
Kadin Sulsel dorong penciptaan pengusaha baru

"Angka entrepreneur atau pengusaha kita baru sekitar satu persen dari total penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Sulawesi Selatan mendorong penciptaan pengusaha baru guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
"Angka entrepreneur atau pengusaha kita baru sekitar satu persen dari total penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa. Idealnya, suatu negara memiliki jumlah entrepreneur minimal dua persen" kata Ketua Umum Kadin Sulsel HM Zulkarnain Arief di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu.
Dalam diskusi media di selenggarakan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel, Zulkarnaen menyebutkan, Singapura adalah negara kecil, tetapi mampu menguasai ekonomi, karena pengusahanya diketahui mencapai tujuh persen.
"Malaysia saja di angka tujuh persen dan menjadi raja ekonomi di Asia Timur. Kemudian ada Thailand memiliki tiga persen jumlah pengusahanya dari total jumlah penduduk yang dimiliki," ujarnya.
Dia menjelaskan, Kadin Sulsel sebagai lembaga yang dibentuk berdasarkan Undang-undang nomor 1 tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri terus mendorong peningkatan jumlah entrepreneur di Sulsel agar terus bertambah.
"Berdasarkan Undang-Undang itu Kadin sebagai fasilitator sekaligus eksekutor di bidang usaha. Khusus di Sulsel ada 59 Asosiasi usaha yang bernaung di bawah Kadin Sulsel," jelasnya.
Selain itu, Kadin juga mendorong organisasi yang ada seperti Hipmi, Apindo serta Asosiasi lainnya tersebut untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan pengusaha-pengusaha baru.
"Saat ini kita masih disibukkan mengutak-atik sibuk bagaimana bergelut di dunia politik dengan menjadi politisi, PNS, Bukannya, bagaimana caranya menjadi pengusaha yang memiliki penghasilan sendiri termasuk mempekerjakan orang lain," ungkapnya.
Pihaknya berharap, anak muda generasi bangsa seperti halnya mahasiswa bagaimana berfikir menjadi pengusaha dan tidak terus berharap menunggu kiriman uang bulanan dari orang tua dari kampung yang bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan anaknya.
Zulkarnain menyatakan, tidak susah menjadi pengusaha. Dirinya, mengajak mahasiswa maupun jurnalis menggunakan kesempatan yang ada. Pihaknya siap membuka pintu seleber-lebarnya bagi mahasiswa yang ingin jadi pengusaha.
"Apa susahnya jadi pengusaha? Pak Jusuf Kalla juga pengusaha nasional yang sekarang jadi Wakil Presiden dan Pak Aksa Mahmud dulu pernah jadi Ketua Kadin Sulsel. Nah sekarang kami buka ruang seluas-luasnya untuk menjadi pengusaha baru, tidak perlu banyak, satu dua orang atau kelompok yang serius menjadi pengusaha," tambahnya.
Kadin Sulsel juga memempersilahkan PJI Sulsel mendata peserta diskusi ini, mahasiswa ataupun jurnalis yang serius menjadi pengusaha dan akan dimediasi dan fasilitasi menjadi pengusaha.
"Mestinya kita malu melihat uang yang beredar di Sulsel mencapai sekira Rp400 triliun dan 46 persen beredar di Kota Makassar, tetapi kita tidak mampu menangkapnya menjadi peluang usaha. MEA ini sudah berlaku, jadilah pemain bukan menjadi penonton di negara sendiri," tegasnya.
Sementara Asisten Deputy Direktur Eksekutif Bank Indonesia Perwakilan Sulsel, Hermanto mengatakan, Bank Indonesia juga memiliki komitmen melahirkan pengusaha baru di seluruh Indonesia.
"Ini sudah menjadi program Bank Indonesia pada 2003, namun seiring waktu perbankan sudah melakukan hal serupa dengan membentuk kelompok usaha binaan. Sekarang kita tekankan kepada perbankan bagaimana 20 persen disalurkan ke sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah untuk merangsang lahirnya usaha-usaha baru," ujarnya.
Sedangkan Wakil Ketua DPRD Makassar, Adi Rasyid Ali dalam diskusi itu memberikan anjuran kepada mahasiswa yang ingin terjun ke dunia usaha.
"Kalau mau jadi pengusaha pertama itu `Kenali Diri Anda`. Tidak salah saat kuliah impikan jadi PNS, tetapi kalau potensi diri yang ada diberdayakan menjadi pengusaha, maka hasilnya bisa jadi lebih luar biasa," tambah legislator Demokrat Makassar itu.
Pewarta : Darwin Fatir
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
