Bawa Musik Planet Ke Kiblat Musik Dunia

id musisi

Aloysius Suwardi (Foto ANTARA/Zeynita Gibbons)

        London (Antaranews Sulsel) - Bagi komposer, pakar gamelan Aloysius Suwardi menampilkan komposisi unik dari alat musik yang diciptakannya dari lonceng yang biasa diikatkan di kepala kerbau yang dirangkaikan dan bekas pipa air serta kawat menghasilkan bunyi tidak kalah indahnya dengan gamelan Jawa maupun lentingan piano  di gereja.
        Konser yang dilakukan Pak Al (67) demikian seniman asal Surakarta yang menamatkan pendidikan di Akademi Seni Karawitan Surakarta dan meraih gelar master dalam bidang etnomusikologi dari Westleyan University di Connecticut, Amerika Serikat - biasa disapa menampilkan komposisi konser  berjudul Planet Harmonik yang digelar sebagai puncak acara Festival Europalia Indonesia di London, mengundang pujian.
        Kehadiran Pak Al di Inggris bukan yang pertama kali namun bagi sebagian masyarakat menyebutkan Inggris sebagai kiblat musik barat  melahirkan The Beatles  dan Bee Gees  dengan mudah dapat menerima konser musik dengan alat musik yang tidak biasa itu.
        Dalam bincang-bincang santai dengan Antara London sebelum pementasan Planet Harmonik di Milton Court Concert Hall Barbican, London,  Kamis malam lalu, Pak Al menyebutkan musik yang diusungnya ini memang berbeda dengan musik gamelan bagaimana tidak alat musik yang menyerupai piano  terpasang didinding di sebilah kayu suaranya menyerupai denting piano  dipukul dengan alat pukul pada gamelan.
        Begitu pun lonceng yang biasa dipasang di kepala kerbau dengan berbagai ukuran mulai dari yang kecil hingga besar disusun melingkar menyerupai gamelan dan ada juga yang di gantung berderet yang diberi nama sesuai dengan bunyinya seperti klonthong, klunthung, glendhang, klinthing, klenthar ya sesuai dengan suara yang keluar.
        Pak Al juga membuat alat musik dari pipa air dan balok yang disebutnya dengan alat musik balok besi, batang besi dan jalenthir.
        Setiap alat musik yang diciptakan membutuhkan perenungan hingga dapat menghasilkan bunyi seperti yang diharapkannya. Pak Al pun mengajak seniman muda dari Solo untuk membantu mewujudkan cita-cita nya membuat okestra yang tidak biasa.
        Pengumpulan berbagai suara yang beredar di planet bumi ini seakan-akan menjadi dalam satu harmoni di tangan Pak Al, apalagi dengan kehadiran seniwati pesinden yang mengiringi musik Planet Harmoni nya. Dengan suara melengking Deni Wulandari yang menjadi vokal malam itu membuat orkestra Planet Harmoni semakin lengkap.
        Planet Suwardi Harmonik mendapat inspirasi dari teori Musik Langit Pythagoras. Ini adalah gagasan bahwa hubungan proporsional antara planet setara dengan hubungan antara catatan musik - bahwa Matahari, Bulan dan Bumi semua memancarkan nada mereka sendiri. Dan seperti planet, itu adalah bagian yang bergerak dengan rahmat meski kompleksitasnya, berakar pada sejarah gamelan yang kaya sambil juga melihat ke masa depan, ujarnya.
        Konsep Pythagoras dari kosmos sebagai terdiri atas bidang yang terpisah, masing-masing untuk planet, bulan, dan matahari, bergerak mengelilingi bumi dengan kecepatan yang berbeda, menghasilkan suara yang berbeda.
        Membawa bersama-sama sejumlah instrumen buatannya sendiri - dari gambang, hingga seruling bambu hidrolik -pertunjukan Planet Harmoni dipresentasikan bersamaan dengan berakhirnya Festival Europalia Indonesia yang berlangsung sejak bulan Oktober lalu.
        Aloysius Suwardi belajar musik gamelan di konservatori SMA (Kokar) lalu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, konservatori perguruan tinggi) di Surakarta menyelesaikan gelar MA dalam bidang etnomusikologi di Universitas Wesleyan, Amerika Serikat mengajar  musik  di berbagai negara.
        Pria kelahiran di Sukoharjo, Jawa Tengah, menggeluti  bidang  etnomusikologi, utamanya karawitan banyak menciptakan musik-musik tradisi dan bersama  kelompok Dapur Kreatif Planet Harmonik, Pak Al pun berhasil mendapat pujian dari pecinta seni musik di Inggris Raya yang menjadi kiblat musik dunia.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar