
FPMP dirikan sekolah bagi pekerja rumah tangga

"Kami memberikan pemahaman mengenai hak untuk memperoleh gaji yang layak...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP) Sulawesi Selatan mendirikan Sekolah Pekerja Rumah Tangga (PRT) untuk mengajarkan berbagai hal terkait hak dan kewajiban, serta pengetahuan teknis untuk meningkatan kapasitas personal pekerja.
"Kami memberikan pemahaman mengenai hak untuk memperoleh gaji yang layak, dan hari libur, sementara peningkatan pengetahuan dan keterampilan PRT juga dilakukan untuk meminimalisir konflik antara PRT dan majikan yang seringkali berujung pada kekerasan," kata aktivis FPMP Umy Jusmiati Lestari di Makassar, Sabtu.
FPMP merupakan mitra Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) dalam implementasi proyek Promosi Kerja Layak untuk PRT (Promote Project) di Sulsel, yang didukung oleh International Labour Organization (ILO) Jakarta.
Sekolah PRT yang hadir sejak Mei 2015 ini, kata dia, berlokasi di Kompleks BTN Antang Jaya Blok A No 7, Makassar. Pemilihan lokasi ini, jelasnya, berdasarkan pertimbangan bahwa daerah Antang merupakan merupakan salah satu area konsentrasi PRT di kota ini.
Umy mengatakan, selain memperoleh pengetahuan, di sekolah ini yang diikuti oleh sekitar 50 orang ini, para PRT juga memiliki kesempatan untuk berbagi masalah yang mereka hadapi baik di rumah tangga maupun di tempat kerja.
"Kami juga membangun kepercayaan diri para pekerja, agar mereka merasa rendah diri atas apa yang mereka, karena pekerjaan mereka sesungguhnya memiliki kontribusi yang besar," tambahnya.
Umy mengatakan bahwa banyak kasus kekerasan yang dialami oleh PRT. Di beberapa kasus PRT bahkan terjebak dalam hubungan kerja yang menyerupai praktek perbudakan di masa lalu, dimana PRT dipaksa bekerja tanpa batas waktu dan mengalami penyiksaan fisik jika tidak menuruti perintah majikan.
"Kasus-kasus penyiksaan seperti itu memang sangat rentan dialami oleh PRT terutama mereka yang tinggal di rumah majikan (live-in) karena seringkali tidak terpantau publik dan majikan menganggap bahwa apa yang terjadi di dalam rumah mereka dengan PRT adalah persoalan private," jelasnya.
Penghapusan atau setidaknya minimalisasi kasus-kasus serupa itulah, menurut Umy, yang ingin dicapai Proyek Promote, salah satunya melalui pendirian Sekolah PRT ini.
"Proyek Promote tidak hadir untuk mempeta konflik PRT dan Majikan, sebaliknya dia proyek ini diharapkan akan membawa manfaat bagi keduanya," kata dia.
Selain Sekolah PRT, pihaknya, kata dia, juga akan terus melakukan sosialisasi mengenai Promosi Kerja Layak untuk PRT dengan menemui tokoh-tokoh perempuan yang baik dari pemerintah maupun tokoh agama, seperti Fatayat NU, Muslimat NU, Aisyiyah, Wanita Katholik Republik Indonesia, Persatuan Wanita Kristen Indonesia, Wanita Hindu Dharma, Paguyuban Wanita Budha, KOWANI, IWAPI, KOHATI, dan lain-lain.
Pewarta : Nurhaya J Panga
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
