Petambak Garam Jeneponto Terancam Menganggur
Kamis, 20 Desember 2012 21:48 WIB
Petambak garam di Jeneponto, Sulawesi Selatan (FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)
Makassar (ANTARA News) - Petambak garam di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan terancam menganggur, karena aktivitasnya terganggu pada musim hujan.
"Pada saat musim hujan, kami tidak bisa beraktivitas, karena untuk menghasilkan garam dibutuhkan sinar matahari dalam sebulan," kata petambak garam di Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Darwis menanggapi kekhawatiran petambak garam di wilayahnya, Kamis.
Menurut dia, pada musim hujan petambak garam akan kesulitan melakukan produksi, sehingga stok garam yang masih ada dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pada saat musim kemarau.
Sebagai gambaran, harga garam per karung ukuran 25 kilogram yang biasanya dijual seharga Rp25 ribu, kini terpaksa dijual dengan harga dua kali lipat yakni Rp50 ribu per kg.
"Harga garam ini kami naikkan, hanya untuk menutupi kebutuhan kami sehari-hari selama tidak berproduksi pada musim hujan," katanya.
Hal senada dikemukakan petambak garam lainnya di Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Syamsuddin.
Menurut dia, sebagian besar warga Jeneponto yang berada di wilayah pesisir menggantungkan hidupnya dari bertambak garam. Apalagi daerah yang berjulukan "butta turatea" ini merupakan sentra produksi garam terbesar di Sulsel.
"Jadi wajar jika kami khawatir jika hujan turun terus-menerus, karena itu akan membuat kami menganggur, sementara persediaan garam terus menipis," katanya.
Produksi garam Kabupaten Jeneponto, Sulsel masih terbilang minim yakni hanya sekitar 40 ribu ton per tahun yang bersumber dari hasil pertambakan garam seluas 556 hektare.
Pengembangan produksi garam di daerah itu dilakukan melalui 816 unit usaha garam rakyat yang tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Arungkeke, Tamalatea, Bangkala, dan Bangkala Barat. (T.S036//F003)
"Pada saat musim hujan, kami tidak bisa beraktivitas, karena untuk menghasilkan garam dibutuhkan sinar matahari dalam sebulan," kata petambak garam di Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Darwis menanggapi kekhawatiran petambak garam di wilayahnya, Kamis.
Menurut dia, pada musim hujan petambak garam akan kesulitan melakukan produksi, sehingga stok garam yang masih ada dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pada saat musim kemarau.
Sebagai gambaran, harga garam per karung ukuran 25 kilogram yang biasanya dijual seharga Rp25 ribu, kini terpaksa dijual dengan harga dua kali lipat yakni Rp50 ribu per kg.
"Harga garam ini kami naikkan, hanya untuk menutupi kebutuhan kami sehari-hari selama tidak berproduksi pada musim hujan," katanya.
Hal senada dikemukakan petambak garam lainnya di Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Syamsuddin.
Menurut dia, sebagian besar warga Jeneponto yang berada di wilayah pesisir menggantungkan hidupnya dari bertambak garam. Apalagi daerah yang berjulukan "butta turatea" ini merupakan sentra produksi garam terbesar di Sulsel.
"Jadi wajar jika kami khawatir jika hujan turun terus-menerus, karena itu akan membuat kami menganggur, sementara persediaan garam terus menipis," katanya.
Produksi garam Kabupaten Jeneponto, Sulsel masih terbilang minim yakni hanya sekitar 40 ribu ton per tahun yang bersumber dari hasil pertambakan garam seluas 556 hektare.
Pengembangan produksi garam di daerah itu dilakukan melalui 816 unit usaha garam rakyat yang tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Arungkeke, Tamalatea, Bangkala, dan Bangkala Barat. (T.S036//F003)
Pewarta :
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pj Gubernur ajak lintas stakeholder mengembangkan potensi garam Sulsel
26 September 2024 21:15 WIB, 2024
Tim Garam Unhas bimbing petambak di Desa Bontobahari Maros membuat garam SNI
01 July 2024 21:32 WIB, 2024
Kemenkumham Sulbar dorong garam Barane didaftarkan sebagai IG Majene
12 December 2023 9:49 WIB, 2023
BKKBN Sulsel: Evaluasi TPK untuk dorong penurunan Stunting di Makassar
14 October 2023 0:13 WIB, 2023
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
27 January 2026 18:21 WIB
Pemprov Sulsel serahkan santunan kepada keluarga Farhan korban kecelakaan ATR 42-500
27 January 2026 15:08 WIB
Efisiensi pendidikan, Rektor Unhas minta identifikasi mahasiswa lambat studi
27 January 2026 4:47 WIB
Demo pemekaran Luwu Raya lumpuhkan pasokan BBM, harga pertalite Rp35.000/liter
26 January 2026 18:37 WIB
Pemprov Sulsel percepat perbaikan ruas jalan Kalosi--Cece dan Malauwe--Surakan di Enrekang
25 January 2026 6:07 WIB