Tembakau kualitas super di Temanggung belum terserap pabrikan
Selasa, 8 Oktober 2019 7:47 WIB
Ilustrasi: Warga memanen tembakau di persawahan desa Mento, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (22/8/2019). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/pd. (ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN)
Temanggung (ANTARA) - Tembakau kualitas super pada akhir masa panen 2019 di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, belum terserap pabrikan, kata Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Temanggung, Noer Ahsan.
Ahsan di Temanggung, Selasa, mengatakan tembakau yang belum terserap tersebut kebanyakan di wilayah Sumbing, yakni tembakau dengan kualitas G dan F yang merupakan tembakau srintil.
Ia menyebutkan harga di tingkat pedagang untuk kualitas G antara Rp200.000 hingga Rp250.000 per kilogram dan kualitas F mencapai Rp500.000 per kilogram.
"Harga tersebut pembelian di tingkat pedagang, sedangkan pabrikan belum ada yang membeli tembakau kualitas tersebut," katanya.
Ia menyebutkan tembakau yang masih di tingkat petani saat ini sekitar 30 persen yang justru tembakau kualitas bagus.
"Pabrikan belum membeli tembakau kualitas super tersebut, kemungkinan karena harganya tinggi. Mereka inginnya membeli dengan harga rendah, di bawah Rp100.000 per kilogram. Dalam hal ini petani tidak bisa berbuat banyak, karena perdagangan tembakau bersifat monopsoni," katanya.
Ia menuturkan dalam dua tahun terakhir kasusnya hampir sama, yakni cuaca bagus tetapi di akhir panen dengan tembakau kualitas bagus justru tidak terserap pabrikan.
"Pada 2017 bisa dimaklumi karena bulan Oktober sudah hujan deras, sedangkan tahun 2018 dan 2019 bulan Oktober masih kemarau sehingga hasil panen tembakau bagus," kata Ahsan.
Menurut dia, satu-satunya jalan untuk mengatasi hal tersebut dengan menjual tembakau eceran, namun butuh waktu lama.
"Tembakau grade G dan F dijual eceran dengan harga Rp50.000 hingga Rp100.000 per ons," katanya.
Sebelumnya, Bupati Temanggung M Al Khadziq mengatakan bahwa Pemkab Temanggung telah mengirimkan tim untuk menyampaikan surat ke dua pabrik rokok PT Djarum dan PT Gudang Garam yang berisi permohonan agar pabrik rokok menambah kuota pembeliannya mengingat sampai akhir September 2019 masih banyak tembakau di sawah atau ladang.
"Selain itu, kami juga meminta pabrik rokok untuk mempertahankan harga tembakau tetap stabil, jangan sampai harga turun di akhir musim," katanya.
Ahsan di Temanggung, Selasa, mengatakan tembakau yang belum terserap tersebut kebanyakan di wilayah Sumbing, yakni tembakau dengan kualitas G dan F yang merupakan tembakau srintil.
Ia menyebutkan harga di tingkat pedagang untuk kualitas G antara Rp200.000 hingga Rp250.000 per kilogram dan kualitas F mencapai Rp500.000 per kilogram.
"Harga tersebut pembelian di tingkat pedagang, sedangkan pabrikan belum ada yang membeli tembakau kualitas tersebut," katanya.
Ia menyebutkan tembakau yang masih di tingkat petani saat ini sekitar 30 persen yang justru tembakau kualitas bagus.
"Pabrikan belum membeli tembakau kualitas super tersebut, kemungkinan karena harganya tinggi. Mereka inginnya membeli dengan harga rendah, di bawah Rp100.000 per kilogram. Dalam hal ini petani tidak bisa berbuat banyak, karena perdagangan tembakau bersifat monopsoni," katanya.
Ia menuturkan dalam dua tahun terakhir kasusnya hampir sama, yakni cuaca bagus tetapi di akhir panen dengan tembakau kualitas bagus justru tidak terserap pabrikan.
"Pada 2017 bisa dimaklumi karena bulan Oktober sudah hujan deras, sedangkan tahun 2018 dan 2019 bulan Oktober masih kemarau sehingga hasil panen tembakau bagus," kata Ahsan.
Menurut dia, satu-satunya jalan untuk mengatasi hal tersebut dengan menjual tembakau eceran, namun butuh waktu lama.
"Tembakau grade G dan F dijual eceran dengan harga Rp50.000 hingga Rp100.000 per ons," katanya.
Sebelumnya, Bupati Temanggung M Al Khadziq mengatakan bahwa Pemkab Temanggung telah mengirimkan tim untuk menyampaikan surat ke dua pabrik rokok PT Djarum dan PT Gudang Garam yang berisi permohonan agar pabrik rokok menambah kuota pembeliannya mengingat sampai akhir September 2019 masih banyak tembakau di sawah atau ladang.
"Selain itu, kami juga meminta pabrik rokok untuk mempertahankan harga tembakau tetap stabil, jangan sampai harga turun di akhir musim," katanya.
Pewarta : Heru Suyitno
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Astra Agro dan CPOPC dorong petani sawit mandiri terapkan praktik sawit berkelanjutan
28 April 2026 12:13 WIB
Pemkab Sidrap hadirkan TeknoFarm Sarprofest dorong produktivitas padi petani
06 February 2026 6:20 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Belanja pemerintah pusat di Sulsel pada triwulan I 2026 mencapai Rp4,7 triliun
06 May 2026 14:22 WIB
BPS: Transportasi udara dan laut di Sulsel meningkat signifikan per Maret 2026
05 May 2026 20:59 WIB