Makassar, 15/11 (ANTARA) - Nilai-nilai luhur yang merupakan warisan budaya bangsa, harus tetap dipertahankan di tengah arus globalisasi dan menghadapi krisis global yang terjadi saat ini.

"Nilai-nilai luhur itu harus tetap dipelihara dan diimplementasikan dalam kehidupan kita, sehingga rasa saling menghargai, menghormati dan membantu jika mendapatkan kesulitan akan menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa ini," kata Staf Ahli Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Sri Rahayu pada pembukaan Festival Kraton Nasional (FKN) VI di Lapangan Syekh Jusuf, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu.

Menurutnya, implikasi dari perkembangan pembangunan biasanya secara tidak sengaja mengikis nilai-nilai budaya yang pernah tertanam di masyarakat.

Sebagai gambaran, ketika desa belum tersentuh arus modernisasi dan pembangunan, masih sangat kental budaya gotong-royong, namun setelah tersentuh pembangunan nilai luhur itu perlahan-lahan menghilang.

Hal senada dikemukakan Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo pada kesempatan yang sama. Menurutnya, pernah ia bertanya kepada salah seorang atase yang berkunjung ke Kota Makassar, mengapa Cina yang berpenduduk sangat banyak sekitar dua miliar jiwa, namun mampu memperlihatkan keunggulan dan kehebatannya di dunia.

"Jawabannya, di Cina boleh menggunakan sistem apa saja, entah komunis, demokrasi, atau apapun asalkan tidak melupakan adat kebiasaan dan kebudayaan leluhurnya, itulah yang membesarkan Cina," katanya mengutip pernyataan atase tersebut.

Karena itu, imbaunya di depan 3.758 peserta FKN VI dari 43 keraton se-Indonesia tersebut, agar bisa mencontoh Cina yang tetap mempertahankan budaya leluhurnya meskipun di tengah modernisasi dan globalisasi dimanapun mereka berada.

Pada pembukaan FKN VI yang digelar siang hingga petang hari itu, menampilkan tari teatrikal yang menceritakan sejarah Kerajaan Gowa hingga menjadi Kabupaten Gowa pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan pakaian adat dan latar belakang yang menggambarkan suasana zaman Kerajaan Gowa pada abad XIV, gabungan siswa SMA Negeri 1 Kabupaten Gowa dan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) di bawah terik mentari tetap antusias melakonkan perannya masing-masing.

Selain itu, setiap kontingen keraton juga menampilkan seni dan tari tradisional masing-masing dengan berpawai sepanjang 4,6 kilometer (Km) mulai di kawasan panggung tamu kehormatan di Lapangan Syekh Jusuf menuju ke Istana Tamalate, Balla Lompoa di Sunggumina yang merupakan ibukota Kabupaten Gowa, Sulsel.

Atraksi seni budaya tersebut disambut meriah oleh ribuan penonton yang datang khusus di lokasi itu, maupun di sepanjang jalan yang dilewati para peserta pawai atau kirab pasukan keraton.

Menanggapi FKN sebagai agenda tahunan yang baru pertama kali dilakukan di luar Jawa ini, Sultan Iskandar Muda Mahmud Badaruddin, Raja dari Keraton Kesultanan Palembang Darussalam mengatakan, sajian acara yang diagendakan demikian padat mulai 14 -17 November 2008.

"Ini juga memberikan kesempatan dan peluang untuk menunjukkan bahwa daerah di luar Jawa juga mampu menjadi tuan rumah yang baik," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang turis mancanegara (wisman) yang juga hadir menyaksikan pembukaan FKN VI, Johanna mengatakan, sangat senang memiliki kesempatan yang sangat langka didapatkan.

"Saya tidak memiliki waktu yang banyak untuk berkunjung ke semua daerah di Indonesia, namun dengan melihat atraksi seni dan budaya dari beberapa daerah di Indonesia, saya merasa sudah melihat Indonesia seluruhnya," kata perempuan berkebangsaan Italia ini. ***2***

(T.K-SUR/B/F003/F003) 15-11-2008 19:26:08