Logo Header Antaranews Makassar

Warga Transmigran Sigi Harapkan Pasokan Air

Jumat, 25 Oktober 2013 16:07 WIB
Image Print
"Akibat kesulitana air banyak tanaman kami, seperti kacang tanah, ubi, cabai, tomat dan jagung terancam gagal panen pada musim tanam ini," kata Ny Sulasri, salah seorang warga di lokasi Transmigrasi SP1 Dusun Bolupountu Desa Sidera, Kecamatan Biromar

Palu (ANTARA Sulsel) - Ratusan kepala keluarga warga transmigrasi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengharapkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena selama dua pekan terakhir ini mengalami kesulitan air.

"Akibat kesulitana air banyak tanaman kami, seperti kacang tanah, ubi, cabai, tomat dan jagung terancam gagal panen pada musim tanam ini," kata Ny Sulasri, salah seorang warga di lokasi Transmigrasi SP1 Dusun Bolupountu Desa Sidera, Kecamatan Biromaru, Jumat.

Ia mengatakan selama ini pasokan air untuk memenuhi kebutuhan warga di lokasi transmigrasi tersebut melalui saluran pipa yang dibangun oleh Dinas Pertanian setempat.

Namun, katanya, sudah dua pekan ini pasokan air tidak lancar. Bahkan seminggu terakhir ini sama sekali airnya macet sehingga mereka harus mencari air di tempat lain meski jalan kaki.

Untuk kebutuhan mencuci dan mandi, warga terpaksa jalan kaki sekitar tiga kilometer mengambil air di sungai.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan minum dan masak, menggunakan air kemasan isi ulang yang banyak dijual bebas di Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng dan juga Biromaru, Kabupaten Sigi.

Hal senada juga disampaikan Ny Wati. Warga transmigrasi asal Jawa itu membenarkan mereka mengalami kesulitan air.

Selama ini, warga mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan minum dan juga menyirami tanaman dari jaringan pipa air yang dibangun pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian Sulteng dan Dinas Pertanian Kabupaten Sigi, katanya.

Sebelumnya, air cukup lancar meski menggunakan sistem jatah. "Artinya pasokan air di lokasi transmigrasi Bolupountu dilakukan secara bergilir setiap dua kali dalam seminggu," katanya.

Tetapi dalam dua pekan ini, pasokan air sudah tidak lancar dan bahkan beberapa hari ini sama sekali tidak ada air sehingga warga terpaksa harus berjalan mencari air di sungai, jelasnya.

"Tapi air itu hanya untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sedangkan untuk kebutuhan minum dan memasak membeli air kemasan isi ulang dengan harga Rp3000 per gelon," katanya.

Kedua warga transmigrasi itu mengaku tidak mengetahui kenapa pasokan air tidak jalan. Mereka berharap mendapat perhatian dari Pemkab Sigi atas permasalahan tersebut.

Warga meminta Pemkab dapat membantu mengatasi kesulitan air warga transmigrasi khususnya yang bermukim di SP1, ujarnya.

Transmigrasi Bolupountu dihuni sekitar 300 kk warga yang berasal dari Jawa, NTT dan juga masyarakat lokal. Lokasi transmigrasi itu selama ini merupakan sentra poroduksi komoditas hortikultura. Farochah



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026