Waspada, opini publik disetir oleh robot di media sosial
Jumat, 13 Desember 2019 9:55 WIB
Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Suprapdiono saat mengisi seminar publik di Universitas Paramadina Jakarta, Kamis (12/12/2019). (ANTARA/ Abdu Faisal)
Jakarta (ANTARA) - Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Suprapdiono mengatakan bahwa opini publik sehari-hari sering disetir oleh robot-robot (bot) untuk menggiring opini dan framing.
"Jadi, sekarang perang media sosial itu pakai metodologi. Perang bertujuan membuat bimbang sikap publik pada pemberantasan korupsi. Dalam rangka menggiring opini pembenaran atau justifikasi, digunakan bot-bot. Seperti yang diulas para pakar media sosial," ujar Giri saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Jika masyarakat harus lebih cerdas menyikapi ini sebab kemampuan klarifikasi di media arus utama belum bisa mengimbangi penggiringan opini bot-bot tadi.
"Kalau dibaca sekarang media arus utama pada komentarnya, misalnya ada 500 komentar yang berbicara jelek soal KPK, ada satu saja yang dukung KPK. Seakan-akan yang benar yang banyak tadi," ujar Giri.
Padahal, menurut dia, 500 komentar yang menjelekkan KPK, 499 di antaranya adalah robot. Media cetak dan media daring tidak bisa membalikkan opini robot itu karena media tersebut dalam analisis jaringan medsos berada pada posisi arbitrase (di tengah), tidak bisa mengimbangi derasnya opini tersebut.
Konferensi pers dan press release yang biasa dilakukan Juru Bicara dan Humas pun tidak bisa mengimbangi opini itu.
Dalam perang digital ini, kata Giri, masyarakat harus lebih cerdas dari bot tersebut.
"Jadi, masyarakat harus lebih cerdas. Kalau namanya @Rieni7646 belum tentu @Rieni7646 itu manusia. Jangan-jangan bot itu," ujar Giri.
Ia menambahkan kalau bot yang dipakai oleh para pendengung (buzzer) itu sudah digunakan untuk menggiring opini framing negatif kepada KPK dalam rangka pembenaran (justifikasi) revisi UU KPK dan macam-macam kepentingan lainnya.
Misalnya, isu taliban dan radikalisme di KPK, itu dipakai ciri-ciri yang terlihat secara fisik untuk menggiring alam bawah sadar masyarakat.
"Misalnya, jenggotan dibilang taliban, padahal bisa saja dia anggota klub motor. Atau, orang abis salat Zuhur, tiba-tiba disuruh menjemput Novel Baswedan di depan kantor, lalu dijepret, masih memakai kopiah. Nah, itu dikira taliban." ujar Giri.
Penggiringan opini juga dilakukan dengan framing. Misalnya, ada kasus KPK menangkap Ketua Umum PPP Romahurmuziy, lalu KPK menangkap mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, keduanya anggota Nahdlatul Ulama (NU). Karena mereka berdua kader NU, dibentuklah framing jika KPK memusuhi NU, padahal tidak demikian.
"Saya pernah ditanya, emang KPK menargetkan orang NU? Enggaklah. KPK cinta banget NU, Muhammadiyah, dan ormas lainnya. Banyak kerja sama kami lakukan. KPK itu imparsial, independen. Tidak berpihak, kecuali kebenaran dan keadilan," ujar Giri.
Lebih sulit lagi, menurut Giri, ketika framing dilakukan dengan dukungan visual. Karena masyarakat biasanya lebih sensitif dengan masalah visual, tidak pada sesuatu yang esensial.
Untuk mengatasi itu, selain memakai rasional, Giri menyarankan agar masyarakat diminta untuk memperbanyak bertanya dan proaktif dalam forum-forum diskusi.
"Forum-forum diskusi seperti itu penting. Karena metode perang pemikiran dan syaraf dalam mengendalikan otak manusia sekarang makin canggih," kata Giri.
"Jadi, sekarang perang media sosial itu pakai metodologi. Perang bertujuan membuat bimbang sikap publik pada pemberantasan korupsi. Dalam rangka menggiring opini pembenaran atau justifikasi, digunakan bot-bot. Seperti yang diulas para pakar media sosial," ujar Giri saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Jika masyarakat harus lebih cerdas menyikapi ini sebab kemampuan klarifikasi di media arus utama belum bisa mengimbangi penggiringan opini bot-bot tadi.
"Kalau dibaca sekarang media arus utama pada komentarnya, misalnya ada 500 komentar yang berbicara jelek soal KPK, ada satu saja yang dukung KPK. Seakan-akan yang benar yang banyak tadi," ujar Giri.
Padahal, menurut dia, 500 komentar yang menjelekkan KPK, 499 di antaranya adalah robot. Media cetak dan media daring tidak bisa membalikkan opini robot itu karena media tersebut dalam analisis jaringan medsos berada pada posisi arbitrase (di tengah), tidak bisa mengimbangi derasnya opini tersebut.
Konferensi pers dan press release yang biasa dilakukan Juru Bicara dan Humas pun tidak bisa mengimbangi opini itu.
Dalam perang digital ini, kata Giri, masyarakat harus lebih cerdas dari bot tersebut.
"Jadi, masyarakat harus lebih cerdas. Kalau namanya @Rieni7646 belum tentu @Rieni7646 itu manusia. Jangan-jangan bot itu," ujar Giri.
Ia menambahkan kalau bot yang dipakai oleh para pendengung (buzzer) itu sudah digunakan untuk menggiring opini framing negatif kepada KPK dalam rangka pembenaran (justifikasi) revisi UU KPK dan macam-macam kepentingan lainnya.
Misalnya, isu taliban dan radikalisme di KPK, itu dipakai ciri-ciri yang terlihat secara fisik untuk menggiring alam bawah sadar masyarakat.
"Misalnya, jenggotan dibilang taliban, padahal bisa saja dia anggota klub motor. Atau, orang abis salat Zuhur, tiba-tiba disuruh menjemput Novel Baswedan di depan kantor, lalu dijepret, masih memakai kopiah. Nah, itu dikira taliban." ujar Giri.
Penggiringan opini juga dilakukan dengan framing. Misalnya, ada kasus KPK menangkap Ketua Umum PPP Romahurmuziy, lalu KPK menangkap mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, keduanya anggota Nahdlatul Ulama (NU). Karena mereka berdua kader NU, dibentuklah framing jika KPK memusuhi NU, padahal tidak demikian.
"Saya pernah ditanya, emang KPK menargetkan orang NU? Enggaklah. KPK cinta banget NU, Muhammadiyah, dan ormas lainnya. Banyak kerja sama kami lakukan. KPK itu imparsial, independen. Tidak berpihak, kecuali kebenaran dan keadilan," ujar Giri.
Lebih sulit lagi, menurut Giri, ketika framing dilakukan dengan dukungan visual. Karena masyarakat biasanya lebih sensitif dengan masalah visual, tidak pada sesuatu yang esensial.
Untuk mengatasi itu, selain memakai rasional, Giri menyarankan agar masyarakat diminta untuk memperbanyak bertanya dan proaktif dalam forum-forum diskusi.
"Forum-forum diskusi seperti itu penting. Karena metode perang pemikiran dan syaraf dalam mengendalikan otak manusia sekarang makin canggih," kata Giri.
Pewarta : Abdu Faisal
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Diskominfo Makassar bahas penguatan digitalisasi layanan publik lewat FPD
04 February 2026 10:17 WIB
Pemerintah menerbitkan SE wajib bayar royalti lagu di ruang publik komersial
30 December 2025 6:09 WIB
BBPOM Makassar gelar KIE tematik layanan publik Inklusif bagi disabilitas
22 December 2025 12:35 WIB
Pemprov Sulbar dorong ASN internalisasi perspektif HAM pada layanan publik
26 November 2025 17:29 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB