Rektor IPB: Jadikan krisis momentum melahirkan inovasi
Senin, 26 Oktober 2020 19:16 WIB
Rektor IPB University Prof Arif Satria. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Jakarta (ANTARA) - Rektor IPB University Prof Arif Satria mengatakan setiap krisis termasuk pandemi COVID-19 yang sedang terjadi, hendaknya bisa dijadikan sebagai momentum untuk melahirkan inovasi.
"Perang Dunia II ternyata melahirkan komputer yang pertama tahun 1943, penicilin pertama tahun 1945, radar pertama dan mesin jet pertama pada 1945," kata Arif pada diskusi virtual yang dipantau di Jakarta, Senin.
Tidak hanya di luar negeri, di Indonesia krisis pandemi COVID-19 juga melahirkan 61 produk riset inovasi di antaranya tes cepat, PCR Test Kit, mobile lab BSL-2, ventilator, sistem AI untuk mendeteksi COVID-19 dan lain sebagainya.
Hal itu menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sebenarnya apabila dipaksa dan berpacu dengan waktu bisa melahirkan beragam inovasi.
Meskipun demikian, diakuinya dalam melahirkan sebuah inovasi terutama pada masa darurat COVID-19 tak jarang muncul kritik-kritik baik dari para kalangan ilmuwan maupun dari pihak lainnya.
"Mengkritik boleh tapi jangan melemahkan atau menyudutkan," ujar Prof Arif Satria.
Seharusnya dalam kondisi darurat, setiap pihak hendaknya saling mendorong dan menginspirasi agar melahirkan sejumlah inovasi yang bisa digunakan dalam melawan pandemi COVID-19.
"Negara yang besar adalah negara yang penuh dengan inspirasi," katanya.
Oleh sebab itu, ia berpandangan saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia ialah integritas, inovasi dan inspirasi agar lebih maju. Secara umum peluncuran produk riset dan inovasi konsorsium COVID-19 dapat dimaknai sebagai kebangkitan inovasi Indonesia.
Ke depan, diharapkan produk-produk hasil riset dan inovasi dalam negeri dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Tidak hanya selama pandemi COVID-19 namun juga untuk jangka panjang.
"Perang Dunia II ternyata melahirkan komputer yang pertama tahun 1943, penicilin pertama tahun 1945, radar pertama dan mesin jet pertama pada 1945," kata Arif pada diskusi virtual yang dipantau di Jakarta, Senin.
Tidak hanya di luar negeri, di Indonesia krisis pandemi COVID-19 juga melahirkan 61 produk riset inovasi di antaranya tes cepat, PCR Test Kit, mobile lab BSL-2, ventilator, sistem AI untuk mendeteksi COVID-19 dan lain sebagainya.
Hal itu menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sebenarnya apabila dipaksa dan berpacu dengan waktu bisa melahirkan beragam inovasi.
Meskipun demikian, diakuinya dalam melahirkan sebuah inovasi terutama pada masa darurat COVID-19 tak jarang muncul kritik-kritik baik dari para kalangan ilmuwan maupun dari pihak lainnya.
"Mengkritik boleh tapi jangan melemahkan atau menyudutkan," ujar Prof Arif Satria.
Seharusnya dalam kondisi darurat, setiap pihak hendaknya saling mendorong dan menginspirasi agar melahirkan sejumlah inovasi yang bisa digunakan dalam melawan pandemi COVID-19.
"Negara yang besar adalah negara yang penuh dengan inspirasi," katanya.
Oleh sebab itu, ia berpandangan saat ini yang dibutuhkan bangsa Indonesia ialah integritas, inovasi dan inspirasi agar lebih maju. Secara umum peluncuran produk riset dan inovasi konsorsium COVID-19 dapat dimaknai sebagai kebangkitan inovasi Indonesia.
Ke depan, diharapkan produk-produk hasil riset dan inovasi dalam negeri dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Tidak hanya selama pandemi COVID-19 namun juga untuk jangka panjang.
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sulbar dan IPB menandatangani nota kesepahaman pengelolaan data desa presisi
17 June 2022 15:38 WIB, 2022
Rektor IPB University Arif Satria dikukuhkan sebagai Ketua Umum ICMI
29 January 2022 14:29 WIB, 2022
Rektor IPB University Prof Arif Satria terkonfirmasi positif COVID-19
19 September 2020 17:43 WIB, 2020
Rektor : ekosistem perguruan tinggi di Indonesai sulitkah rektor asing
02 August 2019 23:46 WIB, 2019
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Kakanwil Kemenkum Sulbar dorong peningkatan kinerja layanan administratif dan fasilitatif
03 June 2026 15:52 WIB
Waspada, potensi gelombang hingga 4 meter di perairan selatan Indonesia tiga hari kedepan
03 June 2026 13:51 WIB