Akademisi: bentengi anak dengan pendidikan seks dan agama
Sabtu, 15 Juni 2019 16:27 WIB
"Memang dalam membahasakannya perlu dengan konteks komunikasi yang sesuai dengan pemahaman dan usia anak serta lingkungannya," katanya.
Makassar (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Dr Hadawiah Hatita, MSi mengingatkan pentingnya membentengi anak dengan pendidikan seks dan agama dalam menghadapi persoalan global dewasa ini.
Hal itu dikemukakan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMI Hadawiah di Makassar, Sabtu, menanggapi viralnya video “jangan nyalakan blitznya” beberapa hari terakhir ini terkait kasus anak di Kabupaten Bulukumba, Sulsel.
Menurut dia, peranan komunikasi yang baik di tingkat rumah tangga selaku organisasi terkecil di masyarakat perlu dibina dengan memberikan pendidikan seks yang dilandasi ajaran agama.
Dia mengatakan, pendidikan seks bukan suatu hal tabu untuk dikomunikasikan dengan anak agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang menyesatkan dan berakibat fatal.
"Memang dalam membahasakannya perlu dengan konteks komunikasi yang sesuai pemahaman dan usia anak serta lingkungannya," katanya.
Kondisi serupa harusnya juga terjadi di lingkungan sekolah, sehingga peranan guru juga sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa.
"Kedua hal inilah yang harus berjalan beriringan, sehingga anak-anak menjadi terarah dan dapat mengeliminasi kasus asusila seperti yang dilakukan oknum siswa di Bulukumba," kata alumni program doktoral Universitas Padjajaran ini.
Sementara upaya penindakan cepat di lapangan, lanjut Hadawiah, peran pemerintah dan lembaga terkait seperti P2TP2A Provinsi dan Kabupaten Bulukumba segera turun tangan, termasuk pihak Infokom yang merupakan pemantau media sosial di lapangan.
Hal itu dikemukakan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMI Hadawiah di Makassar, Sabtu, menanggapi viralnya video “jangan nyalakan blitznya” beberapa hari terakhir ini terkait kasus anak di Kabupaten Bulukumba, Sulsel.
Menurut dia, peranan komunikasi yang baik di tingkat rumah tangga selaku organisasi terkecil di masyarakat perlu dibina dengan memberikan pendidikan seks yang dilandasi ajaran agama.
Dia mengatakan, pendidikan seks bukan suatu hal tabu untuk dikomunikasikan dengan anak agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang menyesatkan dan berakibat fatal.
"Memang dalam membahasakannya perlu dengan konteks komunikasi yang sesuai pemahaman dan usia anak serta lingkungannya," katanya.
Kondisi serupa harusnya juga terjadi di lingkungan sekolah, sehingga peranan guru juga sangat berpengaruh terhadap perilaku siswa.
"Kedua hal inilah yang harus berjalan beriringan, sehingga anak-anak menjadi terarah dan dapat mengeliminasi kasus asusila seperti yang dilakukan oknum siswa di Bulukumba," kata alumni program doktoral Universitas Padjajaran ini.
Sementara upaya penindakan cepat di lapangan, lanjut Hadawiah, peran pemerintah dan lembaga terkait seperti P2TP2A Provinsi dan Kabupaten Bulukumba segera turun tangan, termasuk pihak Infokom yang merupakan pemantau media sosial di lapangan.
Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
200 dokter gigi anak bersatu wujudkan senyum sehat di Pulau Kodingareng Makassar
01 May 2026 22:27 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Konsorsium Internasional Pendidikan Tanggap Bencana libatkan Universitas Hasanuddin
15 January 2020 10:48 WIB, 2020
Dirjen Pendis : Mutu pendidikan Indonesia diharapkan keluar dari peringkat 72
17 December 2019 5:06 WIB, 2019