Dispar Sulbar optimalkan potensi wisata melalui tiga klaster
Selasa, 30 Maret 2021 17:01 WIB
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar Farid Wajdi (ANTARA/Amirullah)
Mamuju (ANTARA) - Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat akan mengoptimalkan potensi pariwisata di daerah yang juga tengah dilanda pandemi COVID-19 dan belum lama dilanda gempa magnitudo 6,2 melalui pengembangan tiga klaster.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar Farid Wajdi, dihubungi di Mamuju, Selasa, menyatakan pihaknya tengah fokus mengembangkan pariwisata pada klaster Sulbar Marasa 1, yang meliputi wilayah Kabupaten Majene, Mamuju, Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa.
"Potensi wisata di Sulbar cukup banyak, ada sekitar 234 lokasi, namun karena terbatasnya anggaran sehingga pengembangan pariwisata dilakukan dengan melimitasi atau membatasi melalui pembagian klaster," ujarnya.
Pada klaster Sulbar Marasa 1, lanjut Farid Wajdi, difokuskan pada pengembangan pemasaran dan destinasi wisata, kemudian di klaster Sulbar Marasa 2 yang meliputi Kabupaten Pasangkayu dan Mamuju Tengah fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan.
Sedangkan, klaster Sulbar Marasa 3 dengan destinasi Kepulauan Bala-balakang Kabupaten Mamuju, juga masih difokuskan pada pengembangan kelembagaan.
Klaster pariwisata di Kepulauan Bala-balakang kata Farid Wajdi, dipersiapkan sebagai kawasan wisata untuk pengembangan investasi dari luar negeri berbasis "sustainable development" atau pembangunan berkelanjutan.
"Klaster Sulbar Marasa 3 Kepulauan Bala-balakang ini harus dikordinasikan terlebih dahulu bersama Dinas Kelautan dan Perikanan karena ini kewenangan mereka," ujar Farid Wajdi.
"Jadi, saat ini kita fokus pada klaster Sulbar Marasa 1 dengan pemetaan pemasaran yang terkait dengan wisatawan," tambahnya.
Pada klaster Sulbar Marasa 1 tersebut, tambah Farid Wajdi, Dinas pariwisata fokus pada pemasaran destinasi wisata Tondok Bakaru yang ada di Kabupaten Mamasa dan wisata Kota Tua di Kabupaten Majene.
"Kita mengangkat tema Tondok Bakaru di Kabupaten Mamasa yang memiliki bunga anggrek yang dapat menarik wisatawan dari luar. Kalau di Majene yang merupakan kota pendidikan dan kebudayaan di Sulbar, kita tawarkan tema Kota Tua yang memiliki sejarah karena dibangun oleh Belanda," ujarnya.
"Jadi, di Majene masih banyak peninggalan Belanda yang harus diperkenalkan. Itulah temanya," tambahnya.
Ia pun optimistis, melalui pengembangan wisata menggunakan pola klaster tersebut, dapat membangkitkan pariwisata Sulbar di tengah pandemi COVID-19.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar Farid Wajdi, dihubungi di Mamuju, Selasa, menyatakan pihaknya tengah fokus mengembangkan pariwisata pada klaster Sulbar Marasa 1, yang meliputi wilayah Kabupaten Majene, Mamuju, Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa.
"Potensi wisata di Sulbar cukup banyak, ada sekitar 234 lokasi, namun karena terbatasnya anggaran sehingga pengembangan pariwisata dilakukan dengan melimitasi atau membatasi melalui pembagian klaster," ujarnya.
Pada klaster Sulbar Marasa 1, lanjut Farid Wajdi, difokuskan pada pengembangan pemasaran dan destinasi wisata, kemudian di klaster Sulbar Marasa 2 yang meliputi Kabupaten Pasangkayu dan Mamuju Tengah fokus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan.
Sedangkan, klaster Sulbar Marasa 3 dengan destinasi Kepulauan Bala-balakang Kabupaten Mamuju, juga masih difokuskan pada pengembangan kelembagaan.
Klaster pariwisata di Kepulauan Bala-balakang kata Farid Wajdi, dipersiapkan sebagai kawasan wisata untuk pengembangan investasi dari luar negeri berbasis "sustainable development" atau pembangunan berkelanjutan.
"Klaster Sulbar Marasa 3 Kepulauan Bala-balakang ini harus dikordinasikan terlebih dahulu bersama Dinas Kelautan dan Perikanan karena ini kewenangan mereka," ujar Farid Wajdi.
"Jadi, saat ini kita fokus pada klaster Sulbar Marasa 1 dengan pemetaan pemasaran yang terkait dengan wisatawan," tambahnya.
Pada klaster Sulbar Marasa 1 tersebut, tambah Farid Wajdi, Dinas pariwisata fokus pada pemasaran destinasi wisata Tondok Bakaru yang ada di Kabupaten Mamasa dan wisata Kota Tua di Kabupaten Majene.
"Kita mengangkat tema Tondok Bakaru di Kabupaten Mamasa yang memiliki bunga anggrek yang dapat menarik wisatawan dari luar. Kalau di Majene yang merupakan kota pendidikan dan kebudayaan di Sulbar, kita tawarkan tema Kota Tua yang memiliki sejarah karena dibangun oleh Belanda," ujarnya.
"Jadi, di Majene masih banyak peninggalan Belanda yang harus diperkenalkan. Itulah temanya," tambahnya.
Ia pun optimistis, melalui pengembangan wisata menggunakan pola klaster tersebut, dapat membangkitkan pariwisata Sulbar di tengah pandemi COVID-19.
Pewarta : Amirullah
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot promosi wisata Makassar ke penyanyi religi internasional Maher Zain
13 November 2025 4:34 WIB
Dispar siapkan film promosi wisata guna tingkatkan kunjungan wisman ke Sulbar
02 November 2025 22:12 WIB
prosesi "Annyorong Lopi" tandai pembukaan Festival Phinisi 2025 di Bulukumba
24 October 2025 11:44 WIB
Terpopuler - Jasa
Lihat Juga
Menkeu Purbaya tambah DAU Rp7,66 triliun untuk THR dan gaji ke-13 guru ASN daerah
29 December 2025 18:40 WIB
PLN UUD Sulselrabar kembali terjunkan 21 personel, pulihkan listrik di Aceh
19 December 2025 18:30 WIB
Menkeu Purbaya: Anggaran penanganan bencana Sumatera tak hambat laju ekonomi
15 December 2025 15:31 WIB