Logo Header Antaranews Makassar

Sekolah Disegel, Ratusan Murid Terlantar

Senin, 28 September 2009 14:25 WIB
Image Print

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Pada hari pertama masuk sekolah pasca libur lebaran,gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Tumbu di Kecamatan Topoyo, 160 km dari ibukota Mamuju, Sulbar disegel oleh pemilik lahan sehingga, ratusan siswa di wilayah itu terlantar.

Dihari pertama masuk sekolah, Senin, ratusan siswa tak dapat mengikuti proses belajar mengajar, lantaran pemilik lahan menyegel pintu ruangan sekolah dengan menggunakan kayu balok yang ditancapkan disetiap pintu ruangan gedung sekolah tersebut.

Bahkan pemilik lahan Amin (25), melakukan pengusiran terhadap ratusan siswa yang hendak memasuki pekarangan sekolah. Penyegelan ini dipicu karena pihak sekolah mengabaikan janjinya untuk mengangkat keluarga pemilik lahan menjadi tenaga honorer sesuai dengan komitmen saat dilakukan pembebasan lahan seluas seperempat hektar oleh pihak kepala sekolah.

Peristiwa penyegelan sekolah di Desa Tumbu ini sempat menarik perhatian warga setempat bahkan turut pula bagi pengguna roda dua dan empat yang melintas di daerah tersebut menghentikan kendaraannya untuk menyaksikan aksi penyegalan itu.

Sementara pihak sekolah baik dari guru maupun orang tua siswa lainnya hanya dapat menyaksikan aksi penyegelan gedung tersebut, bahkan keluarga pemilik lahan yang melakukan penyegelan juga dibantu oleh puluhan siswa disekolah tersebut.

Akibat dari aksi penyegelan itu, para guru bersama kepala sekolah terpaksa meliburkan seluruh siswanya dihari pertama masuk sekolah.

"Kami melakukan penyegelan sekolah karena pihak kepala sekolah mengabaikan komitmen saat dilakukan pembebasan lahan, " kata Amin.

Menurutnya, pihaknya sudah lama menunggu realisasi atas komitmen yang disepekati saat gedung ini akan dibangun. Namun, karena terus berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang jelas dari pihak sekolah, maka terakhir yang dilakukan adalah dengan menyegel bangunan sekolah itu.

"Kami menyegel dengan harapan pihak sekolah memperhatikan kesepakatan bersama untuk diangkat keluarga kami menjadi tenaga honorer. Tetapi, nyatanya hingga saat ini masih abu-abu," tukas Amin sembari melakukan penyegelan sekolah itu.

Ia mengatakan, pihaknya tidak akan membuka segel tersebut sebelum ada titik terang dari pihak sekolah, meskipun telah mengakibatkan ratusan siswa di daerah tersebut tak dapat mengikuti proses belajar digedung tersebut.

"Apa boleh buat kami terpaksa melakukan penyegelan meskipun ratusan siswa yang terkena imbasnya. Sesungguhnya kami tak pernah berpikir seperti ini, namun karena tak ada jawaban yang jelas dari pihak kepala sekolah maka jalan satu-satunya yang kami tempuh adalah menutup untuk sementara," kuncinya.

(T.PSO-104/S016)