MIPA didorong bersiap hadapi tantangan 2030
Senin, 29 April 2019 7:28 WIB
Akademisi Universitas Indonesia Dr Syamsu Rosid pada kegiatan seminar nasional bertajuk "Peran MIPA dalam menghadapi industri 4.0" di Gedung Al Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Minggu (28/4). ANTARA FOTO/Abd Kadir
Makassar (ANTARA) - Akademisi Universitas Indonesia Dr Syamsu Rosid mengatakan prediksi ancaman kehilangan pekerjaan hingga 800 juta pada 2030 harus menjadi fokus para mahasiswa ataupun alumni fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) agar tidak menjadi korban kedepan.
Dr Syamsu Rosid di Makassar, Minggu, mengatakan ancaman kehilangan pekerjaan karena sudah diambil alih sistem digitalisasi dan otomatisasi harus disikapi dengan positif.
"Memang bukan hal yang mudah (mengatasi ancaman itu). Khusus bagi orang fisika, harus berfikiran terbuka dan siap menerima segala perubahan yang diakibatkan digitalisasi," katanya pada kegiatan seminar nasional bertajuk "Peran MIPA dalam menghadapi industri 4.0" di Gedung Al Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar hari ini.
Ia menjelaskan, persoalan ancaman krisis pekerjaan di 2030 tentunya bukan hanya masalah MIPA, namun bagi seluruh aspek atau bidang ilmu dan profesi.
Termasuk tentunya para pengambil kebijakan untuk mencari solusi terbaik agar kondisi yang dikhawatirkan itu tidak terjadi atau berdampak khususnya di Indonesia.
Mengenai kemungkinan prediksi itu terjadi, dirinya mengakui jika kondisi itu sudah terlihat saat ini.
Yakni manusia kini telah digantikan oleh digitalisasi seperti hanya di bidang angkutan atau transportasi.
Saat ini, kata dia, sudah banyak sopir angkot, supir taksi ataupun tukang ojek pangakalan yang harus kehilangan pekerjaan setelah adanya layanan berbasis aplikasi sepeti gojek ataupun grab.
Begitupun dengan petugas tiket tol juga telah dirumahkan karena digantikan dengan peralatan otomatis yang memang lebih efektif dan efisien dalam hal waktu dan sebagainya.
"Termasuk pekerja di toko-toko atau mal juga banyak yang dirumahkan dengan adanya belanja online. Khusus MIPA tentu harus menjadi perhatian," ujarnya.
Dr Syamsu Rosid di Makassar, Minggu, mengatakan ancaman kehilangan pekerjaan karena sudah diambil alih sistem digitalisasi dan otomatisasi harus disikapi dengan positif.
"Memang bukan hal yang mudah (mengatasi ancaman itu). Khusus bagi orang fisika, harus berfikiran terbuka dan siap menerima segala perubahan yang diakibatkan digitalisasi," katanya pada kegiatan seminar nasional bertajuk "Peran MIPA dalam menghadapi industri 4.0" di Gedung Al Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar hari ini.
Ia menjelaskan, persoalan ancaman krisis pekerjaan di 2030 tentunya bukan hanya masalah MIPA, namun bagi seluruh aspek atau bidang ilmu dan profesi.
Termasuk tentunya para pengambil kebijakan untuk mencari solusi terbaik agar kondisi yang dikhawatirkan itu tidak terjadi atau berdampak khususnya di Indonesia.
Mengenai kemungkinan prediksi itu terjadi, dirinya mengakui jika kondisi itu sudah terlihat saat ini.
Yakni manusia kini telah digantikan oleh digitalisasi seperti hanya di bidang angkutan atau transportasi.
Saat ini, kata dia, sudah banyak sopir angkot, supir taksi ataupun tukang ojek pangakalan yang harus kehilangan pekerjaan setelah adanya layanan berbasis aplikasi sepeti gojek ataupun grab.
Begitupun dengan petugas tiket tol juga telah dirumahkan karena digantikan dengan peralatan otomatis yang memang lebih efektif dan efisien dalam hal waktu dan sebagainya.
"Termasuk pekerja di toko-toko atau mal juga banyak yang dirumahkan dengan adanya belanja online. Khusus MIPA tentu harus menjadi perhatian," ujarnya.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Iptek
Lihat Juga
Menristek: Forum Indonesia-Prancis tingkatkan iklim penelitian di Indonesia
31 October 2019 12:09 WIB, 2019