"Teaching Industry" Unhas kembangkan kultur bibit anggrek
Jumat, 14 September 2018 18:46 WIB
Seorang mahasiswa peneliti mengatur botol-botol berisi bibit anggrek yang dikembangkan secara kultur jaringan di Teaching Industry Unhas. (Foto istimewa)
Makassar (Antaranews Sulsel) - "Teaching Industry" Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan kultur jaringan bibit berbagai spesies anggrek alam maupun anggrek hibrida dengan melibatkan mahasiswa dan peneliti.
"Beberapa spesies yang kami kembangkan yaitu anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek macan (Grammatophyllum scriptum), serta berbagai jenis anggrek Phalaenopsis, Dendrobium, dan hasil persilangannya," jelas Ketua Unit Perbenihan "Teaching Industry" Unhas Rinaldi Sjahril yang ditemui di Makassar, Jumat.
Pengembangan bibit anggrek ini, kata Rinaldi, merupakan salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, dan merupakan bagian dari Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK).
Rinaldi yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Bio Sains dan Bioteknologi Reproduksi Tanaman Unhas sekaligus Ketua Tim PPUPIK Pengembangan Bibit Anggrek ini menjelaskan, selama ini para pengusaha tanaman hias khususnya anggrek di Sulsel sangat tergantung pada bibit anggrek dari Pulau Jawa yang harganya cukup mahal, dan resiko kerusakan akibat transportasinya juga cukup besar.
Di sisi lain, kata dia, Unhas memiliki sumber daya manusia yaitu mahasiswa dan peneliti serta fasilitas laboratorium di "Teaching Industry" yang sangat memadai untuk memproduksi bibit anggrek dalam jumlah banyak dan seragam melalui teknik kultur jaringan.
Melalui kegiatan ini, lanjutnya, pihaknya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya pengusaha tanaman terhadap bibit anggrek yang berkualitas dan terjangkau, sekaligus mendorong kewirausahaan mahasiswa, dan berkembangnya budaya pemanfaatan hasil riset Unhas di masyarakat.
"Dalam kegiatan ini, kami telah menjalin kemitraan dengan pengusaha tanaman hias lokal yang berada di Makassar yang memiliki kebun anggrek di Bulu Dua, Kabupaten Barru, kami juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang ingin bermitra," imbuhnya.
Pengembangan bibit anggrek ini, tanbahnya, juga menunjang otonomi kampus Unhas melalui perolehan pendapatan mandiri atau bermitra,
memberikan kesempatan dan pengalaman kerja kepada mahasiswa, dan membantu menciptakan akses bagi terciptanya wirausaha baru.
Selain pengembangan bibit anggrek, kata dia, "Teaching Industry" juga menggelar pelatihan tentang teknik kultur jaringan skala rumah tangga.
Dalam pelatihan yang menyasar guru dan pengusaha tanaman hias ini, pihaknya mengajarkan penyederhanaan teknik kultur jaringan tanaman sehingga dapat dilakukan pada skala rumah tangga.
"Kami berharap hasil penelitian kami tidak hanya menjadi milik kampus, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum," kata dia.
"Beberapa spesies yang kami kembangkan yaitu anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek macan (Grammatophyllum scriptum), serta berbagai jenis anggrek Phalaenopsis, Dendrobium, dan hasil persilangannya," jelas Ketua Unit Perbenihan "Teaching Industry" Unhas Rinaldi Sjahril yang ditemui di Makassar, Jumat.
Pengembangan bibit anggrek ini, kata Rinaldi, merupakan salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, dan merupakan bagian dari Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK).
Rinaldi yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Bio Sains dan Bioteknologi Reproduksi Tanaman Unhas sekaligus Ketua Tim PPUPIK Pengembangan Bibit Anggrek ini menjelaskan, selama ini para pengusaha tanaman hias khususnya anggrek di Sulsel sangat tergantung pada bibit anggrek dari Pulau Jawa yang harganya cukup mahal, dan resiko kerusakan akibat transportasinya juga cukup besar.
Di sisi lain, kata dia, Unhas memiliki sumber daya manusia yaitu mahasiswa dan peneliti serta fasilitas laboratorium di "Teaching Industry" yang sangat memadai untuk memproduksi bibit anggrek dalam jumlah banyak dan seragam melalui teknik kultur jaringan.
Melalui kegiatan ini, lanjutnya, pihaknya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya pengusaha tanaman terhadap bibit anggrek yang berkualitas dan terjangkau, sekaligus mendorong kewirausahaan mahasiswa, dan berkembangnya budaya pemanfaatan hasil riset Unhas di masyarakat.
"Dalam kegiatan ini, kami telah menjalin kemitraan dengan pengusaha tanaman hias lokal yang berada di Makassar yang memiliki kebun anggrek di Bulu Dua, Kabupaten Barru, kami juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang ingin bermitra," imbuhnya.
Pengembangan bibit anggrek ini, tanbahnya, juga menunjang otonomi kampus Unhas melalui perolehan pendapatan mandiri atau bermitra,
memberikan kesempatan dan pengalaman kerja kepada mahasiswa, dan membantu menciptakan akses bagi terciptanya wirausaha baru.
Selain pengembangan bibit anggrek, kata dia, "Teaching Industry" juga menggelar pelatihan tentang teknik kultur jaringan skala rumah tangga.
Dalam pelatihan yang menyasar guru dan pengusaha tanaman hias ini, pihaknya mengajarkan penyederhanaan teknik kultur jaringan tanaman sehingga dapat dilakukan pada skala rumah tangga.
"Kami berharap hasil penelitian kami tidak hanya menjadi milik kampus, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum," kata dia.
Pewarta : Nurhaya J Panga
Editor : Amirullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seaweed Forum Strengthens Bilateral Collaboration in Indonesia-Australia Seaweed Industry
27 July 2023 15:04 WIB, 2023
Kemenperin akan melakukan sertifikasi SDM industri makanan dan minuman
03 April 2023 15:14 WIB, 2023
PLN akan pasok listrik 800 MVA untuk "smelter" nikel di Kutai Kertanegara
31 December 2021 23:19 WIB, 2021
Presiden Jokowi ingatkan pemerintah daerah jaga iklim investasi kondusif
27 December 2021 18:43 WIB, 2021
Kemenperin menjaring ratusan peserta Indonesia Halal Industry Award 2021
03 November 2021 11:58 WIB, 2021
Menteri Perindustrian luncurkan Indonesia Halal Industry Award 2021
22 September 2021 15:34 WIB, 2021
Kementerian ESDM: Pemanfaatan PLTS oleh masyarakat tak boleh ditunda
02 September 2021 15:46 WIB, 2021