Nelayan Polewali Mandar Takut Melaut
Rabu, 17 Agustus 2011 5:28 WIB
Polman, Sulbar (ANTARA News) - Sejumlah nelayan di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sejak sepakan takut melaut karena khawatir cuaca buruk di sekitar perairan Mandar saat malam hari.
Yusran, nelayan di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali, di Polman, Selasa, mengaku sejak sepekan terakhir tidak melakukan aktivitasnya untuk menangkap ikan pada saat malam hari di sekitar perairan Mandar.
Ia mengaku, pada malam hari angin berhembus begitu kencang, utamanya saat berada di perairan, sementara sebagian besar nelayan hanya menggunakan kapal dengan ukuran sedang sehingga sangat rawan terjadi kecelakaan saat berada di tengah laut dengan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.
"Apalagi, beberapa hari terakhir sering terjadi hujan sehingga kami kesulitan untuk melakukan aktivitas menangkap ikan jika dalam kodisi seperti ini, sebab bisa mengancam keselamatan kami," tutur Yusran.
Ia terpaksa harus melaut pada siang hari dengan resiko mendapat hasil tangkapan yang jauh lebih kecil dibanding jika penangkapan dilakukan saat malam hari dan bahkan diakui hasil tangkapan pada siang hari harus menanggung resiko tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Selain Yusran, nelayan di Kecamatan Tinambung, Asdar mengaku hanya beberapa nelayan yang tetap melakukan aktivitasnya pada malam hari, yaitu nelayan yang memiliki kapasitas perahu berukuran besar dan beberapa nelayan yang tetap memberanikan diri melaut meskipun dengan kondisi cuaca buruk.
"Sebenarnya hal ini tidak terjadi setiap malam, namun kami tidak bisa memperkirakan apakah cuaca tetap normal saat kami melaut atau cuaca tiba-tiba berbeda dari perkiraan, sehingga kami terpaksa menunggu beberapa hari ke depan hingga cuaca betul-betul normal kembali," tukasnya.
Akibat beberapa nelayan di Polaman tidak melaut, hal tersebut mempengaruhi harga ikan di sejumlah pasar khususnya harga beberapa jenis ikan laut.
Dari pantauan di Pasar Pekkabata, rata-rata harga ikan laut meningkat hingga 50 persen dari hari biasanya dan hal tersebut diakui oleh sejumlah pedangang akibat kurangnya stok ikan laut beberapa hari terakhir.
Pedagang ikan di Pasar Sentral Pekkabata, Haryadi mengaku pasokan ikan laut sejak sepekan sebagian besar berasal dari Kabupaten Majene, Sulbar.
"Meskipun terdapat beberapa pasokan ikan laut, namun harganya jauh lebih mahal jika bidanding pasokan ikan yang berasal dari nelayan di Polman dan selisih harganya bisa lebih mahal hingga dua kali lipat," jelasnya.
(T.PSO-284/M027)
Yusran, nelayan di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali, di Polman, Selasa, mengaku sejak sepekan terakhir tidak melakukan aktivitasnya untuk menangkap ikan pada saat malam hari di sekitar perairan Mandar.
Ia mengaku, pada malam hari angin berhembus begitu kencang, utamanya saat berada di perairan, sementara sebagian besar nelayan hanya menggunakan kapal dengan ukuran sedang sehingga sangat rawan terjadi kecelakaan saat berada di tengah laut dengan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.
"Apalagi, beberapa hari terakhir sering terjadi hujan sehingga kami kesulitan untuk melakukan aktivitas menangkap ikan jika dalam kodisi seperti ini, sebab bisa mengancam keselamatan kami," tutur Yusran.
Ia terpaksa harus melaut pada siang hari dengan resiko mendapat hasil tangkapan yang jauh lebih kecil dibanding jika penangkapan dilakukan saat malam hari dan bahkan diakui hasil tangkapan pada siang hari harus menanggung resiko tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Selain Yusran, nelayan di Kecamatan Tinambung, Asdar mengaku hanya beberapa nelayan yang tetap melakukan aktivitasnya pada malam hari, yaitu nelayan yang memiliki kapasitas perahu berukuran besar dan beberapa nelayan yang tetap memberanikan diri melaut meskipun dengan kondisi cuaca buruk.
"Sebenarnya hal ini tidak terjadi setiap malam, namun kami tidak bisa memperkirakan apakah cuaca tetap normal saat kami melaut atau cuaca tiba-tiba berbeda dari perkiraan, sehingga kami terpaksa menunggu beberapa hari ke depan hingga cuaca betul-betul normal kembali," tukasnya.
Akibat beberapa nelayan di Polaman tidak melaut, hal tersebut mempengaruhi harga ikan di sejumlah pasar khususnya harga beberapa jenis ikan laut.
Dari pantauan di Pasar Pekkabata, rata-rata harga ikan laut meningkat hingga 50 persen dari hari biasanya dan hal tersebut diakui oleh sejumlah pedangang akibat kurangnya stok ikan laut beberapa hari terakhir.
Pedagang ikan di Pasar Sentral Pekkabata, Haryadi mengaku pasokan ikan laut sejak sepekan sebagian besar berasal dari Kabupaten Majene, Sulbar.
"Meskipun terdapat beberapa pasokan ikan laut, namun harganya jauh lebih mahal jika bidanding pasokan ikan yang berasal dari nelayan di Polman dan selisih harganya bisa lebih mahal hingga dua kali lipat," jelasnya.
(T.PSO-284/M027)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Pesawat Batik Air tujuan Lubuklinggau putar balik ke Soetta akibat cuaca buruk
29 June 2025 15:35 WIB, 2025
Enam penerbangan tujuan Manado dialihkan ke Gorontalo akibat cuaca buruk
23 March 2025 14:00 WIB, 2025
BBMKG : Siklon Tropis Sean berdampak hujan sedang hingga lebat di Bali
20 January 2025 11:33 WIB, 2025
BMKG prakirakan seluruh kota besar di Indonesia diguyur hujan pada Selasa
14 January 2025 7:43 WIB, 2025
Cuaca buruk empat pesawat gagal mendarat di Bandara Ternate, termasuk dari Makassar
15 December 2024 18:48 WIB, 2024
BMKG mengingatkan potensi curah hujan ekstrem saat mudik Natal-Tahun Baru
04 December 2024 14:20 WIB, 2024
ASDP tutup sementara tiga rute penyeberangan dari Kupang karena cuaca buruk
04 July 2024 12:44 WIB, 2024