Makassar (ANTARA) - Dalam seminar internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Ustadz Das’ad Latif menekankan peran penting warga negara muslim dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Ia menegaskan dukungan bagi Palestina tidak sekadar simbolis, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata, edukasi, advokasi publik, dan doa.
Dalam pidatonya, Ustadz Das'ad mengingatkan setiap muslim memiliki tanggung jawab moral sesuai ajaran Islam, sebagaimana tertuang dalam Quran Surat Al-Fath ayat 29.
Ia menekankan pentingnya ketegasan dalam iman dan akhlak, menjaga integritas, serta menghormati keyakinan orang lain. Menurutnya, konsistensi dalam mendukung kemanusiaan dan peran aktif dalam menyebarkan informasi yang benar merupakan bagian dari kewajiban seorang Muslim.
Lebih jauh, Ustadz Das'ad memaparkan langkah-langkah konkrit yang bisa dilakukan untuk mendukung Palestina, mulai dari donasi melalui lembaga yang kredibel, advokasi publik, penyebaran informasi benar, boikot produk terkait pelanggaran hak asasi, hingga doa untuk keselamatan dan kemerdekaan rakyat Palestina.
Dalam pidatonya, Ustadz Dassad juga menekankan pentingnya kompetensi generasi muda muslim. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak minder menghadapi perbedaan kompetensi antaruniversitas dan tetap bangga dengan ilmu agama yang mereka pelajari.
Ia menekankan bahwa fokus belajar dan peningkatan kompetensi lebih penting daripada energi yang terbuang untuk hal-hal tidak produktif.
Acara ini mendapat dukungan dari Wakil Menteri Luar Negeri Anies Mata, yang hadir untuk menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung inisiatif moral dan kemanusiaan masyarakat.
Anies Mata menyampaikan dulu, negara-negara Barat mendukung berdirinya Israel sebagai hutang moral atas tragedi genosida di Eropa. Tapi kini, ketika mereka menjadi pelaku kekerasan terhadap Palestina, muncul paradoks yang mengguncang kepercayaan kita terhadap nilai kemanusiaan,” tegas Wakil Menteri.
Selain itu, Anies Mata juga memberikan pasukan khusus kepada pemerintah Palestina, yang dilakukan dengan niat baik dan koordinasi penuh.
“Pasukan ini dikirim oleh Zeni TNI dan para medis. Langkah ini dapat dimainkan oleh semua negara di kawasan, tetapi harus dilaksanakan tepat waktu, tepat cara, dan dengan bobot moral agar tidak terseret ke dalam konflik baru,” ujarnya.
Salah seorang jurnalis dan penulis Revda Selver Iseric, menyampaikan dalam persentasinya, apa yang berubah pada peristiwa 7 Oktober telah mengguncang persepsi global tentang konflik, runtuhnya “mitos tentara tak terkalahkan” Israel, dan terungkapnya kejahatan perang yang dilakukan.
Ia menyoroti gelombang empati dan solidaritas internasional yang menguat, isolasi diplomatik Israel, serta meningkatnya pengakuan terhadap negara Palestina.
Revda juga menekankan keterlibatan media Barat dalam membentuk opini publik yang bias/palsu , dan menegaskan bahwa masyarakat Indonesia dapat berperan dengan menyebarkan informasi akurat, memobilisasi aktivisme komunitas dan kampus, serta mendukung penggalangan dana kemanusiaan.
Seminar ini menjadi platform penting bagi diskusi moral, pendidikan, dan solidaritas global, sekaligus menegaskan bahwa dukungan bagi Palestina harus diwujudkan secara nyata melalui tindakan, edukasi, advokasi, dan doa.

