Logo Header Antaranews Makassar

SYL berharap kran ekspor beras dibuka

Selasa, 30 Januari 2018 20:51 WIB
Image Print
Ilustras - beras (Antara News)
Jadi impor beras itu harus masuk sebagai agenda emergency bukan agenda permanen. Jadi betul-betul hanya emergency karena takut tiba-tiba kehabisan stok, saya kira begitu. Karena kita sudah panen, jangan sampai hasil produksi petani kita tidak dibeli

Makassar (Antaranews Sulsel) - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap kebijakan pemerintah soal impor beras juga harus diselaraskan dengan cara membuka kran ekspor beras dari daerah yang memiliki kelebihan stok seperti halnya di Sulsel.

Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Selasa, mengakui jika persoalan impor beras memang sudah menjadi kewenangan dari pemerintah pusat.

"Tentu saja itu domain pemerintah pusat (keputusan impor beras). Namun yang selalu saya katakan jika impor boleh maka ekspor juga bisa dilakukan," katanya pada acara pertemuan tahunan industri jasa keuangan Provinsi Sulawesi Selatan hari ini.

Stok beras Sulsel sendiri saat ini memang dinilai masih dalam status aman. Bahkan provinsi itu juga tetap konsisten untuk mengirimkan beras hasil produksi petani di daerah itu untuk kemudian dijual keberbagai provinsi di tanah air.

"Jika ekspor bisa dilakukan maka kelebihan beras yang kita miliki kan bisa diekspor," kata Gubernur Sulsel dua periode tersebut.

Selain itu, dirinya juga mengingatkan jika impor beras ini harusnya hanya sebagai agenda darurat dan bukan merupakan agenda permanen atau dilakukan secara terus-menerus.

"Jadi impor beras itu harus masuk sebagai agenda emergency bukan agenda permanen. Jadi betul-betul hanya emergency karena takut tiba-tiba kehabisan stok, saya kira begitu. Karena kita sudah panen, jangan sampai hasil produksi petani kita tidak dibeli," ujarnya.

Sebelumnya, para petani disejumlah daerah di Pulau Jawa seperti halnya di daerah Klaten, Bojonegoro hingga Demak melakukan penolakan impor beras.

Adapun alasan para petani itu dikarenakan waktu musim panen raya yang segera datang. Selain itu, biaya yang dikeluarkan para petani juga cukup besar sehingga dianggap tidak tercukupi jika pada akhirnya harus mendatangkan beras dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran saat ini.



Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026