
Kecepatan Angin di NTT Mencapai 45 Km/Jam

"Kecepatan angin tersebut memicu terjadinya gelombang tinggi di wilayah perairan NTT, khususnya di tiga perairan itu, sehingga perlu diwaspadai oleh para pengguna jasa angkutan yang melintas di perairan tersebut," kata Kepala Stasiun Klimatologi Lasi
Kupang (ANTARA Sulsel) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan Laut Timor, Sabu dan Rote, NTT agar lebih waspada dengan keadaan gelombang yang dipicu oleh kecepatan angin antara 40-45 km/jam.
"Kecepatan angin tersebut memicu terjadinya gelombang tinggi di wilayah perairan NTT, khususnya di tiga perairan itu, sehingga perlu diwaspadai oleh para pengguna jasa angkutan yang melintas di perairan tersebut," kata Kepala Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang Juli Setiyanto di Kupang, Minggu.
Ia menambahkan kondisi cuaca saat ini bisa menimbulkan hujan transisi dari musim basah ke kemarau, sehingga wilayah di Pulau Timor, Rote Ndao, Sabu, dan Sumba masih dilanda cuaca yang kurang bersahabat hingga memunculkan berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan atas (Ispa) dan gejala lainnya akibat anomali iklim seperti yang terjadi saat ini.
Ia menyebut warga di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu serta Malaka, Lembata dan Alor serta Flores Timur merupakan daerah yang endemik yang wabah akibat kondisi iklim yang tidak stabil seperti saat ini perlu waspada.
Selain itu khusus untuk para petani lahan basah di daerah ini perlu mewaspadai serangan hama tanaman seperti daun jingga, hama putih palsu, ulat grayak, cerkospora dan siput murbei atau jenis hama lain dalam Organisme Pengganggu Tanaman yang hidup dan berkembang di daerah setempat.
"Petani bersama penyuluh pertanian lapangan perlu melakukan pengendalian, agar serangan hama ini tidak semakin meluas," katanya.
Ia mengatakan bahwa pengendalian yang dilakukan dengan cara menyemprotkan obat antihama, agar tidak semakin berkembang dan menyebar ke tanaman padi lainnya,
Menurut dia, anomali hujan memang masih terjadi pada beberapa daerah kepulauan ini, meskipun daerah lain telah memasuki musim transisi atau peralihan dari musim basah ke kering.
"Anomali hujan yang dimaksud berupa hari kering yang panjang selama Februari hingga Maret ini berpotensi terhadap kekeringan pada beberapa daerah di NTT," katanya.
Ia menyebut daerah-daerah yang dilanda atau mendapat dampak dari anomali hujan itu di NTT antara lain kabupaten Manggarai Timur, sebagian kabupaten Ngada, kabupeten Ende, kabupaten Sikka, kabupaten Flores Timur, kabupaten Lembata, kabupaten Sumba Timur, Kupang, kabupaten Timur Tengah Selatan, dan kabupaten Malaka.
"Curah hujan pada bulan tersebut di daerah-daerah ini umumnya kurang dari 100 mm dari idealnya 150 mm perbulan dan hari hujan yang terjadi kurang dari 10 hari," katanya.
Perkembangan terakhir pada 2014 diprediksikan fenomena alam el nino kemungkinan sangat lemah, sehingga musim kemarau di NTT masih dalam taraf normal sehingga untuk pola tanam padi mengikuti jadwal semula. L. Molan
Pewarta : Hironimus Bifel
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
