
BEM Uncen Jelaskan Maraknya Aksi Demo

"Aksi demo belakangan ini digerakan oknum mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (Gempar), tanpa kooirdinasi dengan BEM Uncen," kata Ketua BEM Uncen, Paulus Numberi di Jayapura, Papua, Jumat.
Jayapura (ANTARA Sulsel) - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cenderawasih mengklarifikasi atau menjelaskan aksi demo beberapa hari belakangan ini marak di kampus itu tidak ada hubungan dengan aktivitas BEM.
"Aksi demo belakangan ini digerakan oknum mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (Gempar), tanpa kooirdinasi dengan BEM Uncen," kata Ketua BEM Uncen, Paulus Numberi di Jayapura, Papua, Jumat.
Menurut dia, aksi sejumlah mahasiswa, pemuda dan rakyat yang biasa disebut Gempar telah meresahkan civitas kampus Uncen, karena mereka memaksa memalang kampus, merusak sejumlah fasilitas perkuliahaan.
Para oknum mahasiswa itu mengejar atau pun memaksa rekan-rekan mahasiswa lainnya untuk ikut bergabung dalam aksi demo menolak rancangan draft RUU Otsus Plus yang sedang digodok oleh pihak eksekutif dibantu oleh para akamedisi kampus tersebut.
"Kami juga ingin klarifikasi, bahwa Bem Uncen tidak pernah melakukan pemaksaan, pengrusakan dan pemalangan kampus. Ini hanya ulah sejumlah oknum mahasiswa yang menilai RUU Otsuis Plus yang diusulkan oleh Pak Gubernur Papua tidak memihak kepada orang asli setempat," katanya.
Untuk itu, Paulus yang didampingi kedua rekannya Fred Reinold Awom selaku Sekretaris Umum BEM FKIP Uncen dan Raymond May selaku Ketua BEM FKM Uncen, meminta agar rektor di kampus tertua di tanah Papua agar bisa bertemu dan mengambil sikap tegas kepada para pendemo tersebut yang telah memalang kampus dan meresahkan warga Kota Jayapura.
"Pak rektor tidak boleh tinggal diam, lakukan pertemuan dengan mereka-mereka yang suka demo, cari solusi sehingga perkuliahaan tidak terganggu. Kampus Uncen bukan milik satu-dua orang, tetapi semua orang memilikinya," katanya.
Paulus juga menyampaikan bahwa dari informasi yang didapatkan oleh pihaknya, ada puluhan dosen dari kampus Uncen yang ikut terlibat dalam penyusunan rancangan draf UU Otsus Plus, sehingga sudah sepantasnya pihak kampus tersebut bisa memberikan penjelasan kepada para pendemo dan masyarakat tentang hal itu, sehingga demo yang belakangan ini melanda Kota Jayapura bisa dihentikan. "Kami dengar ada 29 dosen yang ikut merancang UU Otsus Plus. Mungkin hal ini bisa dijelaskan kepada kami apa saja isinya. Karena hingga kini, kami juga sebagai mahasiswa tidak tahu isinya seperti apa," katanya.
Dalam beberapa hari terakhir di Kota Jayapura, ibu Kota Provinsi Papua, sekelompok mahasiswa, pemuda dan rakyat setempat dengan sebutan Gempar menggelar aksi demo menolak rancangan draft RUU Otsus Plus yang sedang digodok oleh pihak eksekutif dibantu oleh para akamedisi didaerah tersebut. Kelompok ini juga memalang kampus Uncen untuk menggalang massa dan melakukan 'longmarch' ke MRP, DPRP dan kantor Gubernur Papua pada Senin (4/11) guna menyuarakan aspirasi mereka terkait penolakan RUU Otsus Plus.
Kelompok itu menilai rancangan draft RUU Otsus Plus tidak berpihak kepada masyarakat asli Papua, belum lagi UU Otsus yang sedang berjalan saat ini tidak diimplementasikan secara baik.
Pada Kamis (7/11), aksi demo mereka kembali dilakukan di halaman kantor Majelis Rakyat Papua, tetapi para pentolan demo seperti Yason Nngelia sebagai koordinator demo, Alfa R, Yali Wenda, Agus Rumaropen, Beni Hisage, Claus Pepuho, Harun Dimara, Samuel Wamsiwor beserta mahasiswa lainnya ditahan aparat Kepolisian Resor Kota Jayapura karena diduga aksi tersebut tidak ada pemberitahuan. M. Yusuf
Pewarta : Alfian Rumagit
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
