banyak yang bisa dilakukan dari hasil penelitian ini, "mungkin ke depan bisa dikembangkan kursus online untuk wartawan dimana wartawan bisa mengakses materi-materi pengetahuan kapan saja disesuaikan dengan waktu yang mereka miliki," kata dia.

Hanny melanjutkan, "Hanya tiga dari sepuluh responden yang mengaktualisasikan sisi emosinya atau 'status galau' nya lewat media sosial, sementara tujuh dari sepuluh responden memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan kredibilitas dirinya".

Lantas, apakah sosial media berpengaruh terhadap pola kerja jurnalis Indonesia atau bahkan mengubah pola kerjanya?
Penelitian itu menemukan bahwa jabawan dari pertanyaan ini tidaklah tunggal dan tidaklah sederhana.

Karena temuan yang diperoleh adalah di satu sisi jurnalis menyatakan bahwa sosial media bukan satu-satunya sumber informasi dan bahkan hanya menganggab sebagi supporting.

Bahkan sebagian besar meragukan kredibilitas dari media sosial itu dan memilih media tradisional (78 persen).

Disisi sebaliknya mayoritas responden (84 persen) mengakui mereka pernah mengangkat isu yang berkembang di sosial media menjadi berita pada media tempat jurnalis itu bekerja.

Bahkan mayoritas atau sebanyak 59,4 persen pernah mewawancara narasumber di sosial media. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mengukuhkan kedigdayaan media sosial.

Seperti penegasan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, yang mengatakan bahwa media sosial telah menjadi perpanjangan indera bagi jurnalis dalam memonitor isu, mengidentifikasi opini, dan mendiskusikan isu.

"Dengan kata lain, media sosial telah menjadi pembuluh darah yang semakin meningkatkan vitalitas peran jurnalis di era demokrasi," kata tokoh yang mendapat anugerah sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat di tahun 2008 itu.

*) Manajer Pusat Data & Riset Perum LKBN Antara



Pewarta :
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026