Quebec Kanada larang berhijab
Rabu, 15 Mei 2019 19:44 WIB
Salah satu pemandangan di sudut Kota Kanada. (Google.Co.Id/Dok)
Trenton, Kanada (ANTARA) - Dengar pendapat mengenai rancangan peraturan yang melarang lambang agama pada pekerjaan tertentu di Quebec dilanjutkan pada Selasa (14/5) dan satu kelompok penganjur mengatakan usul kontroversial itu telah mengakibatkan peningkatan pelecehan terhadap Muslimah.
Justice Femme, satu kelompok Montreal yang memberi dukungan buat perempuan, menyatakan organisasi itu menerima 40 telepon lebih dari perempuan yang memakai hijab sejak Bill 21 diperkenalkan pada Maret.
Rancangan peraturan tersebut akan melarang siapa saja di dinas pelayanan umum Quebec, termasuk guru, memakai lambang agama seperti hijab, salib Kristen dan kippa Yahudi saat menghadapi masyarakat umum.
Rancangan peraturan itu, yang dikatakan Pemerintah Quebec dirancang untuk memisahkan negara dari agama, meningkatkan celah yang dipandang banyak orang karena secara tidak adil ditujukan kepada kaum Muslimah yang memakai hijab.
Pada awal Mei, ratusan warga Montreal, Kanada, membentuk rantai manusia di sekitar gedung legislatif Quebec untuk memprotes peraturan itu.
Dengar pendapat tersebut, yang dilakukan oleh pejabat terpilih, adalah kesempatan buat banyak organisasi yang mendukung dan menentang rancangan peraturan itu untuk mengajukan argumentasi mereka, kata Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu sore.
Pada Selasa, Justice Femme menyerahkan temuannya demikian juga dengan Wali Kota Montreal Valerie Plante.
Di dalam satu pernyataan tertulis yang disiarkan sebelum wanita pejabat tersebut tampil, Plante mengatakan, "Sulit buat saya untuk menerima pembatasan hak dan kebebasan individu ini."
Para pejabat Justice Femme mengatakan rancangan peraturan tersebut berfungsi untuk menyoroti Islamfobia dan bentuk lain kebencian.
Organisasi itu menyebutkan empat kasus penyerangan fisik, termasuk dua upaya untuk merobek jilbab beberapa perempuan dan perbuatan meludahi seorang perempuan lain; enam kasus pelecehan di tempat kerja dan lebih dari 12 kasus perundungan di dunia maya.
Pada musim gugur, ketika rancangan peraturan tersebut pertama kali dipertimbangkan, Perdana Menteri Justin Trudeau menyuarakan penentangannya.
"Sebagaimana kalian sangat tahu, saya tidak mendukung pendapat bahwa negara mesti bisa memberitahu seorang perempuan apa yang bisa ia pakai, dan juga tidak apa yang tak bisa ia kenakan," kata Trudeau kepada wartawan.
Dengar pendapat itu berlangsung selama enam hari dan diperkirakan selesai pada 16 Mei.
Pemerintah berharap bisa melaksanakan Bill 21 pada pertengahan Juni.
Sumber: Anadolu Agency
Justice Femme, satu kelompok Montreal yang memberi dukungan buat perempuan, menyatakan organisasi itu menerima 40 telepon lebih dari perempuan yang memakai hijab sejak Bill 21 diperkenalkan pada Maret.
Rancangan peraturan tersebut akan melarang siapa saja di dinas pelayanan umum Quebec, termasuk guru, memakai lambang agama seperti hijab, salib Kristen dan kippa Yahudi saat menghadapi masyarakat umum.
Rancangan peraturan itu, yang dikatakan Pemerintah Quebec dirancang untuk memisahkan negara dari agama, meningkatkan celah yang dipandang banyak orang karena secara tidak adil ditujukan kepada kaum Muslimah yang memakai hijab.
Pada awal Mei, ratusan warga Montreal, Kanada, membentuk rantai manusia di sekitar gedung legislatif Quebec untuk memprotes peraturan itu.
Dengar pendapat tersebut, yang dilakukan oleh pejabat terpilih, adalah kesempatan buat banyak organisasi yang mendukung dan menentang rancangan peraturan itu untuk mengajukan argumentasi mereka, kata Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu sore.
Pada Selasa, Justice Femme menyerahkan temuannya demikian juga dengan Wali Kota Montreal Valerie Plante.
Di dalam satu pernyataan tertulis yang disiarkan sebelum wanita pejabat tersebut tampil, Plante mengatakan, "Sulit buat saya untuk menerima pembatasan hak dan kebebasan individu ini."
Para pejabat Justice Femme mengatakan rancangan peraturan tersebut berfungsi untuk menyoroti Islamfobia dan bentuk lain kebencian.
Organisasi itu menyebutkan empat kasus penyerangan fisik, termasuk dua upaya untuk merobek jilbab beberapa perempuan dan perbuatan meludahi seorang perempuan lain; enam kasus pelecehan di tempat kerja dan lebih dari 12 kasus perundungan di dunia maya.
Pada musim gugur, ketika rancangan peraturan tersebut pertama kali dipertimbangkan, Perdana Menteri Justin Trudeau menyuarakan penentangannya.
"Sebagaimana kalian sangat tahu, saya tidak mendukung pendapat bahwa negara mesti bisa memberitahu seorang perempuan apa yang bisa ia pakai, dan juga tidak apa yang tak bisa ia kenakan," kata Trudeau kepada wartawan.
Dengar pendapat itu berlangsung selama enam hari dan diperkirakan selesai pada 16 Mei.
Pemerintah berharap bisa melaksanakan Bill 21 pada pertengahan Juni.
Sumber: Anadolu Agency
Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wali Kota Makassar buka forum konsultasi publik rancangan awal RPJMD 2025-2029
05 March 2025 20:35 WIB
Komisi II DPR setujui rancangan PKPU soal pemakaian Sirekap di Pilkada 2024
26 September 2024 7:24 WIB, 2024
Sidang Paripurna MPR Akhir 2019-2024 menyetujui dua rancangan putusan
25 September 2024 13:34 WIB, 2024
Pemerintah dan DPR menyepakati 122 RUU Kabupaten/Kota dilanjutkan pada periode selanjutnya
25 September 2024 0:55 WIB, 2024
Komisi II DPR menyetujui tiga Rancangan PKPU dan tiga Rancangan Perbawaslu
26 August 2024 17:55 WIB, 2024
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Keluar rel akibatkan kereta cepat kecelakaan di Spanyol, 21 orang tewas dan ratusan terluka
19 January 2026 9:37 WIB
Perkuat satuan militer, Prancis segera kerahkan pasukan darat, laut, udara ke Greenland
16 January 2026 18:10 WIB