Jakarta (ANTARA) - Indonesia perlu mengantisipasi dampak jangka panjang kebakaran depot minyak Rusia akibat serangan drone Ukraina yang terjadi di Kota Penza pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet berpendapat efek ketegangan geopolitik tersebut terhadap Indonesia tidak bersifat langsung, melainkan melalui jalur harga.
“Kita masih net importir minyak, jadi ketika harga global naik, biaya impor energi ikut naik. Efek lanjutannya bisa terasa ke ongkos transportasi, logistik, sampai harga barang, yang ujung-ujungnya menekan inflasi dan daya beli,” ujar Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Secara global, kebakaran depot minyak Rusia akibat serangan drone kali ini kemungkinan tidak langsung memotong pasokan minyak dunia secara besar. Tetapi, menurut Yusuf, pasar energi sangat sensitif. Ketika terjadi gangguan di negara produsen seperti Rusia, yang bergerak bukan hanya suplai fisik, tetapi juga psikologi pasar.
“Risiko geopolitik naik, investor minta premi lebih tinggi, dan itu biasanya membuat harga minyak dunia lebih mudah terdorong naik dan jadi lebih volatil,” jelasnya.

