Makassar (ANTARA) - Salah seorang tetangga dekat Muhammad Farhan Gunawan yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, Zulkarnain menceritakan almarhum memiliki kepribadian sangat baik di mata keluarga maupun lingkungan bertetangga.
"Kalau ananda ini luar biasa attitudenya, bagus sekali terhadap tetangga apalagi tetangga di sekitar sini," tutur Zul sesaat jenazah korban tiba di rumah duka, Jalan Urip Sumoharjo, Lorong II, Perumahan Graha Kencana, Kecamatan Panakukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/1).
Ia menuturkan, di mata tetangga sosok Farhan dinilai mudah bergaul dan humble atau rendah hati, sikapnya tidak sombong kepada warga serta sering tersenyum ketika disapa orang.
"Baik sekali, sopan sekali. Kalau kita di kalangan warga menegur, anaknya sopan sekali," ucap Zul yang sudah berkawan lama dengan almarhum.
Meski orang tua Farhan kini berada di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, kata dia, sosoknya dinilai warga sangat baik kepada sesama dan menghormati orang tua maupun orang lebih tua darinya.
"Mungkin karena selama ini orang tua (tidak tinggal bersama), khususnya bapaknya berjauhan di Sorowako. Tapi, selama dia sini (sikapnya) sangat bagus pergaulannya," ucap dia kepada wartawan.
Sebagai tetangga dekat persis di depan rumahnya, Zul mengenal almarhum sudah lama sejak bersekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Kota Makassar.
"Kebetulan saya lama di luar juga, saya baru kenal dia waktu masih SD, SMP di sini. SMP sampai SMA di Athira (Sekolah Islam Athira)," tuturnya lagi.
Farhan diketahui bekerja sebagai pilot pada salah satu perusahaan maskapai penerbangan swasta, Indonesia Air Transport (IAT). Almarhum masih muda dan belum memiliki pasangan hidup.
Selama menjadi kru pesawat, Farhan sering pulang ke rumahnya sesekali di awal-awal bekerja, hanya saja tidak rutin. Nanti setelah pesawatnya transit di Makassar, baru almarhum pulang.
"Setahu saya baru tiga tahun (sebagai Copilot) sering pulang di sini, cuma tidak sesering, misalnya waktu di awal (jadi kru pesawat). Kalau sekarang, setelah terbang ke sana ke mari, itu bisa sampai dua sampai tiga bulan baru kelihatan," ucapnya bercerita.
Almarhum juga masih sendiri dan belum memiliki istri. "Belum berkeluarga, masih bujang dia, tiga bersaudara, dia anak pertama," katanya menyebutkan.
Saat ini jenazah almarhum masih disemayamkan di rumah duka. Rencananya, dari informasi pihak keluarga akan dimakamkan di pemakaman umum Kabupaten Gowa, Sulsel, pada Minggu (25/1). Kayaknya besok pagi (dikebumikan) di Gowa, Pemakaman Darussalam Valley," kata Zul menyampaikan.
Informasi kecelakaan pesawat naas tersebut baru diketahui Zulkifli setelah melihat pemberitaan serta media sosial. Mewakil tetangga, mendoakan almarhum dimudahkan jalannya, dihapuskan dan diampuni semua dosa-dosanya serta mendapat tempat di sisi Allah SWT.


