Makassar (ANTARA Sulsel) - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Anak (P2TP2A) Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) memberdayaan kelompok pendamping dan tim pemantau untuk meminimalisir tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mencapai 48 kasus pada 2013.

"Kelompok pendamping dan pemantau ini akan membantu mengakomodir laporan-laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak," kata Sekretaris P2TP2A Parepare Nila Andi Ridha menanggapi upaya yang dilakukan di wilayah kerjanya, Jumat.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya bersama pendamping dan pemantau juga akan difasilitasi untuk pelayanan kesehatan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan seperti penyediaan data dan informasi, konseling terapi psikologi medis, pendidkan, pelatihan, serta pendampingan yang tidak putus.

"Setiap laporan dan aduan yang kami terima, terlebih dulu kita rujuk ke tim konselor yang telah terlatih, minimal menghilangkan trauma korban kekerasan. Ada proses selama pendampingan dilakukan" katanya.

Dalam menjalankan pendampingan, diantaranya melibatkan sejumlah divisi yang telah dibentuk, diantaranya divisi Pengaduan dan Pendampingan, divisi Kesehatan dan Konseling, divisi Rehabilitasi Sosial, Pemulangan dan Reintegrasi, divisi Bantuan dan Pendampingan Hukum serta Divisi Kerja sama, Pengembangan dan Pendidikan.

Sementara itu Hj Halijah H SE, Kabid Pemberdayaan Perempuan Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Parepare yang berkolabirasi dengan P2TP2A, secara terpisah mengatakan, dalam setahun setidaknya terjadi sekitar 48 kasus kekerasan perempuan dan anak yang diterima pihaknya melalui P2TP2A.

"Angka tersebut terbilang tinggi untuk ukuran Parepare yang masuk dalam kategori kota kecil," jelasnya.

Dia mengatakan, untuk kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan yang dialami perempuan maupun anak.

Pihaknya bersama P2TP2A terus berupaya melakukan pendampingan, selain menggencarkan sosialisasi agar masyarakat secara luas semakin mamahami dan mendukung kampanye perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Dengan menfasilitasi seluruh tim melalui pelatihan, dia berharap seluruh perempuan dan anak di Parepare yang menjadi korban kekerasan dapat didampingi hingga seluruh traumanya hilang dan bangkit kembali menjalani hidup. IK Sutika