Logo Header Antaranews Makassar

Menko Maritim Ajak Unhas Kelolah Sampah Laut

Rabu, 9 Agustus 2017 16:30 WIB
Image Print
Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjadi pembicara pada kegiatan International Symposium on Marine Plastic Debris, di Makassar, Rabu (9/8). (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)

Makassar (Antara Sulsel) - Menko Maritim Luhut Panjaitan mengajak Universitas Hasanuddin (Unhas) ikut dalam proyek pengelolahan sampah laut untuk menjadi bahan baku atau campuran aspal.

Menko Maritim Luhut Panjaitan di Makassar, Rabu mengatakan Unhas yang memiliki hingga 900 doktor sudah sepatutnya ikut terlibat dalam proyek nasional untuk kepentingan bangsa dan negara ke depan.

"Saya sudah bertemu ibu Rektor Unhas agar bisa terlibat dalam proyek nasional ini. Dan saya minta Unhas ikut membantu membangun sistem pengumpulan sampah (yang bersebaran di laut) dan akan kita bayarin (anggarannya)," kata dia.

Ia menjelaskan proyek nasional jangan hanya ditangani atau melibatkan kampus dari Pulau Jawa untuk memberikan kontribusinya.

Kampus di Kawasan Timur Indonesia termasuk Unhas juga patut untuk terlibat. Pihak Unhas juga bisa mengirimkan wakil atau para ahli yang dimilikinya bergabung dalam studi yang ada di Jakarta-Surabaya ataupun Jakarta-Bandung.

"Saya kaget juga ternyata Unhas memiliki 900 doktor dan 500 dari luar. Jadi saya kira bisa ikut terlibat dan mengirimkan para ahlinya untuk proyek nasional," jelasnya.

Untuk proyek sampah menjadi bahan campuran aspal, dirinya mengaku hal itu sudah dilakukan dan bahkan sukses seperti di India.

Di negara tersebut, lanjut dia telah berhasil membuat jalan sepanjang 120 kilometer. Sedangkan untuk Indonesia sendiri, sebut dia juga sudah mulai dilakukan di Bali dan juga memberikan hal positif.

Untuk aspal yang dicampur sampah plastik, dirinya juga mengaku jika hal itu justru akan membuat aspal lebih tahan lama dan ongkosnya jauh lebih murah atau turun hingga delapan persen dibandingkan tanpa sampah plastik.

"Untuk membuat jalan sepanjang satu kilometer dengan lebar jalan tujuh meter maka membutuhkan sampah plastik sebanyak 2,5 ton. Namun untuk sampah plastik itu bukan berbentuk botol," ujarnya.

Mengenai persoalan sampah yang terus mengancam perairan Indonesia, kata dia itu dikarenakan letak Indonesia yang berada pada posisi silang laut besar.

Akibatnya Indonesia masuk sebagai lokasi penumpahan sampah terbesar setelah Tiongkok. Padahal, kata dia penimbunan sampah itu begitu berbahaya dan akan membuat ikan mengkonsumsinya hingga terkontaminasi.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026