Makassar (ANTARA) - Narcissistic Personality Disorder (NPD) tidak datang dengan tanda bahaya. Ia hadir rapi, komunikatif, terkadang agamis, sering terlihat paling yakin dengan dirinya sendiri. Justru karena itu, NPD berbahaya. Ia hidup di tengah kita di rumah, di kantor, di ruang pertemanan dan sering lolos dari deteksi karena tampak “baik-baik saja”.
Di Indonesia, pengalaman kolektif para korban sudah membentuk ruang berbagi yang besar. Salah satunya adalah grup publik Facebook Korban NPD akut, yang kini beranggotakan sekitar 82 ribu orang dan kian bertambah. Di sana, cerita datang dari berbagai latar: pasangan, mantan pasangan, rekan kerja, bahkan anak dari orang tua NPD.
Detail kisahnya berbeda, tetapi polanya berulang dengan presisi yang mengganggu. Manipulasi, kontrol, pembalikan fakta, dan peran korban yang terus dimainkan oleh pelaku.
dr. Vivi Syarif, psikiater yang aktif mengedukasi publik, menjelaskan NPD sebagai gangguan kepribadian yang ditandai dengan ego yang sangat dominan, empati yang minim, dan kebutuhan ekstrem untuk diakui. Orang dengan NPD ingin merasa penting, ingin mengatur, ingin dikagumi, dan sangat sulit bahkan hampir mustahil untuk mengakui kesalahan.
Ketika egonya terguncang, responsnya bukan refleksi diri, melainkan kemarahan, penyangkalan, atau memainkan posisi sebagai pihak yang paling disakiti. Di titik inilah relasi menjadi melelahkan dan merusak, karena semua beban emosional dipindahkan ke orang lain.
Yang membuat NPD semakin sulit dikenali adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan. Di tempat kerja, NPD bisa tampil sebagai figur paling ambisius dan meyakinkan, tetapi di balik itu sering mengambil kredit orang lain, menjatuhkan secara halus, dan menciptakan atmosfer yang tidak sehat.
Di lingkar pertemanan Gen Z, NPD sering hadir sebagai sosok paling vokal, paling butuh atensi, dan paling sering bermain sebagai korban. Relasinya terasa intens di awal, lalu perlahan menguras energi, rasa percaya diri, dan kewarasan emosional orang-orang di sekitarnya.
Seorang penulis, Wahyu Sastra, menulis dengan tajam bahwa NPD terlihat kebal terhadap banyak hal, kecuali satu, rasa malu.
Di balik citra percaya diri dan angkuh, harga diri mereka rapuh dan penuh ketakutan. Karena itulah mereka membangun topeng sosial tampil charming, bijak, kuat, bahkan bermoral. Topeng ini bukan sekadar citra, melainkan mekanisme bertahan hidup untuk menutupi kekosongan batin. Tanpa topeng itu, mereka tidak tahu siapa dirinya.
Ungkapan keras juga muncul dari pengalaman korban. Seorang penulis anonim pernah menyebut pengidap NPD sebagai “iblis yang nyata”. Kalimat ini memang ekstrem, tetapi lahir dari luka yang panjang.
Bukan karena pelaku terlihat menyeramkan, melainkan karena dampaknya begitu menghancurkan secara psikologis. Korban tidak sedang berlebihan, mereka sedang berusaha memberi nama pada penderitaan yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa.
Anggota yang gencar memposting dan menulis seperti Listiana Nugrahi banyak menyoroti mengapa korban sulit melepaskan diri. Bukan karena mereka lemah, melainkan karena relasi dengan NPD dibangun lewat pengondisian yang sistematis. Harapan palsu, rasa bersalah yang ditanam terus-menerus, dan pembalikan realitas membuat korban ragu pada penilaiannya sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, bertahan sering kali terasa lebih “masuk akal” daripada pergi, meskipun menyakitkan.
Pada akhirnya, satu hal yang harus dikatakan dengan jujur dan dewasa. NPD tidak disembuhkan dengan kesabaran, cinta tanpa batas, atau pengorbanan sepihak. Yang bisa diselamatkan bukan pelakunya, tetapi hidup kita sendiri.
Cara paling aman untuk lepas dari jerat NPD adalah memutus mata rantai relasi yang merusak itu cut off, sejauh dan seaman mungkin.
Namun memutus hubungan dengan NPD tidak boleh gegabah. Mereka bukan tipe yang pergi dengan tenang. Karena itu, kewaspadaan menjadi kunci.
Perhatikan dengan teliti pola tindakannya, cara ia bereaksi saat kehilangan kontrol, dan bagaimana ia memutarbalikkan keadaan ketika mulai ditinggalkan. Semakin dekat seseorang dengan NPD, semakin besar potensi dramanya. Maka jarak harus dibangun bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan strategis.
Ketika NPD berada dalam posisi suami atau istri, situasinya memang jauh lebih kompleks. Harapan sering kali sudah terlanjur ditanamkan terlalu dalam. Namun justru sebelum harapan itu benar-benar mati dan mengubur diri kita sendiri, hidup harus mulai diatur ulang dari sekarang.
Pelan-pelan, sadar, dan penuh perhitungan. Salah satu langkah paling krusial adalah mengurangi ketergantungan terutama secara ekonomi. Menambah penghasilan sedikit demi sedikit, membuka sumber daya sendiri, dan membangun kemandirian adalah bentuk perlindungan jangka panjang, bukan pengkhianatan.
Menjauh dari NPD bukan tindakan egois, melainkan tindakan sadar. Ketika waktunya tepat, lepaskan dengan tenang, bukan dengan ledakan emosi. Yakini satu hal yang sering diragukan korban: kamu bisa hidup tanpa dia, dan hidupmu bisa jauh lebih sehat setelahnya. Tapi langkah ini tidak seharusnya dilakukan sendirian.
Konsultasi dengan profesional psikolog, konselor, atau pendamping hukum bukan tanda lemah, melainkan tanda cerdas.
Dalam proses ini, persiapan adalah segalanya. Menyebut pentingnya kesiapan yang utuh, sering diringkas sebagai 4M (material, materi, money, mental). Ada material seperti bukti saksi dan lainnya dan kedua Ada kesiapan materi dan aset yang bisa diamankan secara sah. Ada money, yaitu modal dan dana cadangan, karena berpisah dengan NPD hampir selalu disertai drama panjang yang menguras waktu dan biaya.
Ada juga bukti, alasan, dan saksi karena NPD jarang melepas tanpa narasi yang diputarbalikkan. Dan yang paling menentukan adalah mental: niat yang kokoh, kesadaran penuh, dan keteguhan untuk tidak kembali hanya karena rasa bersalah, nostalgia palsu, atau rayuan sesaat.
Pisah dari NPD memang bukan jalan singkat. Ia panjang, melelahkan, dan kadang terasa tidak adil. Tapi bertahan bersama NPD sering kali jauh lebih mahal: kehilangan diri, kesehatan mental, dan masa depan.
Maka jika hari ini kamu mulai waspada, mulai merencanakan, dan mulai memperkuat diri, itu bukan keterlambatan itu titik balik. Karena hidup yang tenang bukan hadiah dari orang narsistik. Ia adalah keputusan berani yang kita ambil untuk diri sendiri.

