Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - sebanyak 25 orang Mahasiswa Pertanian Universitas Lambung Mangkurat belajar pertanian di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.  

Para mahasiswa berjumlah itu didampingi tiga orang dosen pembimbing serta Ketua Adat 12 Bantaeng Ir Anwar Kamran, diterima Sekda HM Yasin di Bantaeng, Jumat.

Dosen pembimbing yang juga menjadi pendamping mahasiswa Dr Taufik mengatakan, kedatangan mahasiswa dari program studi penyuluhan dan komunikasi Pertanian ini terkait mata kuliah studi pengenalan wilayah.

Kunjungan ke Kabupaten Bantaeng sendiri merupakan kali pertama di luar Jawa. "Selama ini, kami fokus ke Pulau Jawa. Mengapa ke Bantaeng, selain karena hubungan emosional karena pernah kuliah di Unhas, Bantaeng juga memiliki obyek pertanian yang berkembang dan maju pesat," urainya.

Kami banyak mendapat informasi dari berbagai media, termasuk internet. Dari situ kami menilai cocok, terlebih hubungan kelembagaan dengan masyarakat di daerah berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar sangat baik, tambahnya.

Sinergi yang baik tersebut juga ingin kami pelajari, selain pengembangan pertanian yang sangat pesat dalam tiga tahun terakhir, jelas Taufik seraya mengemukakan kondisi pertanian Kalimantan Selatan (Kalsel) yang selama ini menggunakan varietas lokal dengan produksi antara 3,5 hingga 4,1 ton/ha.

Kendala pengembangan lain adalah pertumbuhan penduduk yang sangat pesat dan dikhawatirkan menjadi ancaman sebab luas wilayah Kalsel juga terbatas. Lebih kecil dibandingkan wilayah Kalimantan lainnya.

Sekda HM Yasin yang menerima rombongan di ruang rapat Bupati Bantaeng menguraikan perkembangan dalam tiga tahun terakhir di kabuaten berjuluk Butta Toa ini.

Sekda yang didampingi sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan staf ahli bupati bidang pertanian Dr Mokhtar Nawir juga menguraikan posisi Bantaeng yang terletak di telapak Pulau Sulawesi.

Dengan wilayah yang sangat terbatas dan terkecil di Sulsel, Bantaeng di bawah kepemimpinan Bupati Prof Dr HM Nurdin Abdullah mampu mengoptimalkan potensi yang ada, termasuk sektor pertanian.

Keberhasilan tersebut diawali sejumlah kerjasama dengan berbagai lembaga untuk membantu pengembangan teknologinya seperti BPPT, Biotrop, Perguruan Tinggi, serta kerjasama dengan lembaga riset luar negeri seperti Sirim Bhd, Malaysia.

Produksi dari pengembangan tersebut berbasis ekspor seperti talas dan surimi yang diekspor ke Jepang, sedang tongkol jagung dan biji kapok diekspor ke Korea Selatan.

Untuk pengembangan rumput laut yang berada di sepanjang pantai Bantaeng, kini telah dikerjasamakan pengembangan dan pasarnya dengan pengusaha Rusia.

Selain pengembangan produk pertanian, perikanan juga dikembangkan kawasan wisata mulai dari wisata pantai, alam hingga wisata agro strowberi, apel dan bunga, ucapnya. (T.KR-DF/F003)