
Perjuangan distribusikan BBM di Sulsel

Makassar (ANTARA) - Fajar bahkan belum benar-benar menyingsing, langit masih berwarna kelabu pucat saat Ridwan (50) sudah melangkah keluar dari rumahnya. Di jam-jam yang bagi sebagian besar orang masih merupakan waktu terlelap dalam mimpi, pria paruh baya itu sudah bersiap menuju tempat kerjanya.
Seperti ratusan rekan sekerjanya yang menjadi awak mobil tangki bahan bakar minyak (BBM), hari kerja Ridwan dimulai jauh sebelum matahari muncul di ufuk timur. Sudah lebih dari 15 tahun ia menjalani rutinitas ini, sejak pertama kali mengabdikan dirinya sebagai sopir pengangkut BBM pada tahun 2009.
Bagi dia, mengemudikan kendaraan besar berisi cairan berenergi tinggi ini bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan sebuah amanah besar yang memegang peran vital dalam kehidupan banyak orang.
Di bawah naungan PT Elnusa Petrofin Makassar, Ridwan menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari rantai distribusi energi yang bekerja tanpa mengenal hari libur, tanpa istirahat panjang, dan tanpa memandang kondisi cuaca.
Perusahaan tempatnya bekerja mengelola 83 unit mobil tangki yang tersebar dan beroperasi melayani kebutuhan BBM di seluruh wilayah Sulsel. Jangkauan pelayanannya sangat luas, mulai dari pusat-pusat keramaian dan kota besar seperti Makassar, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), hingga ke daerah-daerah yang letaknya jauh dan terpencil seperti Bone, Sinjai, Bulukumba, dan Jeneponto.
“Kalau sukanya, setiap masuk kerja kesehatan kami selalu diperhatikan dengan baik oleh perusahaan. Ada pemeriksaan rutin, ada fasilitas kesehatan, jadi kami merasa dihargai. Tapi dukanya, ya, saat hari besar seperti Lebaran pun kami harus siap turun bekerja dan meninggalkan keluarga di rumah,” ungkap Ridwan dengan nada suara yang bercampur antara rasa syukur dan sedikit kerinduan.
Bagi banyak orang, hari raya adalah momen berkumpul, bermaaf-maafan, dan bersantai bersama kerabat. Namun bagi Ridwan dan rekan-rekannya, hari raya justru menjadi masa di mana tanggung jawab mereka semakin berat dan kehadiran mereka di jalan raya menjadi semakin penting.
Masyarakat umum mungkin hanya melihat BBM sebagai cairan yang tersedia di pompa pengisian bahan bakar, sesuatu yang mudah didapatkan dan dianggap ada begitu saja saat dibutuhkan. Tidak banyak yang menyadari bahwa di balik ketersediaan satu liter bensin atau solar, terdapat perjalanan panjang, perjuangan, dan kerja keras yang luar biasa.
Setiap hari, Ridwan mengemudikan kendaraan raksasa berkapasitas bervariasi, mulai dari 8 kiloliter (KL), 16 KL, hingga yang terbesar 24 KL, membawa muatan bernilai tinggi dan berisiko tersebut menuju berbagai tujuan. Pola kerjanya pun dibedakan berdasarkan jarak tempuh.
Untuk rute dalam kota atau wilayah dekat, seorang pengemudi bisa melakukan hingga empat kali perjalanan atau bolak-balik dalam satu hari kerja yang panjang. Namun, untuk rute luar kota yang jaraknya bisa mencapai ratusan kilometer melewati jalan berkelok dan menanjak, umumnya hanya mampu menyelesaikan satu kali perjalanan pulang-pergi saja karena waktu tempuh yang sangat lama dan melelahkan.
Tantangan
Selama lebih dari satu dekade mengemudi, Ridwan telah merasakan dan menghadapi berbagai macam tantangan di lapangan. Ia telah melewati jalanan mulus, jalan berlubang, jalan berbatu, hingga jalan yang licin dan berbahaya saat musim hujan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya terjadi saat ia bertugas mendistribusikan BBM ke wilayah Bone, tepatnya ketika sedang berlangsung proyek pembangunan besar di kawasan Kappang. Saat itu, di tengah perjalanan yang membelah kawasan hutan yang sepi dan jauh dari pemukiman, kendaraan yang dikemudikannya tiba-tiba berhenti bergerak, ada gangguan pada mesinnya.
“Saat itu rasanya cemas sekali. Mobil sempat mogok dan bermasalah di tengah hutan, tidak ada siapa-siapa, tidak ada toko, tidak ada tempat berteduh. Kami harus menunggu berjam-jam sampai mekanik datang jauh-jauh dari Makassar untuk memperbaiki kendaraan kami,” dia mengenang sambil menggelengkan kepala, mengingat betapa sulitnya situasi saat itu.
Kejadian itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa perjalanan distribusi BBM tidak selalu mulus dan aman.
Selain kondisi jalan yang beragam dan seringkali tidak bersahabat, pengemudi juga harus siap menghadapi kemacetan panjang, terutama saat momen-momen tertentu seperti masa operasi Satgas Ramadhan dan Idul Fitri.
Di waktu-waktu tersebut, jalur-jalur utama dan jalur wisata dipadati kendaraan masyarakat yang sedang mudik atau berlibur, sehingga perjalanan yang biasanya memakan waktu beberapa jam bisa berlipat ganda durasinya. Untuk mengantisipasi risiko terjadinya kelangkaan BBM di tengah lonjakan kebutuhan tersebut, perusahaan telah menyusun strategi matang.
Kick Off Operation PT Elnusa Petrofin Makassar Rahmat Agung Fernandez mengatakan
jadwal distribusi BBM biasanya dimajukan jauh hari agar stok di setiap SPBU tetap aman dan terjaga ketersediaannya, terutama di titik-titik yang diperkirakan pola konsumsinya akan meningkat tinggi.
Strategi serupa juga diterapkan ketika menghadapi cuaca ekstrem, yang umumnya terjadi pada periode bulan Desember hingga Februari setiap tahunnya. Saat angin kencang bertiup atau hujan lebat turun berhari-hari, kondisi jalan menjadi berbahaya dan jarak pandang berkurang drastis.
Meski demikian, distribusi tetap harus berjalan dengan berbagai langkah mitigasi keselamatan yang diperketat agar pasokan energi ke masyarakat tidak terganggu sama sekali. Sistem pemantauan di kantor pusat bekerja terus-menerus; ketika ada wilayah yang stoknya mulai menipis atau mendekati batas kritis, pengiriman ke wilayah tersebut akan diprioritaskan dan dipercepat.
Bahkan, percepatan jadwal bisa dilakukan mulai dari 15 menit hingga satu jam lebih awal dari jadwal biasa, semua demi menjaga agar tidak ada satu pun SPBU yang kehabisan stok dan masyarakat tetap bisa beraktivitas.
Di balik kemudi mobil tangki besar yang berat itu, disiplin adalah harga mati, tidak ada tawar-menawar. Keselamatan menjadi prioritas utama yang dijunjung tinggi oleh setiap elemen perusahaan.
Setiap kendaraan dilengkapi dengan perangkat keamanan lengkap, mulai dari kamera pengawas atau CCTV di berbagai sudut, alat pemadam kebakaran yang siap pakai, hingga sistem pemantauan berbasis satelit yang terhubung langsung ke pusat kendali.
Di sana, sekitar 400 hingga 500 petugas berpengalaman memantau pergerakan seluruh armada dan perilaku pengemudi secara langsung dan waktu nyata. Aturan mainnya sangat ketat; tidak ada ruang sedikit pun untuk kelalaian, termasuk hal-hal kecil sekalipun seperti menggunakan telepon genggam saat berkendara atau mendengarkan musik yang bisa mengganggu konsentrasi.
Keselamatan diri sendiri, keselamatan orang lain di jalan, dan keamanan muatan adalah yang utama. Kalau ada yang melanggar aturan, sanksinya tegas, bahkan bisa sampai pemutusan hubungan kerja.
"Kami paham betul alasannya, karena apa yang kami bawa ini berisiko tinggi,” ujar Ridwan.
Menjadi pengemudi mobil tangki BBM bukanlah pekerjaan yang bisa didapatkan begitu saja. Ada syarat ketat dan proses panjang yang harus dilalui. Selain wajib memiliki ijazah minimal lulusan SMA atau sederajat serta memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) B2 Umum yang khusus untuk kendaraan berat, calon pengemudi juga wajib mengikuti serangkaian pelatihan dan mendapatkan sertifikasi resmi.
Materi pelatihannya pun sangat lengkap, mulai dari Defensive Driving Training (DDT) atau teknik mengemudi defensif, pelatihan mendalam tentang keselamatan berkendara di segala kondisi, hingga pengetahuan khusus mengenai penanganan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3).
Setelah lulus pelatihan dan ujian, mereka masih harus menjalani masa pendampingan selama beberapa bulan, berjalan bersama pengemudi senior, sebelum akhirnya benar-benar dipercaya membawa kendaraan besar secara mandiri ke jalan raya.
Di tengah lelahnya perjalanan, tantangan medan yang berat, dan pengorbanan waktu bersama keluarga, Ridwan tetap menjalankan tugasnya dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab yang besar. Baginya, setiap liter BBM yang berhasil sampai ke tangki penyimpanan SPBU adalah sebuah keberhasilan kecil yang berarti besar.
Ketika melihat warga dapat mengisi bahan bakar kendaraannya tanpa harus antre panjang, atau mendengar kabar bahwa para nelayan di pesisir pantai tetap bisa melaut dan mencari nafkah karena persediaan solar tersedia, di situlah ia merasa segala lelah dan keringatnya terbayar lunas.
Mungkin nama Ridwan tidak akan pernah menjadi sorotan publik atau dibicarakan banyak orang. Namun, setiap kali mobil tangki berwarna-warni itu melintas di jalan raya, menembus batas jarak hingga ke kota, desa, dan wilayah paling terpencil di Sulsel, ada dedikasi yang luar biasa yang bekerja di balik kemudi.
Ia dan ribuan rekan kerjanya adalah para penjaga sunyi distribusi energi. Mereka adalah orang-orang yang memastikan roda perekonomian daerah ini tetap berputar, lampu-lampu rumah tetap menyala, dan kehidupan masyarakat terus berjalan lancar, bahkan di saat sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur atau sedang bersuka cita merayakan hari besar bersama keluarga tercinta.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Perjuangan distribusi BBM di Sulsel
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
