Logo Header Antaranews Makassar

Polda Sulbar kedepankan upaya preemtif pada Operasi Marano

Selasa, 3 Februari 2026 02:52 WIB
Image Print
Direktur Lalu Lintas Polda Sulbar Komisaris Besar Polisi Nurhadi Ismanto. ANTARA/HO-Humas Polda Sulbar

Mamuju (ANTARA) - Polda Sulawesi Barat mengedepankan upaya preemtif, seperti penyuluhan ke sekolah, kampus, serta masyarakat termasuk tukang ojek dan sopir angkutan umum, pada pelaksanaan Operasi Keselamatan Marano yang berlangsung mulai 2 hingga 15 Februari 2026.

"Penegakan hukum tetap dilakukan secara selektif dan terukur, dengan prioritas pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan fatalitas," kata Wakapolda Sulbar Brigjen Polisi Hari Santoso, pada apel gelar pasukan Operasi Keselamatan Marano 2026, di Mamuju, Senin.

Apel gelar pasukan melibatkan gabungan lintas instansi, terdiri dari personel Polda Sulbar, TNI, Dinas Perhubungan, Satpol PP serta Jasa Raharja.

"Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen bersama dalam menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas yang aman, nyaman dan selamat, khususnya menjelang Operasi Ketupat pada bulan Ramadan dan Idul Fitri," katanya.

Operasi Keselamatan Marano, kata Hari Santoso, bertujuan menurunkan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, menekan fatalitas korban, serta meningkatkan disiplin dan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.

Sasaran operasi mencakup seluruh potensi gangguan yang dapat menyebabkan kemacetan, pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, baik sebelum, selama maupun pasca-pelaksanaan operasi.

Hari Santoso menegaskan bahwa keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, keberhasilan operasi sangat ditentukan oleh koordinasi dan keterpaduan langkah antar-instansi terkait.

"Diperlukan koordinasi yang baik agar tercipta keterpaduan langkah dalam menunjang pelaksanaan tugas di lapangan," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Wakapolda memaparkan data Operasi Keselamatan Marano 2025, yang mencatat 1.824 pelanggaran lalu lintas, terdiri dari 627 tilang dan 1.197 teguran, dengan dominasi pelanggaran oleh pengendara roda dua.

Selain itu, tercatat 36 kasus kecelakaan lalu lintas, dengan tiga korban meninggal dunia, 52 korban luka ringan serta kerugian material mencapai Rp78.400.000.

"Korban terbanyak berasal dari kalangan karyawan atau swasta dengan rentang usia 16 hingga 20 tahun, dan mayoritas merupakan pengendara sepeda motor," terang Hari Santoso.

Kepada personel yang terlibat operasi, Wakapolda mengingatkan agar mengutamakan pendekatan humanis, meningkatkan sinergi lintas sektor dan menghindari tindakan kontra produktif.

Sementara, Direktur Lalu Lintas Polda Sulbar Komisaris Besar Polisi Nurhadi Ismanto menekankan dua poin krusial yang wajib menjadi landasan kerja seluruh personel, yakni pelaksanaan tupoksi masing-masing serta penguatan sinergi dan kekompakan antar-satuan.

"Kita harus bersinergi dan kompak sampai ke tingkat terkecil. Setiap satuan punya peran penting yang tidak bisa digantikan. Pastikan semua bekerja tepat sasaran sesuai tupoksi," kata Nurhadi.

Nurhadi memaparkan sasaran prioritas operasi, diantaranya penindakan terhadap pelanggaran darurat seperti truk ODOL (over dimension over loading), kendaraan penumpang dan barang yang tidak memenuhi standar keselamatan, pelaksanaan rampcheck secara menyeluruh, serta penertiban travel gelap yang beroperasi tanpa izin resmi.

Untuk memastikan operasi berjalan optimal, Nurhadi menetapkan sejumlah aturan wajib bagi seluruh personel, salah satunya pengecekan kondisi dan kesiapan personel serta sarana pendukung harus dilakukan setiap hari sebelum bertugas.

Selain itu, setiap personel diwajibkan melaporkan hasil kegiatan harian sebagai bahan evaluasi berkala guna memperbaiki strategi dan menutup celah yang berpotensi menghambat pencapaian target operasi.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026