Legislator: Peringatan Hari Laut Sedunia dimaknai dengan aksi nyata
Rabu, 8 Juni 2022 22:27 WIB
Legislator Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Januar Jaury Dharwis. Antara/ HO- Januar
Makassar (ANTARA) - Legislator Provinsi Sulawesi Selatan Andi Januar Jaury Dharwis mengatakan, peringatan Hari Laut Sedunia seharusnya dimaknai dalam kegiatan atau aksi nyata, tidak cukup dengan kampanye dan slogan-slogan saja.
"Seharusnya ada kegiatan yang lebih nyata semisal ada moratorium sehari saja secara nasional untuk berhenti sejenak eksploitasi laut," kata Januar di Makassar, Rabu.
Dia mengatakan, eksploitasi laut oleh masyarakat pesisir dan nelayan yang tidak ramah lingkungan, karena alasan desakan ekonomi, bukan menjadi pembenaran akan eksploitasi kekayaan laut.
Termasuk aksi kelompok swasta atau pun pencurian ikan dari pihak asing, semakin menambah kehancuran potensi laut yang mestinya dijaga bersama.
"Akibat penjarahan isi laut terjadi di mana-mana, baik itu di ruang laut provinsi maupun di rumah laut nasional telah menyebabkan 70 persen isi laut rusak berat, 23 persen baik, dan hanya 7 persen sehat," katanya.
Padahal untuk membuat ekosistem yang rusak tersebut bisa berproduksi kembali, membutuhkan puluhan tahun.
Tak heran, jika dampak dari kerusakan laut dan isinya itu menyebabkan tangkapan nelayan semakin berkurang dan nilai tukar nelayan turut mengecil.
Januar mengatakan, keseluruhan keadaan itu diakibatkan oleh eksploitasi sumber daya alam laut yang berlebihan, tidak terkendali serta lemah pengawasan.
Di sisi lain, lanjut dia, kelemahan regulasi juga mengakibatkan 19 kabupaten/kota dari 24 kabupaten/kota di Sulsel yang memiliki pesisir, menilai pengendalian sempadan pesisir dan permukaan laut menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Sulsel, sehingga tidak ada kepedulian, padahal masyarakat kabupaten/kota yang melakukan eksploitasi sumber daya pesisir dan laut.
"Seharusnya ada kegiatan yang lebih nyata semisal ada moratorium sehari saja secara nasional untuk berhenti sejenak eksploitasi laut," kata Januar di Makassar, Rabu.
Dia mengatakan, eksploitasi laut oleh masyarakat pesisir dan nelayan yang tidak ramah lingkungan, karena alasan desakan ekonomi, bukan menjadi pembenaran akan eksploitasi kekayaan laut.
Termasuk aksi kelompok swasta atau pun pencurian ikan dari pihak asing, semakin menambah kehancuran potensi laut yang mestinya dijaga bersama.
"Akibat penjarahan isi laut terjadi di mana-mana, baik itu di ruang laut provinsi maupun di rumah laut nasional telah menyebabkan 70 persen isi laut rusak berat, 23 persen baik, dan hanya 7 persen sehat," katanya.
Padahal untuk membuat ekosistem yang rusak tersebut bisa berproduksi kembali, membutuhkan puluhan tahun.
Tak heran, jika dampak dari kerusakan laut dan isinya itu menyebabkan tangkapan nelayan semakin berkurang dan nilai tukar nelayan turut mengecil.
Januar mengatakan, keseluruhan keadaan itu diakibatkan oleh eksploitasi sumber daya alam laut yang berlebihan, tidak terkendali serta lemah pengawasan.
Di sisi lain, lanjut dia, kelemahan regulasi juga mengakibatkan 19 kabupaten/kota dari 24 kabupaten/kota di Sulsel yang memiliki pesisir, menilai pengendalian sempadan pesisir dan permukaan laut menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Sulsel, sehingga tidak ada kepedulian, padahal masyarakat kabupaten/kota yang melakukan eksploitasi sumber daya pesisir dan laut.
Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Legislator tekankan pendidikan moral sikapi pengeroyokan siswa SD di Makassar
03 June 2025 17:56 WIB
Legislator Sulsel fokus ke pemerataan pendidikan dan literasi digital
02 October 2024 8:39 WIB, 2024
Sosiolog: Momentum Kesaktian Pancasila jadi refleksi kritis legislator
02 October 2024 8:32 WIB, 2024
Akademisi: Ideologi Pancasila merupakan landasan merawat keberagaman
01 October 2024 22:22 WIB, 2024
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Menko Pangan dukung Pemkot Makassar membangun proyek PSEL di TPA Antang Manggala
06 February 2026 18:26 WIB