
Bisnis Samsung ternyata berawal dari beras

Makassar, (ANTARA Sulsel) - Tahukah anda jika Samsung memulai bisnis awal dengan berdagang beras. Nama Samsung dalam bahasa Korea artinya "besar, kuat, abadi".
Akibat perang dunia II bisnis beras yang dirintis Lee Byung Chul itu hancur. Lee tidak putus asa membangun kembali Samsung.
Lee kemudian beralih usaha mendirikan pabrik tekstil. Dalam waktu singkat bisnis ini melejit dan menguasai pasar.
Samsung kemudian mulai melakukan ekspansi bisnis ke sektor lain asuransi, layanan keuangan, real estate, pembuatan kapal.
Lee masih belum puas dan pada tahun 1969 dia mendirikan Samsung Electronics. Ini didasari oleh pasar elektronik yang mulai bergeliat.
Produk pertama Samsung adalah kipas angin yang mudah rusak, kemudian dilanjutkan dengan TV hitam putih yang juga sering rusak.
Samsung terus mengembangkan diri hingga tahun 1974 membeli perusahaan Korea Semiconductor yang nyaris bangkrut.
Dengan menguasai teknologi semikonduktor Samsung makin kokoh sebagai inovator teknologi chip dan bersaing dengan Jepang.
Samsung pun sukses menjadi brand perusahaan raksasa di berbagai bidang meski core-nya tetapi elektronik dan terus berinovasi.
Hari ini Samsung fenomenal karena mampu kuasai pasar smartphone dunia bersaing dengan Apple. Samsung andalkan platform android.
Bahkan pada kuartal I 2013 Samsung mampu mengalahkan Apple dengan pangsa pasar 33 persen dibanding apple hanya 18 persen.
Dari jumlah pengiriman untk pasar global pada kuartal I 2013, Samsung mencatat rekor 69,4 juta unit sedangkan Apple 37,4 juta.
Pengalaman transformasi bisnis Samsung hingga jadi jawara bisnis teknologi smartphone, mestinya jadi inspirasi bagi kita.
Seperti kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, jika tidak segera menguasai teknologi dan membangun industri manufaktur ke depan bisa saja kita akan memakai sabun merk Samsung.
* Founder North Sulawesi Network / Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Komunikasi Publik
Pewarta : Michael Umbas *
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
