IGI latih 1,6 juta guru tanpa anggaran negara
Sabtu, 23 Maret 2019 23:18 WIB
Makassar (ANTARA) - Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat Muhammad Ramli Rahim mengatakan pihaknya telah berhasil melatih tidak kurang dari 1,6 juta guru tanpa menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan APBN.
Muhammad Ramli Rahim mengatakan itu pada acara Indonesia STEAM Week (ISW) yang dipusatkan di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel di Makassar, Sabtu (23/3).
"Kami sudah berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru. Dan sampai saat ini, sudah ada 1,6 juta guru di seluruh Indonesia yang berhasil kita latih," katanya.
Ia menjelaskan, komitmen organisasi yang dipimpinnya itu membantu pihak pemerintah karena para haknya begitu yakin bahwa tanpa dukungan seluruh pihak, maka akan sulit diwujudkan.
Banyaknya regulasi yang harus dilakukan dan begitu sulit hingga merasa tidak mampu mewujudkan, tentunya menjadi persoalan yang begitu penting untuk menjadi perhatian.
"Jika ada bantuan di daerah, tentu kami sangat berterima kasih, tetapi tanpa bantuan pun, kami bisa tetap berjalan. Inilah yang kita maksud sebagai gerakan," ujarnya.
Menurut dia, dalam tiga tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan yang lebih baik. Mulai dari persoalan guru nyontek bikin RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) dan nyontek bikin karya ilmiah.
Namun sekarang para guru justru sudah bisa menulis dan membuat buku yang tentu saja menjadi sesuatu yang membanggakan dan layak dijadikan contoh.
"Ini merupakan perubahan besar dari para guru-guru kita. Ini tidak hanya terjadi di Sulsel namun di salah satu kabupaten di Jawa Tengah yakni Wonogiri, justru guru di sana hampir menghasilkan sebanyak 500 buku," ujarnya.
Muhammad Ramli Rahim mengatakan itu pada acara Indonesia STEAM Week (ISW) yang dipusatkan di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel di Makassar, Sabtu (23/3).
"Kami sudah berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru. Dan sampai saat ini, sudah ada 1,6 juta guru di seluruh Indonesia yang berhasil kita latih," katanya.
Ia menjelaskan, komitmen organisasi yang dipimpinnya itu membantu pihak pemerintah karena para haknya begitu yakin bahwa tanpa dukungan seluruh pihak, maka akan sulit diwujudkan.
Banyaknya regulasi yang harus dilakukan dan begitu sulit hingga merasa tidak mampu mewujudkan, tentunya menjadi persoalan yang begitu penting untuk menjadi perhatian.
"Jika ada bantuan di daerah, tentu kami sangat berterima kasih, tetapi tanpa bantuan pun, kami bisa tetap berjalan. Inilah yang kita maksud sebagai gerakan," ujarnya.
Menurut dia, dalam tiga tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan yang lebih baik. Mulai dari persoalan guru nyontek bikin RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) dan nyontek bikin karya ilmiah.
Namun sekarang para guru justru sudah bisa menulis dan membuat buku yang tentu saja menjadi sesuatu yang membanggakan dan layak dijadikan contoh.
"Ini merupakan perubahan besar dari para guru-guru kita. Ini tidak hanya terjadi di Sulsel namun di salah satu kabupaten di Jawa Tengah yakni Wonogiri, justru guru di sana hampir menghasilkan sebanyak 500 buku," ujarnya.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemerhati : Pendidikan harus diarahkan ke penguatan teknologi digital
30 January 2022 5:51 WIB, 2022
IGI sambut positif penundaan pemberlakuan "new normal" di dunia pendidikan
31 May 2020 14:56 WIB, 2020
IGI : Kementerian perlu manfaatkan Hardiknas untuk susun pedoman kelas jauh
03 May 2020 5:21 WIB, 2020
Ketua IGI : HGN momentum peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru
25 November 2019 17:14 WIB, 2019
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Konsorsium Internasional Pendidikan Tanggap Bencana libatkan Universitas Hasanuddin
15 January 2020 10:48 WIB, 2020
Dirjen Pendis : Mutu pendidikan Indonesia diharapkan keluar dari peringkat 72
17 December 2019 5:06 WIB, 2019