Saving Bond Ritel Diperkenalkan di Makassar
Jumat, 18 April 2014 16:35 WIB
Saving Bond Ritel (FOTO/Agus Setiawan)
Makassar (ANTARA Sulsel) - Direktorat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan memperkenalkan instrumen investasi Saving Bond Ritel (SBR) Seri SBR001 tahun 2014 kepada masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan.
Sosialisasi pre-marketing SBR tahun 2014 di Makassar, Jumat, dengan menghadirkan Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto dan Kepala Seksi Pengembangan Instrumen dan Basis Investor Direktorat Utang Negara Kementerian Keuangan, Anton Fairdian.
Anton mengatakan SBR merupakan obligasi negara untuk investor ritel dengan karakteristik tidak dapat diperdagangkan, kupon mengambang, minimum pembelian Rp5 juta maksimal Rp5 miliar dan tidak ada potensi capital gain.
"SBR 2014 akan diterbitkan Mei 2014 dengan masa penawaran 2 Mei hingga 22 Mei. SBR bisa dibeli 21 agen perbankan dan sekuritas. Sejumlah agen diantaranya BCA, Citybank, BNI, ANZ, Bank Danamon, Standart Chartered Bank, BII, Bank Panin dan lainnya," katanya.
Anton mengatakan keuntungan dari SBR yakni kupon dan pokok dijamin undang-undang, kupon mengikuti perkembangan suku bunga di pasar, kupon lebih tinggi dari tingkat bunga penjaminan LPS dan rata-rata tingkat bunga deposito bank BUMN, jaminan kupon minimal (fluor rate) sampai dengan jatuh tempo dan tidak ada batasan kupon maksimal.
"Pada umumnya resiko umum pada instrumen investasi adalah resiko gagal bayar, sedangkan SBR bebas resiko gagal bayar, pokok tidak terpengaruh resiko pasar namun tingkat kupon mengikuti tingkat bunga pasar. SBR tidak likuid karena tidak diperdagangkan," katanya.
Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto mengatakan SBR sebenarnya seperti tabungan namun return-nya lebih besar.
"SBR menawarkan kupon yang kompetitif dibandingkan dengan produk tabungan. Keamanan SBR sama dengan ORI atau SR, SBR dijamin pemerintah. Resiko default sama dengan nol. Nilai pokok investasinya tidak pernah berkurang," katanya.
Sedangkan tax benefit, ujar Handy, sama dengan ORI, pajak bunga SBR hanya 15 persen lebih rendah dibandingkan dengan deposito, sedangkan satu-satunya resiko investor harus menunggu hingga jatuh tempo untuk mendapatkan dananya. T Susilo
Sosialisasi pre-marketing SBR tahun 2014 di Makassar, Jumat, dengan menghadirkan Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto dan Kepala Seksi Pengembangan Instrumen dan Basis Investor Direktorat Utang Negara Kementerian Keuangan, Anton Fairdian.
Anton mengatakan SBR merupakan obligasi negara untuk investor ritel dengan karakteristik tidak dapat diperdagangkan, kupon mengambang, minimum pembelian Rp5 juta maksimal Rp5 miliar dan tidak ada potensi capital gain.
"SBR 2014 akan diterbitkan Mei 2014 dengan masa penawaran 2 Mei hingga 22 Mei. SBR bisa dibeli 21 agen perbankan dan sekuritas. Sejumlah agen diantaranya BCA, Citybank, BNI, ANZ, Bank Danamon, Standart Chartered Bank, BII, Bank Panin dan lainnya," katanya.
Anton mengatakan keuntungan dari SBR yakni kupon dan pokok dijamin undang-undang, kupon mengikuti perkembangan suku bunga di pasar, kupon lebih tinggi dari tingkat bunga penjaminan LPS dan rata-rata tingkat bunga deposito bank BUMN, jaminan kupon minimal (fluor rate) sampai dengan jatuh tempo dan tidak ada batasan kupon maksimal.
"Pada umumnya resiko umum pada instrumen investasi adalah resiko gagal bayar, sedangkan SBR bebas resiko gagal bayar, pokok tidak terpengaruh resiko pasar namun tingkat kupon mengikuti tingkat bunga pasar. SBR tidak likuid karena tidak diperdagangkan," katanya.
Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto mengatakan SBR sebenarnya seperti tabungan namun return-nya lebih besar.
"SBR menawarkan kupon yang kompetitif dibandingkan dengan produk tabungan. Keamanan SBR sama dengan ORI atau SR, SBR dijamin pemerintah. Resiko default sama dengan nol. Nilai pokok investasinya tidak pernah berkurang," katanya.
Sedangkan tax benefit, ujar Handy, sama dengan ORI, pajak bunga SBR hanya 15 persen lebih rendah dibandingkan dengan deposito, sedangkan satu-satunya resiko investor harus menunggu hingga jatuh tempo untuk mendapatkan dananya. T Susilo
Pewarta : Agus Setiawan
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemendagri berikan penghargaan untuk pemda pengelola keuangan terbaik
17 December 2024 8:38 WIB, 2024
Belanja pemerintah pusat capai Rp2.098,6 triliun hingga November 2024
11 December 2024 20:16 WIB, 2024
Kemenkeu mengklarifikasi pernyataan Wamenkeu Anggito soal mobil Maung
29 October 2024 12:13 WIB, 2024
Gaji ke-13 ASN cair Juni 2024, Kemenkeu menggelontorkan Rp50,8 Triliun dari APBN
27 May 2024 20:36 WIB, 2024
Kementerian BUMN mendukung langkah BPK lanjutkan kasus Indofarma ke Kejagung
21 May 2024 15:45 WIB, 2024
KPK yakin terdakwa Rafael Alun diputus bersalah oleh Pengadilan Tipikor
04 January 2024 12:13 WIB, 2024
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Pertamina Sulawesi klaim salurkan BBM hingga 1.300 KL atasi krisis energi
14 September 2026 16:29 WIB