Program Gubernur Sulsel Dinilai tidak Optimal
Kamis, 3 Mei 2012 19:08 WIB
Makassar (ANTARA News) - Lembaga Peduli Sosial, Ekonomi, Budaya, Hukum dan Politik (LP-Sibuk) Sulawesi Selatan menilai program-program kesehatan dan pendidikan gratis Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo tidak berjalan optimal.
"Program dari gubernur itu bagus, tetapi tidak berjalan optimal serta maksimal karena masih banyak permasalahan yang terjadi dan itu adalah fakta," ujar Direktur LP Sibuk Djusman AR di Makassar, Kamis.
Ia mencontohkan, kasus penjualan buku dalam program pendidikan gratis itu masih sering terjadi, bahkan praktek itu sudah berlangsung sejak pertama kali diberlakukan pada awal gubernur dan wakilnya dilantik empat tahun lalu.
Penjualan buku cetak dan lembar kerja siswa (LKS) itu masih mewarnai program pendidikan gratis di Sulsel.
"Memang sih ada yang gratis tetapi lebih banyak item yang mengharuskan untuk mengeluarkan uang. Salah satunya dengan cara memperjualbelikan LKS, buku dan kelengkapan lainnya dalam pendidikan. Harusnya ini yang disoroti sama gubernur, tetapi sampai saat ini prakteknya masih berlangsung selama empat tahun," katanya.
Menurut dia, praktek penjualan serta pungutan liar juga masih sering terjadi dan ini merupakan fakta yang tidak bisa dibantah oleh seorang pemimpin yang memberlakukan program pendidikan gratis untuk semua jenis pendidikan.
Dia mengatakan, pihak guru memberikan buku cetak kepada masing-masing siswa untuk diperlihatkan pada orang tua.
"Dalam selembar kertas pengantarnya disebutkan biaya pengganti produksi Rp35 ribu," ucapnya.
Sementara itu, Data Dinas Pendidikan Sulsel diketahui, anggaran pendidikan gratis yang dialokasikan pada 24 kabupaten/kota Sulsel mencapai Rp998 miliar dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Bukan cuma itu, pada sektor kesehatan gratis juga masih sering ditemui adanya penolakan-penolakan pengobatan yang semestinya sangat membutuhkan pengobatan.
Penolakan itu justru datang dari rumah sakit pemerintah seperti Rumah Sakit Umum Regional Wahidin Sudirohusodo serta beberapa rumah sakit lainnya di kabupaten-kabupaten.
"Penolakan terhadap pasien kurang mampu atau miskin itu banyak terjadi di rumah sakit pemerintah seperti RS Wahidin Sudirohusodo. Di media kan sering ada beritanya kalau ada pasien harus terlantar karena syarat administrasi yang tidak lengkap. Harusnya, pertolongan atau pelayanan yang dinomorsatukan bukannya administrasi," ungkapnya. (T.KR-MH/F003)
"Program dari gubernur itu bagus, tetapi tidak berjalan optimal serta maksimal karena masih banyak permasalahan yang terjadi dan itu adalah fakta," ujar Direktur LP Sibuk Djusman AR di Makassar, Kamis.
Ia mencontohkan, kasus penjualan buku dalam program pendidikan gratis itu masih sering terjadi, bahkan praktek itu sudah berlangsung sejak pertama kali diberlakukan pada awal gubernur dan wakilnya dilantik empat tahun lalu.
Penjualan buku cetak dan lembar kerja siswa (LKS) itu masih mewarnai program pendidikan gratis di Sulsel.
"Memang sih ada yang gratis tetapi lebih banyak item yang mengharuskan untuk mengeluarkan uang. Salah satunya dengan cara memperjualbelikan LKS, buku dan kelengkapan lainnya dalam pendidikan. Harusnya ini yang disoroti sama gubernur, tetapi sampai saat ini prakteknya masih berlangsung selama empat tahun," katanya.
Menurut dia, praktek penjualan serta pungutan liar juga masih sering terjadi dan ini merupakan fakta yang tidak bisa dibantah oleh seorang pemimpin yang memberlakukan program pendidikan gratis untuk semua jenis pendidikan.
Dia mengatakan, pihak guru memberikan buku cetak kepada masing-masing siswa untuk diperlihatkan pada orang tua.
"Dalam selembar kertas pengantarnya disebutkan biaya pengganti produksi Rp35 ribu," ucapnya.
Sementara itu, Data Dinas Pendidikan Sulsel diketahui, anggaran pendidikan gratis yang dialokasikan pada 24 kabupaten/kota Sulsel mencapai Rp998 miliar dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
Bukan cuma itu, pada sektor kesehatan gratis juga masih sering ditemui adanya penolakan-penolakan pengobatan yang semestinya sangat membutuhkan pengobatan.
Penolakan itu justru datang dari rumah sakit pemerintah seperti Rumah Sakit Umum Regional Wahidin Sudirohusodo serta beberapa rumah sakit lainnya di kabupaten-kabupaten.
"Penolakan terhadap pasien kurang mampu atau miskin itu banyak terjadi di rumah sakit pemerintah seperti RS Wahidin Sudirohusodo. Di media kan sering ada beritanya kalau ada pasien harus terlantar karena syarat administrasi yang tidak lengkap. Harusnya, pertolongan atau pelayanan yang dinomorsatukan bukannya administrasi," ungkapnya. (T.KR-MH/F003)
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wapres Ma'ruf Amin meminta menteri baru bekerja optimal tidak sibuk urusi pemilu
17 July 2023 11:04 WIB, 2023
Dishub Sulsel imbau pengemudi bus AKDP hindari jam sibuk jelang Natal-Tahun Baru
21 December 2022 0:19 WIB, 2022
Erick Thohir: Mahasiswa jangan hanya sibuk di pergerakan tapi juga mengisi peluang usaha
05 July 2022 16:15 WIB, 2022
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Kemendiktisaintek tetapkan UMI Makassar jadi pengelola KNB Scholarship 2026
29 January 2026 4:24 WIB
Menhut: Lestarikan keanekaragaman hayati dan kerajaan kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung
28 January 2026 19:50 WIB
Munafri perkuat mobilitas perkotaan inklusif melalui Forum Indonesia on the Move
28 January 2026 17:13 WIB
Pemkot Makassar dan Balai Cipta Karya bahas hibah alat deteksi air JICA Jepang
28 January 2026 5:19 WIB
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
27 January 2026 18:21 WIB