
Komnas HAM soroti dampak negatif industri nikel di Morowali

Jakarta (ANTARA) - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyoroti dampak industri nikel terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup di kawasan Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Hal ini seiring temuan meningkatnya risiko sosial dan lemahnya pengawasan di lapangan.
Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM Uli Parulian Sihombing di Jakarta, baru-baru ini, mengatakan kajian dilakukan berdasarkan pengaduan masyarakat sejak 2020 hingga 2025 dengan pendekatan normatif dan empiris, termasuk peninjauan langsung ke lokasi terdampak.
"Kajian ini tidak dilakukan secara parsial, tetapi untuk melihat secara menyeluruh (helicopter view) atas berbagai aduan secara lebih komprehensif," ujarnya.
Hasil kajian menunjukkan peningkatan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah industri.
"Data menunjukkan adanya peningkatan kasus ISPA yang cukup tinggi, mencapai sekitar 50.000 kasus per tahun di wilayah terdampak," katanya.
Selain dampak kesehatan, aktivitas pertambangan dan smelter juga memicu deforestasi, pencemaran air, serta perubahan ekosistem yang berujung pada banjir dan penurunan kualitas lingkungan hidup.
Komnas HAM mencatat penurunan kualitas udara dan air berkorelasi dengan aktivitas industri yang masih bergantung pada batu bara sehingga memperburuk emisi dan menjadi tantangan dalam transisi menuju energi bersih sejalan dengan target net zero emission 2060.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan fasilitas kesehatan di kawasan industri, baik dari sisi kapasitas maupun tenaga medis, sehingga belum mampu mengimbangi peningkatan beban penyakit di masyarakat.
Berita selengkapnya : Komnas HAM soroti dampak industri nikel di Morowali
Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
