Prancis menimpulkan pemberontakan Wagner tunjukkan Rusia rapuh
Rabu, 28 Juni 2023 11:17 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin. Pada Senin (26/6), Putin menyodorkan sejumlah opsi untuk anggota kelompok militer swasta Wagner yakni menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia, pulang ke Rusia atau pergi ke Belarus. (Xinhua)
Paris (ANTARA) - Pemberontak yang dilakukan tentara bayaran Wagner terhadap Kremlin menunjukkan rapuhnya internal Rusia, kata Menteri Luar Negeri Prancis Catherine Colonna.
"Pemberontakan ini telah menyingkapkan konflik, keretakan, perpecahan, dan bahkan kelemahan internal Rusia," kata Colonna dalam konferensi pers di Paris bersama para menteri luar negeri Estonia, Latvia, dan Lituania.
Namun, Colonna tidak berani mengambil kesimpulan dari perselisihan tersebut, dengan menyatakan dia harus menganalisis situasi itu terlebih dahulu.
Dia menegaskan kembali dukungan Prancis kepada Ukraina dan menyambut paket sanksi ke-11 Uni Eropa terhadap Rusia.
Menteri Luar Negeri Latvia Edgars Rinkevics mengatakan masih terlalu dini untuk menganalisis situasi dan dampak langkah Wagner di Rusia.
Menurut Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna, negara-negara Baltik harus mengedepankan langkah-langkah memperkuat kapasitas pertahanannya maripada mengurusi masalah dalam negeri Rusia.
Namun, Menteri Luar Negeri Lithuania Gabrielus Landsbergis mencermati bahwa perkembangan yang terjadi di Rusia akhir pekan lalu telah menunjukkan betapa cepatnya ancaman yang ditimbulkan Moskow terhadap negara-negara tetangganya.
Perselisihan antara Wagner dan Kremlin terjadi ketika Wagner menuding Kementerian Pertahanan Rusia menyerang petempur-petempurnya.
Pemimpin Wagner, Yevgeny Prigozhin, pun memerintahkan pasukannya untuk melintasi perbatasan Ukraina-Rusia menuju kota Rostov-on-Don di Rusia, dan mengerahkan kelompok tentara bayaran itu bergerak menuju Moskow.
Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) mengatakan tindakan Wagner adalah "pemberontakan bersenjata". Mereka membuka kasus kriminal terhadap Prigozhin.
Akan tetapi sebelum tiba di Moskow, Prigozhin dan para petempurnya memutuskan mundur "untuk menghindari pertumpahan darah".
Pada Senin (26/6), Prigozhin mengklaim tidak berencana menggulingkan pemerintah Rusia karena hanya ingin "menyuarakan protes" dan mencegah tentara bayarannya dibubarkan.
Dia mengatakan Kementerian Pertahanan Rusia berencana menandatangani kontrak dengan semua petempur Wagner pada 1 Juli.
Langkah itu bakal menjadikan Wagner menjadi bagian tentara reguler Rusia yang dinilainya "bakal menghancurkan kemampuan tempur pasukan ini."
Sumber: Anadolu
"Pemberontakan ini telah menyingkapkan konflik, keretakan, perpecahan, dan bahkan kelemahan internal Rusia," kata Colonna dalam konferensi pers di Paris bersama para menteri luar negeri Estonia, Latvia, dan Lituania.
Namun, Colonna tidak berani mengambil kesimpulan dari perselisihan tersebut, dengan menyatakan dia harus menganalisis situasi itu terlebih dahulu.
Dia menegaskan kembali dukungan Prancis kepada Ukraina dan menyambut paket sanksi ke-11 Uni Eropa terhadap Rusia.
Menteri Luar Negeri Latvia Edgars Rinkevics mengatakan masih terlalu dini untuk menganalisis situasi dan dampak langkah Wagner di Rusia.
Menurut Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna, negara-negara Baltik harus mengedepankan langkah-langkah memperkuat kapasitas pertahanannya maripada mengurusi masalah dalam negeri Rusia.
Namun, Menteri Luar Negeri Lithuania Gabrielus Landsbergis mencermati bahwa perkembangan yang terjadi di Rusia akhir pekan lalu telah menunjukkan betapa cepatnya ancaman yang ditimbulkan Moskow terhadap negara-negara tetangganya.
Perselisihan antara Wagner dan Kremlin terjadi ketika Wagner menuding Kementerian Pertahanan Rusia menyerang petempur-petempurnya.
Pemimpin Wagner, Yevgeny Prigozhin, pun memerintahkan pasukannya untuk melintasi perbatasan Ukraina-Rusia menuju kota Rostov-on-Don di Rusia, dan mengerahkan kelompok tentara bayaran itu bergerak menuju Moskow.
Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) mengatakan tindakan Wagner adalah "pemberontakan bersenjata". Mereka membuka kasus kriminal terhadap Prigozhin.
Akan tetapi sebelum tiba di Moskow, Prigozhin dan para petempurnya memutuskan mundur "untuk menghindari pertumpahan darah".
Pada Senin (26/6), Prigozhin mengklaim tidak berencana menggulingkan pemerintah Rusia karena hanya ingin "menyuarakan protes" dan mencegah tentara bayarannya dibubarkan.
Dia mengatakan Kementerian Pertahanan Rusia berencana menandatangani kontrak dengan semua petempur Wagner pada 1 Juli.
Langkah itu bakal menjadikan Wagner menjadi bagian tentara reguler Rusia yang dinilainya "bakal menghancurkan kemampuan tempur pasukan ini."
Sumber: Anadolu
Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polandia tambah pasukan jadi 10.000 orang ke perbatasan dengan Belarus
12 August 2023 5:22 WIB, 2023
Wagner dan retaknya lingkaran terdalam kekuasaan Presiden Rusia Vladimir Putin
28 June 2023 19:17 WIB, 2023
Uni Eropa beri sanksi Grup Wagner terkait pelanggaran HAM di Afrika
26 February 2023 15:19 WIB, 2023