LaNyalla: DPD RI harus diperkuat
Selasa, 16 November 2021 20:27 WIB
Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat menjadi Keynote Speech dalam FGD tentang Amandemen ke-5 UUD 1945: Menghitung Peluang Calon Perseorangan, yang diselenggarakan di Auditorium IAIN Pare-Pare, Selasa (16/11). (ANTARA/HO/Humas DPD RI)
Makassar (ANTARA) - Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menilai gagasan untuk membuka peluang calon pemimpin dari kalangan non-partai politik merupakan konstitusional, sehingga hak DPD RI sebagai wakil daerah yang merupakan perwujudan dari Utusan Daerah dan Utusan Golongan harus diperkuat.
LaNyalla menyampaikan hal itu saat menjadi Keynote Speech dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Amandemen ke-5 UUD 1945: Menghitung Peluang Calon Perseorangan, yang diselenggarakan di Auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pare-Pare, Selasa (16/11).
“Sebelum Amandemen Konstitusi empat tahap, Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari anggota DPR, Utusan Daerah dan Utusan Golongan mendapat mandat rakyat untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Sehingga semuanya dapat mengajukan atau mengusulkan sekaligus memilih calon presiden dan calon wakil presiden,” ujarnya dalam rilis yang diterima di Makassar.
Tetapi, lanjut, LaNyalla, setelah Amandemen Konstitusi sistem tata negara Indonesia berubah total. MPR tidak lagi menjadi Lembaga Tertinggi Negara. Utusan Daerah diganti Dewan Perwakilan Daerah dan Utusan Golongan dihapus. Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Mandat Rakyat diberikan kepada dua ruang politik, yaitu Parlemen dan Presiden.
“Yang menjadi pertanyaan, DPD yang merupakan perubahan wujud utusan daerah dan utusan golongan, justru kehilangan hak dasar sebagai pemegang daulat rakyat yang didapat melalui Pemilu. Inilah yang saya sebut dengan kecelakaan hukum yang harus dibenahi,” kata LaNyalla.
Ia juga mengatakan bahwa penguatan peran dan posisi DPD RI bukanlah sebuah hal yang mengada-ada. Tetapi merupakan upaya untuk mengembalikan atau memulihkan hak. Sebab, DPD RI adalah wakil dari daerah. Wakil dari golongan-golongan atau wakil dari entitas-entitas civil society yang non-partisan.
“Saat ini entitas-entitas tersebut tidak bisa terlibat dalam menentukan wajah dan arah perjalanan bangsa karena tidak ada saluran dan ruang bagi mereka. Padahal sumbangsih entitas civil society non-partisan terhadap lahirnya bangsa dan negara ini tidaklah kecil,” tambahnya.
Selain itu, penguatan peran dan fungsi DPD RI juga merupakan sebuah amanat sejarah, bahwa bangsa ini memiliki ruang-ruang non-partisan yang juga berhak untuk ikut serta menentukan arah wajah dan perjalanan bangsa ini ke depan.
“Kita bisa berkaca kepada hasil survei Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) yang dirilis pada 22 Mei 2021 yang lalu, bahwa 71,49 persen responden ingin calon presiden tidak harus kader partai. Makanya DPD seharusnya bisa menjadi saluran atas harapan tersebut. DPD RI juga harus membuka saluran bagi lahirnya calon-calon pemimpin bangsa yang hak-haknya dijamin oleh konstitusi,” ujarnya.
Seperti termaktub dalam Pasal 27 Ayat (1) UUD NRI 1945 hasil Amandemen, yang tertulis 'Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya'.
Begitu pula dengan Pasal 28D Ayat (1) UUD NRI 1945, yang tertulis; 'Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum'.
Lalu, dalam Pasal 28D Ayat (3) UUD NRI 1945, yang tertulis 'Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan'.
“Jadi gagasan untuk membuka peluang calon pemimpin dari kalangan non-partai politik adalah konstitusional, sekaligus sebagai upaya memulihkan Hak DPD RI sebagai wakil daerah, yang merupakan perwujudan dari Utusan Golongan dan Utusan Daerah,” tegasnya.
Oleh karena itu, LaNyalla mengajak para mahasiswa, dan kaum terdidik lainnya, untuk melakukan perbaikan atas beberapa persoalan fundamental yang ada di negara ini dengan memberikan dukungannya terhadap wacana Amandemen Konstitusi perubahan ke-5 yang kini tengah bergulir.
Beberapa senator ikut mendampingi LaNyalla dalam FGD yang digelar secara fisik dan online itu, antara lain Tamsil Linrung (Ketua Kelompok DPD RI di MPR/Senator Sulawesi Selatan), Andi Muh. Ihsan (Sulawesi Selatan), Habib Ali Alwi dan TB. M. Ali Ridho Azhari (Banten), Djafar Alkatiri (Sulawesi Utara) dan Ajbar (Sulawesi Barat).
LaNyalla menyampaikan hal itu saat menjadi Keynote Speech dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Amandemen ke-5 UUD 1945: Menghitung Peluang Calon Perseorangan, yang diselenggarakan di Auditorium Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pare-Pare, Selasa (16/11).
“Sebelum Amandemen Konstitusi empat tahap, Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari anggota DPR, Utusan Daerah dan Utusan Golongan mendapat mandat rakyat untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Sehingga semuanya dapat mengajukan atau mengusulkan sekaligus memilih calon presiden dan calon wakil presiden,” ujarnya dalam rilis yang diterima di Makassar.
Tetapi, lanjut, LaNyalla, setelah Amandemen Konstitusi sistem tata negara Indonesia berubah total. MPR tidak lagi menjadi Lembaga Tertinggi Negara. Utusan Daerah diganti Dewan Perwakilan Daerah dan Utusan Golongan dihapus. Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Mandat Rakyat diberikan kepada dua ruang politik, yaitu Parlemen dan Presiden.
“Yang menjadi pertanyaan, DPD yang merupakan perubahan wujud utusan daerah dan utusan golongan, justru kehilangan hak dasar sebagai pemegang daulat rakyat yang didapat melalui Pemilu. Inilah yang saya sebut dengan kecelakaan hukum yang harus dibenahi,” kata LaNyalla.
Ia juga mengatakan bahwa penguatan peran dan posisi DPD RI bukanlah sebuah hal yang mengada-ada. Tetapi merupakan upaya untuk mengembalikan atau memulihkan hak. Sebab, DPD RI adalah wakil dari daerah. Wakil dari golongan-golongan atau wakil dari entitas-entitas civil society yang non-partisan.
“Saat ini entitas-entitas tersebut tidak bisa terlibat dalam menentukan wajah dan arah perjalanan bangsa karena tidak ada saluran dan ruang bagi mereka. Padahal sumbangsih entitas civil society non-partisan terhadap lahirnya bangsa dan negara ini tidaklah kecil,” tambahnya.
Selain itu, penguatan peran dan fungsi DPD RI juga merupakan sebuah amanat sejarah, bahwa bangsa ini memiliki ruang-ruang non-partisan yang juga berhak untuk ikut serta menentukan arah wajah dan perjalanan bangsa ini ke depan.
“Kita bisa berkaca kepada hasil survei Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) yang dirilis pada 22 Mei 2021 yang lalu, bahwa 71,49 persen responden ingin calon presiden tidak harus kader partai. Makanya DPD seharusnya bisa menjadi saluran atas harapan tersebut. DPD RI juga harus membuka saluran bagi lahirnya calon-calon pemimpin bangsa yang hak-haknya dijamin oleh konstitusi,” ujarnya.
Seperti termaktub dalam Pasal 27 Ayat (1) UUD NRI 1945 hasil Amandemen, yang tertulis 'Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya'.
Begitu pula dengan Pasal 28D Ayat (1) UUD NRI 1945, yang tertulis; 'Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum'.
Lalu, dalam Pasal 28D Ayat (3) UUD NRI 1945, yang tertulis 'Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan'.
“Jadi gagasan untuk membuka peluang calon pemimpin dari kalangan non-partai politik adalah konstitusional, sekaligus sebagai upaya memulihkan Hak DPD RI sebagai wakil daerah, yang merupakan perwujudan dari Utusan Golongan dan Utusan Daerah,” tegasnya.
Oleh karena itu, LaNyalla mengajak para mahasiswa, dan kaum terdidik lainnya, untuk melakukan perbaikan atas beberapa persoalan fundamental yang ada di negara ini dengan memberikan dukungannya terhadap wacana Amandemen Konstitusi perubahan ke-5 yang kini tengah bergulir.
Beberapa senator ikut mendampingi LaNyalla dalam FGD yang digelar secara fisik dan online itu, antara lain Tamsil Linrung (Ketua Kelompok DPD RI di MPR/Senator Sulawesi Selatan), Andi Muh. Ihsan (Sulawesi Selatan), Habib Ali Alwi dan TB. M. Ali Ridho Azhari (Banten), Djafar Alkatiri (Sulawesi Utara) dan Ajbar (Sulawesi Barat).
Pewarta : Arga
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
DPD RI serap aspirasi di Kabupaten Gowa untuk pembentukan RUU tentang Desa
13 June 2023 12:40 WIB, 2023
Wakil Ketua DPD RI: Putusan PN Jakarta Pusat merusak hukum dan tata negara
03 March 2023 14:57 WIB, 2023
Ketua KPU RI mengapresiasi putusan MK soal mantan terpidana jadi calon DPD
28 February 2023 20:15 WIB, 2023
Ketua DPD RI sesalkan pemakaian gas air mata dalam tragedi Kanjuruhan
02 October 2022 12:50 WIB, 2022
MPR terima surat soal pemberhentian Fadel Muhammad sebagai wakil ketua
10 September 2022 17:16 WIB, 2022
Fadel Muhammad menggugat Pimpinan DPD atas kerugian imateriel Rp200 miliar
09 September 2022 21:50 WIB, 2022
Terpopuler - Politik
Lihat Juga
Bawaslu : 443 ASN terlapor terkait netralitas tahapan pemilu dan pilkada di Sulsel
01 September 2026 5:13 WIB
Ketahanan nasional di era disrupsi, HIMAPEM FISIP Unhas dorong kolaborasi lintas sektor
28 August 2026 8:52 WIB